Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Others

Yang Muda Yang Beternak

#Inspirasi Beberapa orang mengajukan pertanyaan kepada saya, "Akel dimana? Di facebook su tida pernah muncul lagi". Memang berapa bulan terakhir Akel dan joke-jokenya yang segar seolah menghilang dari beranda facebook banyak orang. Akel di halaman belakangan rumah Demi menjawab pertanyaan netizen, sore-sore jam 5 (jangan sambil nyanyi o.. Ini bukan lagunya Nyong Franco), saya berkunjung ke rumah pemilik akun facebook @achelldha. Motor ada di depan rumah. Pemiliknya tidak kelihatan. Tuan rumah ternyata sedang di belakang rumah. Duduk merokok di atas kursi malas sembari menjulurkan kedua tungkai kakinya yang panjang. Tehnya tinggal separuh gelas ketika saya bergabung. Ia tengah memperhatikan dua ekor anak ayam yang melangkah tak bertenaga. Halaman belakang 10x13 meter itu riuh dengan suara ayam. "Ayam kecil-kecil banyak ngeri...", saya membuka pembicaraan. "Ada nama semua tu. Hanya muka sama semua jadi kita tidak bisa bedakan", begitu Akel...

Almanak Konvensional di Abad Digital

Teknologi boleh bergerak maju. Tetapi manusia yang menentukan; ikut bergerak atau tinggal di tempat.   Jelang tengah malam 12 Mei kemarin, saya bertandang ke tempat Frid Ehak. Ini lawatan rutin,  sekedar bercengkerama sebelum pulang memeluk bantal guling. ( Beberapa teman kami yang sudah menikah lebih beruntung. Mereka pulang memeluk kekasih ). Frid ini teman SMP saya. Sekarang dia sudah menjadi pengusaha. Saban hari dia mengurus kios kelontong di bibir jalan Ahmad Yani--persis di samping Patung Teka Iku. Frid sedang duduk di belakang meja kasir. Televisi yang disampirkan di dinding tengah memutar ulang sebuah pertandingan sepak bola. Satu dua orang pembeli menyela pembicaraan tentang teman kami Juni Isnanto. Bapaknya meninggal dua hari yang lalu. Frid masih mencatat agenda kegiatan di kelender konvesional Lantas mata saya menemukan sebuah kalender di dinding kios, di bawah televisi. Saya tersenyum geli begitu melihat banyak coretan di dalam tanggal kalender. D...
"Membaca tidak cukup dengan membayangkan. Membaca hingga dapat mencecap (rasa di dalam tulisan)". Begitu kata teman saya pada satu malam di bulan Februari lalu. Saya tidak cukup paham bagaimana sensasi membaca seperti itu, hingga kemudian saya mengecap manisnya artikel ini :)   Di Bawah Bayang-bayang Gunung Ramelau Terima kasih Om Matheos Messakh. Tulisan yang baik sekali.

J.E. Sahetapy Di Mata Saya

J.E. Sahetapy (Sumber: http://3.bp.blogspot.com) Setiap mendengar Prof. Jakob Elfinus Sahetapy bicara di ILC Tv One, beliau selalu sanggup memukau saya. Sahetapy bicara dengan tenang dan runut. Nampak bahwa apa yang beliau katakan telah ditimbang matang-matang. Dipikirkan dengan obyektif, disampaikan dengan jujur, tujuannya mengungkap kebenaran. Bagi saya, J.E. Sahetapy adalah pribadi yang arif. Inilah yang membuat saya penasaran, darimana beliau dapatkan kualitas ini? Tabir itu akhirnya tersingkap Selasa malam (29/9) dalam diskusi berkaitan dengan peristiwa '65 di ILC. Sahetapy katakan, "ketika saya diundang, saya selalu berdoa dalam hati supaya saya bisa membawa kesejukan dan membawa suasana, ya barangkali kurang keras tapi benak kena". Ooh...ternyata kuncinya berdoa. Minta hikmat kebijaksanaan dan berkat dari Yang Maha Kuasa. Terima kasih orang tua untuk pelajaran ini. Terima kasih sudah mengingatkan bangsa ini. Bagi saya, Sahetapy sungguhlah seorang Guru ...

Hikayat Para Nelayan

Seorang tetangga saya; kami memanggil beliau dengan 'Bapa Anton'; telah menjalani pekerjaan sebagai nelayan sejak tahun 1960-an. Bapa Anton adalah orang pertama yang bermukim di Jalan Adisoecipto, belakang kantor Badan Lingkungan Hidup.  Sebetulnya, beliau telah melaut sejak usia 10 tahun bersama sang ayah. Mereka mencari ikan di perairan sekitar Baonarat, Wairhubing.Sejak memiliki keluarga sendiri; anaknya yang pertama lahir di tahun 1970; pria berdarah Palue ini membuat 'basecamp' di pantai sekitar Hotel Permata Sari, Kota Maumere untuk mencari ikan mulai dari Kewapante hingga Nangarasong. Begitu setiap hari. Bertahun - tahun. Selama bekerja sebagai nelayan, Bapa Anton setia menggunakan perahu dayung dan menangkap ikan dengan bubu yang dianyam sendiri. Bubu adalah alat tangkap tradisional semacam kerangkeng yang dianyam dari bambu. Dibutuhkan keterampilan untuk membuatnya. Tak pernah sekali pun dalam pengalamannya berpuluh tahun melaut Bapa Anton mengebom umtuk ...