Langsung ke konten utama

Pertama Kali Snorkeling

 

Peralatan menyelam dangkal itu memang bagus sekali. Penampakan bawah laut tampak nyata.

 

Diving dan snorkeling. Dua jenis wisata bawah air ini makin familiar di kalangan pelancong domestik. Saya kira ini ekses daripada kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Tahun 2013, jumlah kunjungan wisman 6,4 juta. Angka ini melonjak hingga 10 juta kunjungan pada Desember 2015*. Karena sudah cukup populer, wabah diving dan snorkeling sampai juga di Maumere, Flores.

Untuk snorkeling (selam permukaan) ini sebetulnya aktifitas penyelaman yang biasa sekali untuk masyarakat Flores. Kami, orang Flores, hidup di pulau di mana laut adalah halaman rumah. Namun hal ini menjadi berbeda bila perkara snorkeling dilakukan sebagaimana semestinya :D :D

Omong-omong, hari Minggu kemarin adalah hari yang bersejarah, untuk saya. Minggu 10 April 2016 lepas pukul 16.00 menjadi penanda perkenalan saya dan aktifitas snorkeling yang keren ini. Lantaran kemarin, untuk pertama kali sepanjang hayat saya menyelam dengan masker, snorkel dan kaki katak. Hahahah



Berenang dan menyelam memang bukan hal baru. Sejak kecil laut adalah tempat bermain, setidaknya dalam radius 3 meter dari bibir pantai :D :D Saya ingat, sepanjang tahun 2012 hampir setiap hari saya ‘mandi’ di laut bersama teman-teman. Namun waktu itu, tentu saja kami tidak menggunakan peralatan seperti kaca mata, alat bantu pernapasan dan kaki katak. Terbayang pun saya kira tidak.

Jadi, kemarin itu saya serasa jadi anak kecil lagi. Semangat sekali berenang hilir mudik; ke tengah 7 meter lalu mudik ke tepi. ;) Pernapasan tentu sudah terbantu dengan snorkel. Tubuh juga tidak cepat lelah berkat kaki katak. Namun karena sejak kecil saya tidak terlatih (baca: takut) berenang di perairan yang dalamnya 3 jengkal di atas kepala, jadinya terbawa terus hingga sekarang.

Peralatan menyelam dangkal itu memang bagus sekali. Penampakan bawah laut tampak nyata. Terumbu karang dan ikan (juga bulu babi/echinoidea) kelihatan dengan jelas. Kami menyelam di perairan Kewapante-sekitar Hotel Sao Wisata, 9 km dari Maumere. Kawasan pantai ini pernah punya nama hingga ke manca negara berkat event underwater photography pada 1989. Bencana tsunami 12 Desember 1992 meluluhkan sebagian terumbu karang juga mengubur kejayaannya dua dekade belakangan**.

Dua hal yang sedikit menggelikan kemarin. Ini soal pipa snorkel. Pertama, saya tidak nyaman dengan bagian karet pelindung mulut. Karet itu kan dilekatkan di gusi, persis seperti pelindung mulut petinju. Aneh saja rasanya sesuatu terus mengganjal di dalam mulut selama menyelam :D :D

Satu lagi: saya beberapa kali tersedak air laut. Iya! Air laut itu masuk lewat pipa pernapasan: saya menyelam terlampau dalam, jadinya ujung pipa yang mestinya muncul di permukaan ikut tenggelam! Haaaah...pemula.... Hahahah.

Saya perlu sampaikan banyak terima kasih untuk Elry, Ryan Mirong, David Gomez, dan NDop. Minggu depan ajak saya lagi, gaes. Hahahahahaha



NB: Ryan, beli kamera bawah air su. Nanti saya bantu foto kasi
Tidak ada foto untuk ditampilkan, malangnya.


Pranala:

 

*http://www.antaranews.com/berita/528492/pariwisata-indonesia-terus-tumbuh-tahun-ke-tahun 

**http://pariwisata.sikkakab.go.id/berita-teluk-maumere-keindahan-bawah-laut-yang-ditinggalkan-gempa-dan-tsunami.html




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Merenda Masa Depan Generasi Prestasi

Laporan Liputan SMATER Science And English Competition 2016 Antar SMP Se-NT Teks & Foto: HYF Mendung menggelayut di langit Kota Maumere beriring dengan rintik hujan lepas pukul 10.00 WITA, Jumat 18 Maret lalu. Aura kelabu itu kontras dengan suasana di bawah tenda halaman tengah SMATER Maumere. Riuh tepuk tangan ratusan siswa dan guru menggemakan semangat. Hari itu adalah pembukaan “Science And English Competition 2016 Antar SMP se-NTT”.    Seragam aneka warna para siswa SMP dari berbagai daerah di NTT berbaur di bawah tenda di halaman tengah Sekolah Menengah Atas Swasta Katolik Frater (SMATER) Maumere. Putih-Biru dan Safari. Ada juga Batik. Sejak awal panitia telah menyusun aneka piala di sebuah podium di samping panggung utama. Seolah menunjukan kepada setiap kontestan untuk berlomba memenangkan dan membawa pulang sebanyak-banyaknya. Perlombaan ini juga memperebutkan total hadiah Rp 45.000.000,-. Selepas seremoni pembukaan, keriuhan itu usai dan suasana pe...

Endi Paji, Kesetiaan Merawat Sejarah

Sepanjang tiga dekade terakhir, Endi Paji (52 tahun) telah mendedikasikan hidupnya untuk mengelola museum Ledalero. Profesinya dikenal sebagai kurator. "Tulis saja saya staf. Kurator itu ada sekolahnya", tutur Om Endi. ***** Museum Ledalero, 17 km selatan Kota Maumere, NTT menyimpan berbagai benda bersejarah dari pulau Flores. Oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Sikka, museum ini ditetapkan sebagai salah satu destinasi pariwisata Sikka.
"Membaca tidak cukup dengan membayangkan. Membaca hingga dapat mencecap (rasa di dalam tulisan)". Begitu kata teman saya pada satu malam di bulan Februari lalu. Saya tidak cukup paham bagaimana sensasi membaca seperti itu, hingga kemudian saya mengecap manisnya artikel ini :)   Di Bawah Bayang-bayang Gunung Ramelau Terima kasih Om Matheos Messakh. Tulisan yang baik sekali.