Langsung ke konten utama

Bermimpi tentang Nusantara dari Nusa Tenggara

 Berhadapan dengan masa depan yang begitu menantang, sebagai anak kota terpencil di negeri Timur jauh, sa penasaran pada beberapa hal:

Hidup di NTT yang terpisah di beberapa pulau ini apakah:
1. Kita punya visi bersama; pada *Nusa Tempat Titipan* ini anak Timor Sabu Rote Sumba Alor Lembata Flores mau titip mimpi apa 10 tahun ke depan? 25 tahun ke depan? 50 tahun ke depan?
2. Mo mimpi apa? Usaha ekstraktif yang fokus pada UMKM pertanian perkebunan dan kelautan mengendepankan kesejahteraan? Ato pariwisata? Wisata macam apa?
3. Fokus pada industri kreatif? Berapa banyak kampus yang su punya industri kreatif masa depan semacam prodi sinematografi, arsi vernakular? Etc
4. Bemana kita berhadapan dengan penyediaan sumber pangan di kala krisis iklim justru menghantam pulau-pulau kecil?
5. Bemana kita bisa menjamin distribusi kekuasaan bisa menyentuh kelompok terpinggir dari masyarakat? Bemana kawan-kawan dengan kebutuhan khusus boleh bebas bertualang karena fasilitas publik su bagus? Bagaimana kelompok terpinggirkan perkotaan boleh akses kemampuan bisnis dan diberikan jejaring dan akses permodalan?
6. Seperti apa rencana kita di NTT untuk mempersempit rasio gini? Biar yang punya aset banyak punya cara hidup tida begitu jomplang dengan yang pra sejatera?
Bagaimana pendidikan menjembatani semuanya?
Bagaiamana hei kau Seminari Hokeng Mataloko Kisol Sinar Buana Oepoi? Bagaimana replikasi pendidikan bagus kalian diterapkan pada komunitas?
Bagaimana pendidikan menjembatani semuanya?
Bagaimana kalian, institut penelitian, sudah berhentikah kalian terbitkan panduan kebijakan?
Bagaimana menyelaraskan masa depan kebudayaan dengan kepentingan ekonomi dan perubahan iklim?
Bisakah tidak, pada poin ke 7 saya berharap:
Perumusan kebijakan bersama antara rakyat NTT yang berdiam dan diasporanya, menyusun mimpi bersama 50 tahunnya berikut rencana aksi periodik? 25 tahun, 10, 5, 1, 4 triwulan; rencana capaian per bulan?
Bisa kah?
Bisakah lebih substansial sa tanya, e kau anak Maumere Waingapu Kupang Sabu Rote Lemba Alor; apakah kau su merasa anak satu kepulauan? Satu Flores Satu Sumba Satu Tor Satu Lembata Satu Rote Satu Sabu Alor Lembata? Satu kebangsaan ysng jika salah satu wilayah bermasalah kita semua bergerak?
8. Sa penasaran bagaimana kita memajukan kebudayaan pada sub sektor lain. Adakah kita berpikir? Apakah kita peduli? Akankah kita mau bergerak?
Jika kamu berpikir dan berniat bertindak, orang tua Tan Malaka su tunjuk dep jalan bemana capai tujuan. Kalau mau, bisa baca.
Semoga

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Merenda Masa Depan Generasi Prestasi

Laporan Liputan SMATER Science And English Competition 2016 Antar SMP Se-NT Teks & Foto: HYF Mendung menggelayut di langit Kota Maumere beriring dengan rintik hujan lepas pukul 10.00 WITA, Jumat 18 Maret lalu. Aura kelabu itu kontras dengan suasana di bawah tenda halaman tengah SMATER Maumere. Riuh tepuk tangan ratusan siswa dan guru menggemakan semangat. Hari itu adalah pembukaan “Science And English Competition 2016 Antar SMP se-NTT”.    Seragam aneka warna para siswa SMP dari berbagai daerah di NTT berbaur di bawah tenda di halaman tengah Sekolah Menengah Atas Swasta Katolik Frater (SMATER) Maumere. Putih-Biru dan Safari. Ada juga Batik. Sejak awal panitia telah menyusun aneka piala di sebuah podium di samping panggung utama. Seolah menunjukan kepada setiap kontestan untuk berlomba memenangkan dan membawa pulang sebanyak-banyaknya. Perlombaan ini juga memperebutkan total hadiah Rp 45.000.000,-. Selepas seremoni pembukaan, keriuhan itu usai dan suasana pe...

Endi Paji, Kesetiaan Merawat Sejarah

Sepanjang tiga dekade terakhir, Endi Paji (52 tahun) telah mendedikasikan hidupnya untuk mengelola museum Ledalero. Profesinya dikenal sebagai kurator. "Tulis saja saya staf. Kurator itu ada sekolahnya", tutur Om Endi. ***** Museum Ledalero, 17 km selatan Kota Maumere, NTT menyimpan berbagai benda bersejarah dari pulau Flores. Oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Sikka, museum ini ditetapkan sebagai salah satu destinasi pariwisata Sikka.
"Membaca tidak cukup dengan membayangkan. Membaca hingga dapat mencecap (rasa di dalam tulisan)". Begitu kata teman saya pada satu malam di bulan Februari lalu. Saya tidak cukup paham bagaimana sensasi membaca seperti itu, hingga kemudian saya mengecap manisnya artikel ini :)   Di Bawah Bayang-bayang Gunung Ramelau Terima kasih Om Matheos Messakh. Tulisan yang baik sekali.