Langsung ke konten utama

Hikayat Para Nelayan

Seorang tetangga saya; kami memanggil beliau dengan 'Bapa Anton'; telah menjalani pekerjaan sebagai nelayan sejak tahun 1960-an. Bapa Anton adalah orang pertama yang bermukim di Jalan Adisoecipto, belakang kantor Badan Lingkungan Hidup. 


Sebetulnya, beliau telah melaut sejak usia 10 tahun bersama sang ayah. Mereka mencari ikan di perairan sekitar Baonarat, Wairhubing.Sejak memiliki keluarga sendiri; anaknya yang pertama lahir di tahun 1970; pria berdarah Palue ini membuat 'basecamp' di pantai sekitar Hotel Permata Sari, Kota Maumere untuk mencari ikan mulai dari Kewapante hingga Nangarasong. Begitu setiap hari. Bertahun - tahun.

Selama bekerja sebagai nelayan, Bapa Anton setia menggunakan perahu dayung dan menangkap ikan dengan bubu yang dianyam sendiri. Bubu adalah alat tangkap tradisional semacam kerangkeng yang dianyam dari bambu. Dibutuhkan keterampilan untuk membuatnya. Tak pernah sekali pun dalam pengalamannya berpuluh tahun melaut Bapa Anton mengebom umtuk mendapat ikan. Selalu dengan bubu, walau masa penggunaan bubu hanya setahun. Bubu hancur saat musim barat datang.



Saat ini Bapa Anton berusia 70 tahun. Dia tidak lagi melaut pada 2013. Waktu telah merenggut banyak keperkasaanya. Mungkin karena 50an tahun harus mendayung perahu. Ya, ini melelahkan, bukan? Sebenarnya beliau masih sanggup berenang. Tapi nelayan tentu bukan berenang untuk olahraga seperti kebanyakan orang lakukan. :)

Valosh, anak lelakinya yang tertua meneruskan pekerjaan sebagai nelayan setelah kembali dari merantau di Malaysia 2011 silam. Valosh punya dua putra sekarang, Chitos (6 tahun) dan Chiko (3 tahun). Sebenarnya dengan merantau, Valosh mengumpulkan lebih banyak uang. Enam tahun merantau Valosh sudah dapat membangun rumah semi permanen dengan papan jati putih sebagai dinding. Rumah yang bagus. Orang tua memasuki usia senja jadi alasan tunggal Valosh kembali.

Valosh bukan tak sekuat sang ayah sehingga tak sanggup mendayung perahu. Namun tuntutan hidup saat ini lumayan tinggi bagi Valosh dan keluarga. Orang tua yang tak lagi bekerja juga Valosh topang biaya hidup mereka. Chitos sudah duduk di bangku SD. Valosh butuh sarana penangkapan yang lebih baik. Dia berharap memiliki sampan dengan mesin tempel.

Saya mendengar Pemerintah punya progam pengadaan kapal untuk nelayan. Mungkin diantara Sahabat ada yang memiliki informasi memadai tentang ini?

Semoga kiranya kita dapat memberikan solusi untuk para nelayan sepuh seperti Bapa Anton dan nelayan muda seperti Valosh; mereka yang bekerja sungguh dengan cara jujur.



_pelancong
6 Nov 2014
21.17 WITA


NB; pada 13 Januari 2015 saya mendapatkan jawaban untuk berita inihttp://kupang.tribunnews.com/2015/01/12/bantuan-nelayan-di-mauemere-tapi-yang-terima-bukan-nelayan

Saya berani bertaruh, perahu ini terlalu mewah buat pikiran mereka, bahkan hanya untuk diimpikan.
Valosh dan Bapa Anton tidak butuh banyak. Cukup sampan kecil pengganti sampan mereka yang sudah keropos dimakan usia dengan 1 mesin tempel agar peluh tak menetes teralu pagi karena lelah mendayung.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Merenda Masa Depan Generasi Prestasi

Laporan Liputan SMATER Science And English Competition 2016 Antar SMP Se-NT Teks & Foto: HYF Mendung menggelayut di langit Kota Maumere beriring dengan rintik hujan lepas pukul 10.00 WITA, Jumat 18 Maret lalu. Aura kelabu itu kontras dengan suasana di bawah tenda halaman tengah SMATER Maumere. Riuh tepuk tangan ratusan siswa dan guru menggemakan semangat. Hari itu adalah pembukaan “Science And English Competition 2016 Antar SMP se-NTT”.    Seragam aneka warna para siswa SMP dari berbagai daerah di NTT berbaur di bawah tenda di halaman tengah Sekolah Menengah Atas Swasta Katolik Frater (SMATER) Maumere. Putih-Biru dan Safari. Ada juga Batik. Sejak awal panitia telah menyusun aneka piala di sebuah podium di samping panggung utama. Seolah menunjukan kepada setiap kontestan untuk berlomba memenangkan dan membawa pulang sebanyak-banyaknya. Perlombaan ini juga memperebutkan total hadiah Rp 45.000.000,-. Selepas seremoni pembukaan, keriuhan itu usai dan suasana pe...

Endi Paji, Kesetiaan Merawat Sejarah

Sepanjang tiga dekade terakhir, Endi Paji (52 tahun) telah mendedikasikan hidupnya untuk mengelola museum Ledalero. Profesinya dikenal sebagai kurator. "Tulis saja saya staf. Kurator itu ada sekolahnya", tutur Om Endi. ***** Museum Ledalero, 17 km selatan Kota Maumere, NTT menyimpan berbagai benda bersejarah dari pulau Flores. Oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Sikka, museum ini ditetapkan sebagai salah satu destinasi pariwisata Sikka.
"Membaca tidak cukup dengan membayangkan. Membaca hingga dapat mencecap (rasa di dalam tulisan)". Begitu kata teman saya pada satu malam di bulan Februari lalu. Saya tidak cukup paham bagaimana sensasi membaca seperti itu, hingga kemudian saya mengecap manisnya artikel ini :)   Di Bawah Bayang-bayang Gunung Ramelau Terima kasih Om Matheos Messakh. Tulisan yang baik sekali.