Langsung ke konten utama

Almanak Konvensional di Abad Digital

Teknologi boleh bergerak maju. Tetapi manusia yang menentukan; ikut bergerak atau tinggal di tempat.

 

Jelang tengah malam 12 Mei kemarin, saya bertandang ke tempat Frid Ehak. Ini lawatan rutin,  sekedar bercengkerama sebelum pulang memeluk bantal guling. (Beberapa teman kami yang sudah menikah lebih beruntung. Mereka pulang memeluk kekasih). Frid ini teman SMP saya. Sekarang dia sudah menjadi pengusaha. Saban hari dia mengurus kios kelontong di bibir jalan Ahmad Yani--persis di samping Patung Teka Iku.

Frid sedang duduk di belakang meja kasir. Televisi yang disampirkan di dinding tengah memutar ulang sebuah pertandingan sepak bola. Satu dua orang pembeli menyela pembicaraan tentang teman kami Juni Isnanto. Bapaknya meninggal dua hari yang lalu.

Frid masih mencatat agenda kegiatan di kelender konvesional
Lantas mata saya menemukan sebuah kalender di dinding kios, di bawah televisi. Saya tersenyum geli begitu melihat banyak coretan di dalam tanggal kalender. Dulu dengan mudah kita temukan kalender dengan coretan seperti ini.



"Masih ada juga e yang tulis agenda di kalender" kata saya. "Iya, itu saya yang tulis", Frid menyahut. Menurut Frid, dia tidak menulis catatan di kalender handphone atau laptop seperti kebanyakan orang sekarang. Dia pernah punya pengalaman, seluruh catatannya hilang saat laptop rusak.

Wah, Frid, saya kira itu catatan Bapak kamu!

Saya bilang ke Frid, "teman, kita ini hidup di era digital. Orang manfaatkan kemajuan teknologi untuk mudahkan dia punya urusan hidup. Bagaimana kamu masih pilih pake yang jadul seperti ini?"

Frid menanggapi pertanyaan saya dengan satu cerita. Kata Frid, tantenya yang Suster masih mendengar lagu dari kaset pita. Pernah tahun lalu mereka ke Toko Bogadharma mencari album lagu. "Tapi sudah susah mendapat album dalam kaset pita. Bogadharma juga sudah tidak jual lagi kaset (pita)", tutur Frid. Tentu saja, Frid!. Produser musik sudah beralih memproduksi lagu dalam format digital na. Hehehe

Saya merenung. Zaman boleh berubah. Teknologi boleh bergerak maju. Tetapi manusia yang menentukan; ikut bergerak atau tinggal di tempat.

Mungkin saya tidak berbeda dengan Frid. Saat teman-teman kami kiri-kanan dengan motor Vixion atau CBR atau Kawasaki D-Tracker, saya masih setiaaa saja dengan Honda GL 100 keluaran 1985. :D :D

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Merenda Masa Depan Generasi Prestasi

Laporan Liputan SMATER Science And English Competition 2016 Antar SMP Se-NT Teks & Foto: HYF Mendung menggelayut di langit Kota Maumere beriring dengan rintik hujan lepas pukul 10.00 WITA, Jumat 18 Maret lalu. Aura kelabu itu kontras dengan suasana di bawah tenda halaman tengah SMATER Maumere. Riuh tepuk tangan ratusan siswa dan guru menggemakan semangat. Hari itu adalah pembukaan “Science And English Competition 2016 Antar SMP se-NTT”.    Seragam aneka warna para siswa SMP dari berbagai daerah di NTT berbaur di bawah tenda di halaman tengah Sekolah Menengah Atas Swasta Katolik Frater (SMATER) Maumere. Putih-Biru dan Safari. Ada juga Batik. Sejak awal panitia telah menyusun aneka piala di sebuah podium di samping panggung utama. Seolah menunjukan kepada setiap kontestan untuk berlomba memenangkan dan membawa pulang sebanyak-banyaknya. Perlombaan ini juga memperebutkan total hadiah Rp 45.000.000,-. Selepas seremoni pembukaan, keriuhan itu usai dan suasana pe...

Endi Paji, Kesetiaan Merawat Sejarah

Sepanjang tiga dekade terakhir, Endi Paji (52 tahun) telah mendedikasikan hidupnya untuk mengelola museum Ledalero. Profesinya dikenal sebagai kurator. "Tulis saja saya staf. Kurator itu ada sekolahnya", tutur Om Endi. ***** Museum Ledalero, 17 km selatan Kota Maumere, NTT menyimpan berbagai benda bersejarah dari pulau Flores. Oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Sikka, museum ini ditetapkan sebagai salah satu destinasi pariwisata Sikka.
"Membaca tidak cukup dengan membayangkan. Membaca hingga dapat mencecap (rasa di dalam tulisan)". Begitu kata teman saya pada satu malam di bulan Februari lalu. Saya tidak cukup paham bagaimana sensasi membaca seperti itu, hingga kemudian saya mengecap manisnya artikel ini :)   Di Bawah Bayang-bayang Gunung Ramelau Terima kasih Om Matheos Messakh. Tulisan yang baik sekali.