Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Flores

Pertama Kali Snorkeling

  Peralatan menyelam dangkal itu memang bagus sekali. Penampakan bawah laut tampak nyata.   Diving dan snorkeling . Dua jenis wisata bawah air ini makin familiar di kalangan pelancong domestik. Saya kira ini ekses daripada kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Tahun 2013, jumlah kunjungan wisman 6,4 juta. Angka ini melonjak hingga 10 juta kunjungan pada Desember 2015*. Karena sudah cukup populer, wabah diving dan snorkeling sampai juga di Maumere, Flores. Untuk snorkeling (selam permukaan) ini sebetulnya aktifitas penyelaman yang biasa sekali untuk masyarakat Flores. Kami, orang Flores, hidup di pulau di mana laut adalah halaman rumah. Namun hal ini menjadi berbeda bila perkara snorkeling dilakukan sebagaimana semestinya :D :D Omong-omong, hari Minggu kemarin adalah hari yang bersejarah, untuk saya. Minggu 10 April 2016 lepas pukul 16.00 menjadi penanda perkenalan saya dan aktifitas snorkeling yang ker...

Blidit Hot Spring: Sendang Di Tengah Jenggala

Teks: Herman Yoseph Ferdy Foto: Bernard Samalona     Tracking ke Blidit Pandangan mata saya tertuju pada titian di sepanjang batang pohon itu. Para pemburu rupanya baru saja memanen sarang madu hutan dari salah satu dahannya. Tentu saja. Sebab bulan lalu saat saya kemari, sarang lebah itu masih ada. Aktifitas sepanjang minggu ini rasanya cukup melelahkan. Saya kira, piknik di akhir pekan jadi pilihan yang bijaksana. Saya memilih ke pemandian air panas Bidit. Saya suka untuk datang ke tempat ini, terutama bila tubuh terasa pegal. Minggu ini saya datang dengan dua sahabat. Blidit adalah nama desa dimana pemandian air panas ini berada, 27 km ke arah timur dari Maumere. Pemandiannya tersembunyi di tengah hutan. Kendaraan hanya bisa dibawa sampai di perkampungan penduduk. Kami melintas perkebunan mete milik warga setempat yang berbatasan dengan kawasan hutan.

Endi Paji, Kesetiaan Merawat Sejarah

Sepanjang tiga dekade terakhir, Endi Paji (52 tahun) telah mendedikasikan hidupnya untuk mengelola museum Ledalero. Profesinya dikenal sebagai kurator. "Tulis saja saya staf. Kurator itu ada sekolahnya", tutur Om Endi. ***** Museum Ledalero, 17 km selatan Kota Maumere, NTT menyimpan berbagai benda bersejarah dari pulau Flores. Oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Sikka, museum ini ditetapkan sebagai salah satu destinasi pariwisata Sikka.

Merenda Masa Depan Generasi Prestasi

Laporan Liputan SMATER Science And English Competition 2016 Antar SMP Se-NT Teks & Foto: HYF Mendung menggelayut di langit Kota Maumere beriring dengan rintik hujan lepas pukul 10.00 WITA, Jumat 18 Maret lalu. Aura kelabu itu kontras dengan suasana di bawah tenda halaman tengah SMATER Maumere. Riuh tepuk tangan ratusan siswa dan guru menggemakan semangat. Hari itu adalah pembukaan “Science And English Competition 2016 Antar SMP se-NTT”.    Seragam aneka warna para siswa SMP dari berbagai daerah di NTT berbaur di bawah tenda di halaman tengah Sekolah Menengah Atas Swasta Katolik Frater (SMATER) Maumere. Putih-Biru dan Safari. Ada juga Batik. Sejak awal panitia telah menyusun aneka piala di sebuah podium di samping panggung utama. Seolah menunjukan kepada setiap kontestan untuk berlomba memenangkan dan membawa pulang sebanyak-banyaknya. Perlombaan ini juga memperebutkan total hadiah Rp 45.000.000,-. Selepas seremoni pembukaan, keriuhan itu usai dan suasana pe...

Batik Wair, Kali Pemahat Relief Nan Artistik

Tulisan dan foto: HYF   "Ini jenis batuan tuff ", begitu analisa Franyo, teman seperjalanan saya yang sarjana Geologi. Dari Kota Maumere, k ami telah berkendara sekitar 40 km ke arah selatan dan melanjutkan berjalan kaki 20 menit menyusuri tepi kali Batik Wair ke arah hulu untuk bisa tiba di tempat ini. Selain saya dan Franyo, ada delapan rekan lain yang melancong bersama kami. Cuaca cerah pada Sabtu, 7 Januari itu. Ini hal yang baik sekali, mengingat saat ini sudah musim hujan dan kami, sekali lagi, sedang ada di hulu sungai. Ini tentu berbahaya bila saja hujan lebat tiba-tiba datang. Chen sedang mengamati dinding ngarai Sebagian warga Sikka mengenal Batik Wair yang terletak di desa Lela di pesisir selatan Kabupaten Sikka sebagai nama sebuah kali. Namun di tahun 2015 yang baru kita tinggalkan, tempat ini lebih banyak dikenal oleh banyak warga setelah beberapa pelancong lokal menyebar foto dan cerita di media sosial tentang ngarai kecil di hulu bendungan Bati...

