Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Memoar
Februari datang dengan cepat! Sebuah kabar baik. Dwiwulan pertama tahun 2019 ini, saya sudah menyelesaikan penanaman pohon sengon. Sedikitnya 1.000 pohon sengon sudah berhasil hidup. Di dua lahan dengan kontur berbeda. Hujan yang cukup intens belakangan ini amat membantu adaptasi sengon di media tanam yang baru. Saya sangat gembira! Dalam pekerjaan ini, saya tidak sendiri. Sejak awal saya mendapat dukungan yang kuat dari keluarga. Mereka membantu pembersihan lahan, penanaman dan beberapa detail lainnya. Juga, syukurnya, lingkaran pertemanan saya diisi orang-orang yang mencintai kehidupan. Beberapa adalah petani. Menyebut beberapa nama: Urel, Hando, Bernard dan Tony, mereka membantu saya cukup banyak. Selain lewat kerja tangan, kerja mulut mereka juga turut memeriahkan perjalanan menanam kami. Dari pembicaraan-pembicaraan ringan selama berkebun, saya menyimpan beberapa gagasan penting. Salah satunya seperti terlihat pada poster di samping. (Tentang itu akan saya bicarak...

Tanah Terjanji

Seperti Kanaan bagi Abraham, sekerat surga di pinggang bukit ini adalah Tanah Terjanji saya.  Saya sering membayangkan bisa tinggal di tempat seperti ini: tanah pertanian yang tenang dengan pandangan bebas ke lautan, bersangga di punggung bukit. Tempat dimana bisa membangun rumah, dengan hutan kecil menjadi sekat dunia dalam dan dunia luar. Sebelum hari ini, saya pikir tempat seperti itu hanya ada dalam mimpi-mimpi saya yang absurd. Nyatanya imaji surga kecil ini ada juga di bumi; di Maumere, sebuah kota kecil di belahan timur pulau Flores. Lebih menakjubkan dari yang sanggup saya bayangkan, lanskap disini memberi tambahan bonus; bisa menyaksikan terbit dan tenggelamnya mentari. Saya begitu girang ketika menemukan kawasan ini. Memunggungi bukit, saya menatap laut di bawah sana. Bila saja di tepi pantai itu ada sebuah dermaga kecil, tempat saya bisa menambatkan perahu berlengan ganda. Pastinya menyenangkan, sore hari, selepas mengurus kebun sayur dan buah, saya ...

2019: Penjelajahan Pemikiran dan Janji Kehidupan pada Huma di Atas Bukit

Awal 2019 ini saya kembali menekuni pertanian. Senang sekali bisa 'pulang ke rumah' :) #1 Hari ini saya sedang sangat gembira sekaligus letih, namun tidak dapat menahan diri untuk berbagi. Kontradiktif e? Ya, saya masih :D Saya ingin sekali menulis banyak hal tentang penjelajahan saya di dunia baru; bidang perkebunan. Juga mengenai perkembangan proyek pertanian sayur saya yang rencana akan dimulai pada Februari mendatang. Beberapa gagasan terkait filmografi, bidang yang belum lama saya tekuni--sedianya akan juga saya bagikan. Sebagai akibat dari kontra kondisi di atas, dalam catatan perdana saya pada 2019 ini, saya bagikan dulu teasernya. Cerita lanjutan segera menyusul. Mungkin akan lewat serial feature ;) Salam Hangat dari Dunia Kecil. Sampai nanti! _pelancong

Teologi Budi

Dulu saya cukup sinting untuk bertindak seolah saya adalah pusat alam semesta.  Saya pikir, cerita saya adalah yang terpenting untuk didengarkan semua orang. Masalah saya adalah prioritas untuk ditanggapi siapa pun. Ketika saya bergerak, semua sorot cahaya mengarah pada saya, semua mata tertuju kepada satu titik pandang; saya. Pendeknya, dunia adalah saya dan mimpi-mimpi saya. Orang lain, keseharian mereka--hanyalah figuran dalam lakon hidup saya. Saya kira banyak orang pernah berpikir begitu. Untuk saya sendiri, tentu saja itu adalah cerita lama, ketika hidup seorang anak adalah serial petualangan hingga suatu waktu tiba pada tujuannya; menjadi presiden yang membawa rakyat pada kemakmuran, atau politikus yang memperjuangkan hak-hak rakyat. Bagi kamu, mungkin dokter yang menyelamatkan ribuan nyawa. Waktu memang perlahan memudarkan pikiran kekanak-kanakan tersebut. Lantas, berkat sebuah perjumpaan di tahun 2008, saya lebih mengerti hakikat kehidupan. Bahwa dunia ...

Pamrih

Tidak ada kalimat persetujuan yang keluar dari bibirnya malam itu. Abidin hanya mengulas senyum. Namun kami sama-sama tahu, ia bersedia. Satu langkah maju.