Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Traveling

2019: Penjelajahan Pemikiran dan Janji Kehidupan pada Huma di Atas Bukit

Awal 2019 ini saya kembali menekuni pertanian. Senang sekali bisa 'pulang ke rumah' :) #1 Hari ini saya sedang sangat gembira sekaligus letih, namun tidak dapat menahan diri untuk berbagi. Kontradiktif e? Ya, saya masih :D Saya ingin sekali menulis banyak hal tentang penjelajahan saya di dunia baru; bidang perkebunan. Juga mengenai perkembangan proyek pertanian sayur saya yang rencana akan dimulai pada Februari mendatang. Beberapa gagasan terkait filmografi, bidang yang belum lama saya tekuni--sedianya akan juga saya bagikan. Sebagai akibat dari kontra kondisi di atas, dalam catatan perdana saya pada 2019 ini, saya bagikan dulu teasernya. Cerita lanjutan segera menyusul. Mungkin akan lewat serial feature ;) Salam Hangat dari Dunia Kecil. Sampai nanti! _pelancong

Selestina

Wanita ini mengenalkan diri sebagai Mama Selestina. Di pulau Flores, para ibu lazim dipanggil 'mama'. Sudah 27 tahun perempuan beranak empat tersebut menggelar barang jualan di pasar. Selestina pernah berpindah-pindah di 2 pasar rakyat lainnya di Kabupaten Sikka hingga akhirnya menambatkan dagangannya di Pasar Alok.

Kemerdekaan Itu Optimisme

Geliat Wisata dalam Festival Tari Etnik di Hewokloang Bagi warga Sikka, ada warna berbeda dalam perayaan 17 Agustus tahun ini. Bila di Kota Maumere Hari Kemerdekaan diperingati dengan monoton lewat lomba Gerak Jalan seperti tahun-tahun sebelumnya, di pelosok kabupaten perayaan tampak lebih semarak. Kecamatan Kangae di timur Kota Maumere menggelar The Voice Kangae. Kompetisi menyanyi yang diadaptasi dari The Voice Indonesia digelar untuk menjaring penyanyi-penyanyi berbakat dari wilayah Kangae. Kontes ini berlangsung tiga malam sejak tanggal 9 hingga 11 Agustus. Sementara itu di pulau Koja Doi, warga merayakannya dengan pentas musik akustik. Acara ini terbilang unik mengingat ia diinsiasi oleh perangkat pemerintah dari wilayah lain. Lurah Friets Agustinus dari Nangameting memboyong Dewata Nangameting Acoustic—group musik milik kelurahan—mementaskan musik untuk warga Lebantour di Koja Doi dan desa-desa lain di sekitar Teluk Maumere. Lain lagi di Kecamatan Hewokloa...

Kenangan Hanya Senilai Display Picture

Coconut Garden Beach Maumere, Flores     “Malam ini mungkin hanya kita berdua saja yang datang ke sini bukan karena tempat, tapi karena kopi” Ruli dan saya saat ini sedang duduk di atas hamparan pasir Coconut Garden Beach. Ia adalah pondok wisata di bibir pantai utara Maumere, Flores. Bagi para pelancong yang singgah di Cape of Flower ini, Coconut Beach dikenal karena arsitekturnya yang didominasi bambu. 'Sufi' Ruli sedang menerawang Saya mengamini kata-kata Ruli. Kami berdua tergelak. Kebanyakan pengunjung datang ke mari karena desain bangunannya yang instagramable . Seperti tiga wanita yang sedang berswafoto di depan kami. Jepret. Jepret. Jepret. Dan tetiba saja ketiganya menghilang. Mungkin mencari spot foto lainnya. Kami berdua anteng saja di atas pasir. Duduk bersila menyesap kopi. Di Maumere kedai kopi belum lagi populer seperti di pulau Jawa. Yang ada adalah warung-warung kopi. Ini menjadi alasan kami ke mari. Berharap kopi di Coconu...