Bank Sampah Flores, Maumere

Komitmen Zero Waste dan Pemberdayaan Kaum Difable Deklarasi dan solusi "Sikka Sadar Sampah: Rduce, Reuse, Recycle Menuju Sikka Adipura, 21 Februari 2015 Pantai Paris-Maumere, 14 Desember 2015. Semenit lagi jam 5 sore. Oma Wati baru saja selesai menyimpan sisa potongan kain, gunting dan bungkus mie instan yang tadinya berada di atas mesin jahit manual itu. “Saya biasanya berhenti jam setengah lima, tetapi maunya cepat selesai (menjahit tas belanja)”. Nyatanya kantong belanja itu tidak dapat diselesaikan, “saya kaget sudah jam lima”, begitu kata Oma Wati. Lelah wanita paruh baya itu terbayar sudah. Nyatanya hari ini satu tas dan satu dompet wanita selesai dikerjakan. Tidak dengan Paulus, jongkok di bawah rumpun pohon koli (lontar, red) mengerjakan proyek aquaponic rupanya mengalih perhatiannya dari langit yang mulai muram. Memang belum jam 6 sore, namun awan cumulus terus datang beberapa hari terakhir. Sudah musim hujan. “Bapa bule saya pulang du...

Pengembangan Hybrid Engineering di Pantai Paris, Kabupaten Sikka:

Bekerja Dengan Alam, Menyelamatkan Ekosistem Kawasan Pesisir Pantai  Pesisir utara wilayah Kabupaten Sikka pada dalam dua dasawarsa terakhir--selepas bencana tsunami 12 Desember 1992--menghadapi peningkatan abrasi. Dampak dari pada abrasi ini seperti dapat disaksikan adalah berkurangnya daratan dan meningkatnya resiko bencana terutama bagi penduduk di kawasan pesisir pantai.   Kawasan pengembangan hybrid engineering di Pantai Paris-Lokaria, Kabupaten Sikka di dalam area sekitar 600 m 2 Dahulu ramah hembusan angin melambaikan nyiur di sepanjang kawasan ini seperti disyairkan oleh Daniel Woda Palle, Bupati Sikka Tahun 1977-1988 dalam lagu "Maumere Manise". Sekarang tak berlaku lagi. Angin adalah momok yang menakutkan. Angin topan yang biasa terjadi pada bulan Februari - Maret di wilayah pantai utara seringkali memicu gelombang pasang yang kemudian menghantam pantai dan mengakibatkan erosi dan abrasi. Berikut rangkuman berita terkait gelombang pasang ...

Pesta Sambut Baru Orang Sikka, Dulu Dan Sekarang

Sumber Foto: www.inimaumere.com “Setelah keluar misa, mereka yang sambut baru bersama bapa-mama atau orang yang mendampingi, ikut rumah anak sambut baru yang paling ujung kampung, makan rame-rame dari rumah anak sambut baru yang pertama sampai terakhir. Orang siapkan makanan seadanya. Lalu seluruh anak yang sambut baru, termasuk yang rumahnya sudah dikunjugi, berpindah ke rumah lainnya, diiringi oleh musik suling. Gong waning tidak ada. Tidak ada undangan. Poi te ita e orit  (hanya kita di dalam rumah)” Begitulah penjelasan yang saya dapatkan dari Maria Kristina ihwal pesta sambut baru di Maumere sekitar tahun 1960an. Wanita paruh baya ini adalah seorang ibu rumah tangga. Lahir dan besar di Desa He’o, Kecamatan Hewokloang, dia kemudian hijrah ke Kota Maumere untuk   belajar di Sekolah Menengah Kesejahteraan Keluarga Maumere. Ibu dari enam putera-puteri ini sempat mengajar di SMP Renha Rosari Kewapante sebelum kemudian memutuskan berhenti. Saat ini Ibu Kristi...
Floresweg Geopeno, Titik Tengah Pulau Flores dan Mitos Perempuan Cantik dan Lelaki Gagah    KM 17 Kabupaten Ende saban tahun mengganggu perlintasan trans Pulau Flores dengan longsornya dinding tebing. Pengguna jalan dipaksa menunggu dalam antrian panjang sementara pekerja konstruksi membereskan tumpahan material longsoran sekira 200 meter di jalanan. Namun, bagi Anda yang pernah melintas disepanjang jalur ini, pernahkah Anda memperhatikan di bibir jalan yang berbatas jurang terdapat sepasang batu besar seukuran lingkar tangan sepuluh orang dewasa? Pada salah satu batu dibuatkan prasasti yang menggurat kata "Floresweg Geopeno" bertanggal 31 Agustus 1925. Seorang teman saya menutur prasasti itu dibuat oleh pemerintah kolonial Belanda pada saat pengerjaan jalur jalan ini untuk menandai titik tengah Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Batu raksasa di bahu jalan KM 17 Kabupaten Ende. Pada satu sisi batu terdapat prasasti "Floresweg Geopeno". Kon...