
Tidak ada kalimat persetujuan yang keluar dari bibirnya malam itu. Abidin hanya mengulas senyum. Namun kami sama-sama tahu, ia bersedia.
Satu langkah maju.
**
Kami tiba di rumah Abidin jam 8.08 pagi, Sabtu 23 September 2017. Abidin tengah duduk dengan beberapa orang di serambi rumah. Saya tahu, harusnya lelaki ini sudah di sawah sekarang. Saya minta maaf atas keterlambatan kami.
“Oh ya?”, kata Abidin. “Biasanya kalau orang janji saya jam delapan, mereka datang jam sepuluh.”
Saya mengartikan kalimat Abidin sebagai ‘tak perlu minta maaf’.
**
Kami menyelesaikan pengambilan gambar di sawah jam 11. Saya tak ingin menyita waktu pria ini lebih banyak. Tidak ada kewajiban bagi Abidin untuk menemani kami lebih lama.
"Banyak terima kasih, kami sudah bolah wawancara”, kata saya. “Kalau kakak masih ada pekerjaan, silahkan lanjut."
"Saya tidak ada acara lain".
Sambil menunggu Ruli berburu stok video, Abidin menceritakan seputar seluk beluk bertani padi. Bagaimana menangkar benih, kapan waktu tanam yang tepat, penentuan masa panen hingga pentingnya pengetahuan kolektif tentang penanganan hama. Dalam perjalanan pulang, Abidin menunjukkan kepada kami mana padi yang sehat dan yang bukan. Berikut alasan mengapa. Dengan penjelasan ilmiah.
Nampaknya ia menguasai dengan baik ilmu cocok tanam padi. Hal ini cukup mengagumkan mengingat latar belakang pendidikannya di bidang kelistrikan.
Kami berpisah setelah itu. Ada beberapa narasumber lain yang perlu kami temui. Saya tak kuasa menolak undangan makan siang di rumahnya. "Datang lagi tu. Saya tunggu", pesan Abidin.
**
Sore hari, sambil menyusuri pematang sawah, saya memikirkan kemungkinan untuk memberikan sebagian honor kami kepada Abidin sebagai balas jasa.
Ia telah sangat membantu. Waktu, energi dan materi. Saya mencatat, demi wawancara, hari ini Abidin tidak mengurus sawah. Menunggu jam pengambilan gambar sore, ia mengasupi kami dengan banyak Chicken Soup dari pengalamannya. Istrinya yang tidak banyak bicara hari ini 2 kali menyuguhkan kopi dan makan siang yang lezat.
Tetapi mungkin Dia mendengar pikiran saya. Karena itu, saat kami pamit, Abidin mengeluarkan dari dalam rumahnya sekarung beras 20 kg. “Ini buat oleh-oleh”. Ah, saya tercenung. Seolah-olah Dia mau katakan, “kau tidak percaya kah, ini orang punya pemberian sepanjang hari ini tu tulus? :)
**
“Mungkin kita kurang baik sehingga Dia menunjukkan kepada kita ketulusan orang lain”, renung Ruli memaknai keberuntungan kami hari itu.
**
Terbatasnya lingkaran pergaulan saya beberapa tahun terakhir saya kira sudah membuat saya menjadi materialistis. Berteman dengan orang-orang yang nyaris sama, dengan cara pandang cenderung seragam membuat saya lupa; tidak semua orang bertindak dengan motif mendapat pamrih. Masih banyak orang tulus. :)
-pelancong
Saya mengartikan kalimat Abidin sebagai ‘tak perlu minta maaf’.
**
Kami menyelesaikan pengambilan gambar di sawah jam 11. Saya tak ingin menyita waktu pria ini lebih banyak. Tidak ada kewajiban bagi Abidin untuk menemani kami lebih lama.
"Banyak terima kasih, kami sudah bolah wawancara”, kata saya. “Kalau kakak masih ada pekerjaan, silahkan lanjut."
"Saya tidak ada acara lain".
Sambil menunggu Ruli berburu stok video, Abidin menceritakan seputar seluk beluk bertani padi. Bagaimana menangkar benih, kapan waktu tanam yang tepat, penentuan masa panen hingga pentingnya pengetahuan kolektif tentang penanganan hama. Dalam perjalanan pulang, Abidin menunjukkan kepada kami mana padi yang sehat dan yang bukan. Berikut alasan mengapa. Dengan penjelasan ilmiah.
Nampaknya ia menguasai dengan baik ilmu cocok tanam padi. Hal ini cukup mengagumkan mengingat latar belakang pendidikannya di bidang kelistrikan.
Kami berpisah setelah itu. Ada beberapa narasumber lain yang perlu kami temui. Saya tak kuasa menolak undangan makan siang di rumahnya. "Datang lagi tu. Saya tunggu", pesan Abidin.
**
Sore hari, sambil menyusuri pematang sawah, saya memikirkan kemungkinan untuk memberikan sebagian honor kami kepada Abidin sebagai balas jasa.
Ia telah sangat membantu. Waktu, energi dan materi. Saya mencatat, demi wawancara, hari ini Abidin tidak mengurus sawah. Menunggu jam pengambilan gambar sore, ia mengasupi kami dengan banyak Chicken Soup dari pengalamannya. Istrinya yang tidak banyak bicara hari ini 2 kali menyuguhkan kopi dan makan siang yang lezat.
Tetapi mungkin Dia mendengar pikiran saya. Karena itu, saat kami pamit, Abidin mengeluarkan dari dalam rumahnya sekarung beras 20 kg. “Ini buat oleh-oleh”. Ah, saya tercenung. Seolah-olah Dia mau katakan, “kau tidak percaya kah, ini orang punya pemberian sepanjang hari ini tu tulus? :)
**
“Mungkin kita kurang baik sehingga Dia menunjukkan kepada kita ketulusan orang lain”, renung Ruli memaknai keberuntungan kami hari itu.
**
Terbatasnya lingkaran pergaulan saya beberapa tahun terakhir saya kira sudah membuat saya menjadi materialistis. Berteman dengan orang-orang yang nyaris sama, dengan cara pandang cenderung seragam membuat saya lupa; tidak semua orang bertindak dengan motif mendapat pamrih. Masih banyak orang tulus. :)
-pelancong
Komentar
Posting Komentar