Langsung ke konten utama

Februari datang dengan cepat! Sebuah kabar baik.

Dwiwulan pertama tahun 2019 ini, saya sudah menyelesaikan penanaman pohon sengon. Sedikitnya 1.000 pohon sengon sudah berhasil hidup. Di dua lahan dengan kontur berbeda. Hujan yang cukup intens belakangan ini amat membantu adaptasi sengon di media tanam yang baru. Saya sangat gembira!

Dalam pekerjaan ini, saya tidak sendiri. Sejak awal saya mendapat dukungan yang kuat dari keluarga. Mereka membantu pembersihan lahan, penanaman dan beberapa detail lainnya.

Juga, syukurnya, lingkaran pertemanan saya diisi orang-orang yang mencintai kehidupan. Beberapa adalah petani. Menyebut beberapa nama: Urel, Hando, Bernard dan Tony, mereka membantu saya cukup banyak. Selain lewat kerja tangan, kerja mulut mereka juga turut memeriahkan perjalanan menanam kami.

Dari pembicaraan-pembicaraan ringan selama berkebun, saya menyimpan beberapa gagasan penting. Salah satunya seperti terlihat pada poster di samping. (Tentang itu akan saya bicarakan dalam tulisan tersendiri). Dari cerita-cerita itu kami merencanakan beberapa pekerjaan bersama. Semoga bisa terjawab dalam tahun ini.

Dalam bulan Februari ini pula, saya akan memulai proyek lainnya. Pertanian hidroponik. Semoga bisa berjalan sesuai rencana.

Beberapa orang dilahirkan untuk menjalani pekerjaan besar. Beberapa dilahirkan dengan ambisi besar. Lainnya dilahirkan untuk menjalani kehidupan kecil. Saya berharap, saya bisa masuk kelompok yang terakhir.

Lepas 3 pekan berkebun, saya makin menyadari pertanian adalah dunia yang saya cintai. Bertani menenangkan. Ada perasaan bahagia yang penuh ketika berhasil merawat kehidupan.

Semoga saya bisa menjalani kehidupan sebagai petani di desa di sisa waktu hidup saya. :)


_pelancong

5 Februari 2019

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Merenda Masa Depan Generasi Prestasi

Laporan Liputan SMATER Science And English Competition 2016 Antar SMP Se-NT Teks & Foto: HYF Mendung menggelayut di langit Kota Maumere beriring dengan rintik hujan lepas pukul 10.00 WITA, Jumat 18 Maret lalu. Aura kelabu itu kontras dengan suasana di bawah tenda halaman tengah SMATER Maumere. Riuh tepuk tangan ratusan siswa dan guru menggemakan semangat. Hari itu adalah pembukaan “Science And English Competition 2016 Antar SMP se-NTT”.    Seragam aneka warna para siswa SMP dari berbagai daerah di NTT berbaur di bawah tenda di halaman tengah Sekolah Menengah Atas Swasta Katolik Frater (SMATER) Maumere. Putih-Biru dan Safari. Ada juga Batik. Sejak awal panitia telah menyusun aneka piala di sebuah podium di samping panggung utama. Seolah menunjukan kepada setiap kontestan untuk berlomba memenangkan dan membawa pulang sebanyak-banyaknya. Perlombaan ini juga memperebutkan total hadiah Rp 45.000.000,-. Selepas seremoni pembukaan, keriuhan itu usai dan suasana pe...

Endi Paji, Kesetiaan Merawat Sejarah

Sepanjang tiga dekade terakhir, Endi Paji (52 tahun) telah mendedikasikan hidupnya untuk mengelola museum Ledalero. Profesinya dikenal sebagai kurator. "Tulis saja saya staf. Kurator itu ada sekolahnya", tutur Om Endi. ***** Museum Ledalero, 17 km selatan Kota Maumere, NTT menyimpan berbagai benda bersejarah dari pulau Flores. Oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Sikka, museum ini ditetapkan sebagai salah satu destinasi pariwisata Sikka.
"Membaca tidak cukup dengan membayangkan. Membaca hingga dapat mencecap (rasa di dalam tulisan)". Begitu kata teman saya pada satu malam di bulan Februari lalu. Saya tidak cukup paham bagaimana sensasi membaca seperti itu, hingga kemudian saya mengecap manisnya artikel ini :)   Di Bawah Bayang-bayang Gunung Ramelau Terima kasih Om Matheos Messakh. Tulisan yang baik sekali.