Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2016

Blidit Hot Spring: Sendang Di Tengah Jenggala

Teks: Herman Yoseph Ferdy Foto: Bernard Samalona     Tracking ke Blidit Pandangan mata saya tertuju pada titian di sepanjang batang pohon itu. Para pemburu rupanya baru saja memanen sarang madu hutan dari salah satu dahannya. Tentu saja. Sebab bulan lalu saat saya kemari, sarang lebah itu masih ada. Aktifitas sepanjang minggu ini rasanya cukup melelahkan. Saya kira, piknik di akhir pekan jadi pilihan yang bijaksana. Saya memilih ke pemandian air panas Bidit. Saya suka untuk datang ke tempat ini, terutama bila tubuh terasa pegal. Minggu ini saya datang dengan dua sahabat. Blidit adalah nama desa dimana pemandian air panas ini berada, 27 km ke arah timur dari Maumere. Pemandiannya tersembunyi di tengah hutan. Kendaraan hanya bisa dibawa sampai di perkampungan penduduk. Kami melintas perkebunan mete milik warga setempat yang berbatasan dengan kawasan hutan.
Melewati area persawahan acap kali ingatan saya terhubung kepada Opa Franky Sahilatua dan lagu-lagu baladanya. **** Kemarin saya ke Desa Kolisia, 24 km dari barat laut Kota Maumere. Para petani tengah memisah batang padi dengan bulirnya. Beramai-ramai. Lelaki dan perempuan. **** Tahun ini panenan gagal", dari tengah kelompok itu kata seorang dari tengah kumpulan itu. ****  
Saya lebih memilih hidup di kota kecil. Saat malam, seperti saat ini, saya dapat dengan tenang menyusuri jalan-jalan kota, merenung. Sesekali berhenti, mengamati langit yang berpupur bintang. Ini sudah sebuah wisata. _pelancong  9 April 2016 Ini foto di Bukit Salib-Magepanda, Kabupaten Sikka, Agustus 2013. Saat itu saya bersama Kk Alfons Hillari sedang 'tertular virus' memotret Bimasakti. Mas Widhi Bek adalah dalang dibalik semua itu :D :D Makasih Mas Wid :)

Almanak Konvensional di Abad Digital

Teknologi boleh bergerak maju. Tetapi manusia yang menentukan; ikut bergerak atau tinggal di tempat.   Jelang tengah malam 12 Mei kemarin, saya bertandang ke tempat Frid Ehak. Ini lawatan rutin,  sekedar bercengkerama sebelum pulang memeluk bantal guling. ( Beberapa teman kami yang sudah menikah lebih beruntung. Mereka pulang memeluk kekasih ). Frid ini teman SMP saya. Sekarang dia sudah menjadi pengusaha. Saban hari dia mengurus kios kelontong di bibir jalan Ahmad Yani--persis di samping Patung Teka Iku. Frid sedang duduk di belakang meja kasir. Televisi yang disampirkan di dinding tengah memutar ulang sebuah pertandingan sepak bola. Satu dua orang pembeli menyela pembicaraan tentang teman kami Juni Isnanto. Bapaknya meninggal dua hari yang lalu. Frid masih mencatat agenda kegiatan di kelender konvesional Lantas mata saya menemukan sebuah kalender di dinding kios, di bawah televisi. Saya tersenyum geli begitu melihat banyak coretan di dalam tanggal kalender. D...