Langsung ke konten utama

"Kresek dalam Tas dan Seorang Pemudi"

Saya mengenal seorang pemudi. Dua puluh tiga tahun usianya. Kemana - mana dia dia selalu membawa tas besar. Jangan berpikir tentang tas jinjing merek Prada. Ini hanya sebuah tas panggul. Tas uzur yang sudah jadi beban di punggungnya sejak masih kuliah.

Di dalam tas yg memiliki beberapa kantung itu, pemudi ini menyimpan 1 kresek yang selalu dia bawa serta. Dalam 1 kesempatan bertugas bersama dalam kurun waktu 1 bulan, saya mengamati kebiasaannya yang selalu menyimpan sampah miliknya di kresek itu; bungkusan permen, tisu bekas pakai. Yah, sampah - sampah kecil yang sering kita temui tergeletak begitu saja di jalan.

Dia menyimpan sampah2 miliknya itu. Nanti saat bertemu TPS, dia akan mengeluarkan sesampahan itu dari kresek dalam tas punggung yg selalu dia bawa kemana - mana itu dan dibuangnya di TPS. Kresek kosong bekas menampung sampah dia lipat kecil - kecil, ditaruh di salah satu kantong di dalam tas. Dia pergi meninggalkan Tempat Pembuangan Sementara itu.

Begitulah saya mengamati kebiasaan si pemudi rekan kerja saya dalam 1 bulan kami bertugas.


 _pelancong 19 Januari 2015
19.02 WITA

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Merenda Masa Depan Generasi Prestasi

Laporan Liputan SMATER Science And English Competition 2016 Antar SMP Se-NT Teks & Foto: HYF Mendung menggelayut di langit Kota Maumere beriring dengan rintik hujan lepas pukul 10.00 WITA, Jumat 18 Maret lalu. Aura kelabu itu kontras dengan suasana di bawah tenda halaman tengah SMATER Maumere. Riuh tepuk tangan ratusan siswa dan guru menggemakan semangat. Hari itu adalah pembukaan “Science And English Competition 2016 Antar SMP se-NTT”.    Seragam aneka warna para siswa SMP dari berbagai daerah di NTT berbaur di bawah tenda di halaman tengah Sekolah Menengah Atas Swasta Katolik Frater (SMATER) Maumere. Putih-Biru dan Safari. Ada juga Batik. Sejak awal panitia telah menyusun aneka piala di sebuah podium di samping panggung utama. Seolah menunjukan kepada setiap kontestan untuk berlomba memenangkan dan membawa pulang sebanyak-banyaknya. Perlombaan ini juga memperebutkan total hadiah Rp 45.000.000,-. Selepas seremoni pembukaan, keriuhan itu usai dan suasana pe...

Endi Paji, Kesetiaan Merawat Sejarah

Sepanjang tiga dekade terakhir, Endi Paji (52 tahun) telah mendedikasikan hidupnya untuk mengelola museum Ledalero. Profesinya dikenal sebagai kurator. "Tulis saja saya staf. Kurator itu ada sekolahnya", tutur Om Endi. ***** Museum Ledalero, 17 km selatan Kota Maumere, NTT menyimpan berbagai benda bersejarah dari pulau Flores. Oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Sikka, museum ini ditetapkan sebagai salah satu destinasi pariwisata Sikka.
"Membaca tidak cukup dengan membayangkan. Membaca hingga dapat mencecap (rasa di dalam tulisan)". Begitu kata teman saya pada satu malam di bulan Februari lalu. Saya tidak cukup paham bagaimana sensasi membaca seperti itu, hingga kemudian saya mengecap manisnya artikel ini :)   Di Bawah Bayang-bayang Gunung Ramelau Terima kasih Om Matheos Messakh. Tulisan yang baik sekali.