Berhadapan dengan masa depan yang begitu menantang, sebagai anak kota terpencil di negeri Timur jauh, sa penasaran pada beberapa hal:
Hidup di NTT yang terpisah di beberapa pulau ini apakah:
2. Mo mimpi apa? Usaha ekstraktif yang fokus pada UMKM pertanian perkebunan dan kelautan mengendepankan kesejahteraan? Ato pariwisata? Wisata macam apa?
3. Fokus pada industri kreatif? Berapa banyak kampus yang su punya industri kreatif masa depan semacam prodi sinematografi, arsi vernakular? Etc
4. Bemana kita berhadapan dengan penyediaan sumber pangan di kala krisis iklim justru menghantam pulau-pulau kecil?
5. Bemana kita bisa menjamin distribusi kekuasaan bisa menyentuh kelompok terpinggir dari masyarakat? Bemana kawan-kawan dengan kebutuhan khusus boleh bebas bertualang karena fasilitas publik su bagus? Bagaimana kelompok terpinggirkan perkotaan boleh akses kemampuan bisnis dan diberikan jejaring dan akses permodalan?
6. Seperti apa rencana kita di NTT untuk mempersempit rasio gini? Biar yang punya aset banyak punya cara hidup tida begitu jomplang dengan yang pra sejatera?
Bagaimana pendidikan menjembatani semuanya?
Bagaiamana hei kau Seminari Hokeng Mataloko Kisol Sinar Buana Oepoi? Bagaimana replikasi pendidikan bagus kalian diterapkan pada komunitas?
Bagaimana pendidikan menjembatani semuanya?
Bagaimana kalian, institut penelitian, sudah berhentikah kalian terbitkan panduan kebijakan?
Bagaimana menyelaraskan masa depan kebudayaan dengan kepentingan ekonomi dan perubahan iklim?
Bisakah tidak, pada poin ke 7 saya berharap:
Perumusan kebijakan bersama antara rakyat NTT yang berdiam dan diasporanya, menyusun mimpi bersama 50 tahunnya berikut rencana aksi periodik? 25 tahun, 10, 5, 1, 4 triwulan; rencana capaian per bulan?
Bisa kah?
Bisakah lebih substansial sa tanya, e kau anak Maumere Waingapu Kupang Sabu Rote Lemba Alor; apakah kau su merasa anak satu kepulauan? Satu Flores Satu Sumba Satu Tor Satu Lembata Satu Rote Satu Sabu Alor Lembata? Satu kebangsaan ysng jika salah satu wilayah bermasalah kita semua bergerak?
8. Sa penasaran bagaimana kita memajukan kebudayaan pada sub sektor lain. Adakah kita berpikir? Apakah kita peduli? Akankah kita mau bergerak?
Jika kamu berpikir dan berniat bertindak, orang tua Tan Malaka su tunjuk dep jalan bemana capai tujuan. Kalau mau, bisa baca.
Semoga
Komentar
Posting Komentar