Pertama Kali Snorkeling

  Peralatan menyelam dangkal itu memang bagus sekali. Penampakan bawah laut tampak nyata.   Diving dan snorkeling . Dua jenis wisata bawah air ini makin familiar di kalangan pelancong domestik. Saya kira ini ekses daripada kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Tahun 2013, jumlah kunjungan wisman 6,4 juta. Angka ini melonjak hingga 10 juta kunjungan pada Desember 2015*. Karena sudah cukup populer, wabah diving dan snorkeling sampai juga di Maumere, Flores. Untuk snorkeling (selam permukaan) ini sebetulnya aktifitas penyelaman yang biasa sekali untuk masyarakat Flores. Kami, orang Flores, hidup di pulau di mana laut adalah halaman rumah. Namun hal ini menjadi berbeda bila perkara snorkeling dilakukan sebagaimana semestinya :D :D Omong-omong, hari Minggu kemarin adalah hari yang bersejarah, untuk saya. Minggu 10 April 2016 lepas pukul 16.00 menjadi penanda perkenalan saya dan aktifitas snorkeling yang ker...

Blidit Hot Spring: Sendang Di Tengah Jenggala

Teks: Herman Yoseph Ferdy Foto: Bernard Samalona     Tracking ke Blidit Pandangan mata saya tertuju pada titian di sepanjang batang pohon itu. Para pemburu rupanya baru saja memanen sarang madu hutan dari salah satu dahannya. Tentu saja. Sebab bulan lalu saat saya kemari, sarang lebah itu masih ada. Aktifitas sepanjang minggu ini rasanya cukup melelahkan. Saya kira, piknik di akhir pekan jadi pilihan yang bijaksana. Saya memilih ke pemandian air panas Bidit. Saya suka untuk datang ke tempat ini, terutama bila tubuh terasa pegal. Minggu ini saya datang dengan dua sahabat. Blidit adalah nama desa dimana pemandian air panas ini berada, 27 km ke arah timur dari Maumere. Pemandiannya tersembunyi di tengah hutan. Kendaraan hanya bisa dibawa sampai di perkampungan penduduk. Kami melintas perkebunan mete milik warga setempat yang berbatasan dengan kawasan hutan.

Batik Wair, Kali Pemahat Relief Nan Artistik

Tulisan dan foto: HYF   "Ini jenis batuan tuff ", begitu analisa Franyo, teman seperjalanan saya yang sarjana Geologi. Dari Kota Maumere, k ami telah berkendara sekitar 40 km ke arah selatan dan melanjutkan berjalan kaki 20 menit menyusuri tepi kali Batik Wair ke arah hulu untuk bisa tiba di tempat ini. Selain saya dan Franyo, ada delapan rekan lain yang melancong bersama kami. Cuaca cerah pada Sabtu, 7 Januari itu. Ini hal yang baik sekali, mengingat saat ini sudah musim hujan dan kami, sekali lagi, sedang ada di hulu sungai. Ini tentu berbahaya bila saja hujan lebat tiba-tiba datang. Chen sedang mengamati dinding ngarai Sebagian warga Sikka mengenal Batik Wair yang terletak di desa Lela di pesisir selatan Kabupaten Sikka sebagai nama sebuah kali. Namun di tahun 2015 yang baru kita tinggalkan, tempat ini lebih banyak dikenal oleh banyak warga setelah beberapa pelancong lokal menyebar foto dan cerita di media sosial tentang ngarai kecil di hulu bendungan Bati...

