Tadi malam ada kawan mampir di rumah. Kita cerita teputar-putar lalu sampailah pada topik pertanian. Sam teman bilang, "ternyata usaha pertanian punya peluang besar."
"Tapi saya masih ragu," selanjutnya kawan saya bilang, "saya tida tau urusan budidaya. Tida ada modal. Belum lagi kalo tanam banyak, siapa beli?"
Pertanyaan klasik.
--------
Selama pertemanan saya dengan kawan-kawan petani, saya menemukan 3 persoalan yang menjadi keluhan pokok: pengetahuan, modal, dan pasar.
Agak sedih sebenarnya. Bagaimana kita mempunyai modal SDM dan aksesibilitas perbankan di satu sisi, tapi ada kesenjangan pengetahuan di sisi lain.
Sebenarnya di daerah, misalnya di tempat tinggal saya di Kabupaten Sikka, NTT, kita memiliki penyuluh pertanian yang kompeten. Kita juga punya orang-orang hebat di Kebun Percobaan--institusi yang menjadi perpanjangan tangan dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian NTT. Banyak petugas-petugas baik di sana. Dari pengalaman saya, para petugas ini cukup responsif bila dimintai bantuan.
Sayangnya pemerintah kita punya logika sendiri. Belum jelas bagi saya, mengapa penyebaran penyuluh berkompeten tidak merata.
Mari kita kesampingkan soal itu sejenak.
Kalau mau lirik ke swasta, petani juga bisa dapatkan dukungan pengetahuan. Salah satu contoh misalnya melalui Yayasan Bina Tani Sejahtera, lembaga non profit milik perusahaan penyedia benih, PT East West Seed Indonesia. Fasilitatator lembaga ini memberi pendampingan gratis, sepanjang petani membeli bibit dari perusahaan mereka. Di Maumere, lahan pertanian yang sudah berkembang baik lewat pendampingan mereka bisa kita jumpai di sekitar daerah Tilang, Kecamatan Nita.
Sampai di sini saya kira soal akses pengetahuan budidaya terpecahkan.
Sekarang mengenai modal.
Kalau teman-teman tau KUR, jawabannya di situ. Buat kita yang mau bergerak di sektor produktif (pertanian, perikanan, industri pengolahan, konstruksi dan jasa produksi) bisa dapatkan pinjaman sampe 25 juta, tanpa agunan. Yang penting usaha kita sudah berjalan 6 bulan.
Metode pembayarannya juga memudahkan, ada yarnen (bayar waktu panen) dan grace period. Yang terakhir ini maksudnya untuk beberapa waktu, kita cuma mengangsur setengah pinjaman + bunga, atau cuman bunga saja. Tergantung kebijakan banknya juga.
Bagaimana dengan pasar?
Sebenarnya kebutuhan produk pertanian khususnya hortikultura cukup besar. Yang penting kita bisa baca pasar. Untuk memacu semangat kalian, saya paparkan pasar paling menjanjikan.
Mari kita cerita tentang Labuan Bajo.
Seperti kita tau, imbas dari status Labuan Bajo sebagai Destinasi Super Premium (DSP) bikin banyak sekali orang datang ke Labuan. Banyak orang artinya banyak perut yang perlu dikasih makan. Badan Otorita Pariwisata Labuan Bajo Flores (BOPLBF) sadari betul ini. Karena itu mereka bikinkan rantai pasok DSP. (Foto terlampir.)
Mereka sudah undang pemerintah kabupaten sedaratan Flores plus Lembata, Alor, dan Bima. Pemaparannya dilakukan dalam Forum Floratama 2020, Oktober lalu.
Omong kebutuhan pangannya Labuan Bajo ni sadis. Serius. Sa tida mau pake patokan jumlah pengunjung. Kalo mo bikin prognosa kebutuhan horti, hasilnya mungkin tidak bisa dipercaya. Saking besarnya. Mari kita pake hitungan kasar: jumlah hotel. Data 2019, ada 105 hotel di Labuan.
Sekarang kita hitung kebutuhan horti, dari buah-buahan paling receh: pisang. Kita tau kan, pisang selama ini hanya jadi tanaman sela? Petani cuman jadikan tanaman pembatas kebun. Tidak dibudidayakan secara serius.
Padahal pisang kalau mau digarap serius, keuntungannya tidak main-main.
Untuk kasus Labuan Bajo, dengan asumsi 1 hotel ambil 1 tandan per hari, mereka sedikitnya butuh 100 tandan, per hari. Atau 3.000 tandan per bulan. Ini setara dengan produksi 1 hektar lahan selama setahun, kalau kita tanami semuanya dengan pisang.
Artinya, untuk hotel di Labuan saja, mereka butuh 12 hektar lahan pisang yang dikelola berkelanjutan. Ini belum menyertakan perhitungan kebutuhan rumah makan, jasa katering...
Kalau 1 tandan kita rupiahkan dengan 50 ribu, 1 hektar kebun pisang bisa hasilkan 150 juta per tahun. 12,5 juta per bulan. Panen 3 bulan, petani sudah bisa jalan-jalan ke Eropa. 
Ini baru satu komoditas. Belum produk lainnya; tomat, lombok, bawang, timun, brokoli...you name it. Petani tinggal cek daftar kebutuhan pengusaha akomodasi di Labuan, selanjutnya tinggal tentukan, mau budidaya apa.
Buat saya, Labuan Bajo seperti gawang yang kipernya lebih suka kita kasi gol. Silahkan sepak produk pertanian apa saja ke sana, mereka tadah saja. Paling kalo ko su tendang sampe cape, mereka tanya balik, "besok bisa antar dengan volume yang sama?" 
Beberapa waktu lalu, saya ikut pertemuan dengan beberapa pihak. Salah satu diantara keynote speaker adalah pengelola koperasi produksi di Labuan Bajo. Mamtua bilang, masalah logistik di Labuan saat ini adalah kontinuitas produksi dan kualitas. Petani kita belum mampu sediakan pasokan berkualitas sesuai kebutuhan harian di sana.
Simpelnya begini; hari ini petani antar pisang 100 tandan, lalu mereka pulang tunggu tanaman berbuah. Kemudian bulan depannya baru kembali dengan 100 tandan.
Jika kita inginkan rantai distribusi lebih pendek, silahkan berkunjung ke pasar induk. Di Flores, setau saya, selain sayuran--mayoritas produk horti disuplai dari Makasar dan Bima. Pasar masih terbuka lebar untuk petani lokal.
Sampe sini saya kira jelas. Tiga persoalan tadi bisa diatasi. Sekarang tinggal hanya kita tanya diri sendiri, mau tangkap peluang atau tidak. Sambil menanam, petani bisa perbaiki masalah rantai pasok lewat koperasi pertanian.
Kura-kura begitu.***
Komentar
Posting Komentar