Jalan-Jalan Ke Danau Bowu

Menghabiskan akhir pekan dengan berenang di lautan biru, atau sekedar bermalas-malasan di atas hamparan pasir adalah kegiatan yang biasa bagi umumnya masyarakat Flores. Namun weekend sambil bersantai di atas perahu di tengah danau yang tenang, barbeque ikan air tawar, hmm...itu kemewahan! Danau Bowu. Pinggir danau ini dipagari alang-alang dan barisan pohon kelapa Perjalanan ini bermula saat sebuah pesan singkat masuk di jam 11.36 WITA. Minggu, siang kemarin saya tidak punya rencana kemana-mana sebenarnya. Jadi sejak bangun pagi saya lantas melanjutkannya dengan relaksasi tulang punggung; baring-baring di atas tempat tidur. Hahahah.... Isi pesan itu pendek saja; “Jalan-jalan ko ?” “Kemana?” tanya saya. “Jalan-jalan rewong poi ” balas si pengirim pesan. Dua kata terakhir itu kosakata bahasa daerah Sikka yang kira-kira berarti ‘sembarang saja’. Dalam konteks percakapan ini berarti jalan-jalan tanpa tujuan. Selanjutnya dapat ditebak, seusai membalas “oke”, saya melompat d...
Floresweg Geopeno, Titik Tengah Pulau Flores dan Mitos Perempuan Cantik dan Lelaki Gagah    KM 17 Kabupaten Ende saban tahun mengganggu perlintasan trans Pulau Flores dengan longsornya dinding tebing. Pengguna jalan dipaksa menunggu dalam antrian panjang sementara pekerja konstruksi membereskan tumpahan material longsoran sekira 200 meter di jalanan. Namun, bagi Anda yang pernah melintas disepanjang jalur ini, pernahkah Anda memperhatikan di bibir jalan yang berbatas jurang terdapat sepasang batu besar seukuran lingkar tangan sepuluh orang dewasa? Pada salah satu batu dibuatkan prasasti yang menggurat kata "Floresweg Geopeno" bertanggal 31 Agustus 1925. Seorang teman saya menutur prasasti itu dibuat oleh pemerintah kolonial Belanda pada saat pengerjaan jalur jalan ini untuk menandai titik tengah Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Batu raksasa di bahu jalan KM 17 Kabupaten Ende. Pada satu sisi batu terdapat prasasti "Floresweg Geopeno". Kon...

A Moment To Remember; Bertani Sayur

  Sayur sawi kami (20 September 2014) Ingatan saya memang parah soal tanggal dan waktu. Begitu juga dengan nama; nama orang, nama tempat.. Nah mempertimbangkan hal-hal itu, saya buat posting screenshoot periode dalam hidup saya yang sempat terdokumentasi di facebook ke blog ini. Periode ketika saya bersama teman-teman karib membuat kebun sayur di tahun 2014 lalu. Jangan tanyakan ke saya sejak kapan hingga kapan kami bertani sayur di kebun 20x30 meter itu. Saya lupa!!! Hahahahah.... Namun saya masih ingat, kami membuat 8 bedeng di kebun itu. Setiap bedeng ukurannya 1x10 meter. Kami tanami sayur kangkung dan sawi putih. Jarak antarlubang 15x15 cm.  Saya juga masih ingat perasaan itu; saya sangat menikmati menjadi petani. Merawat sayur itu sebuah proses memupuk kesabaran. Sebuah perjalanan menggembleng kebijaksanaan di dalam diri. Momen ketika menanam sayur jam 5 sore hari, atau ketika bangun pagi jam 6 untuk menyiram sayur, atau ketika jam 3 sore kami m...

BTN Kelimutu Dari Sudut Yang Jarang Dipandang

Ende, 1 Oktober 2014 Saya pernah mendengarkan bisikan seseorang kepada temannya, "everybody wants to come to Jogja"_menjelaskan tetang bagaimana Kota Pelajar itu menjadi magnet bagi banyak orang. Layaknya Jogja, Balai Taman Nasional (BTN) Kelimutu, Kabupaten Ende, NTT telah menjadi destinasi wisata buat banyak orang di luar sana, selain tentunya pengunjung dari Flores sendiri. Para turis ingin menyaksikan sendiri cerita yang telah mereka dengar tentang tiga kawah danau yang warnanya selalu berubah - ubah. Dinding pembatas kawah makin menipis Sudut Pandang Mengabadikan kenangan jadi salah satu tujuan orang ke tempat wisata; memotret. Namun sudah ada begitu banyak foto tetang Kelimutu. Saya memilih memotret subyek yang selama ini tidak melekat ke benak saya, dan benak banyak orang (mungkin) berkaitan dengan danau tiga warna itu. Tetang dinding pembatas antar kawah yang makin hari makin tipis, tetang pohon - pohon tinggi menjulang yang membangun atsmofer sepert...