Hari-hari ini imajinasi tentang merayakan hidup tidak lagi milik semua orang. Tapi hanya oleh segelintir orang. Tanyakan mengenai tujuan hidup, jawaban orang-orang akan mengarah kepada bagaimana mendapat uang.
Jika manusia yang hidup 300 tahun lalu boleh datang untuk mengamati kehidupan sekarang, mereka bakal terkagum-kagum dengan teknologi yang kita punya sekaligus bakal terheran-heran bagaimana bisa manusia menjadi budak dari teknologi yang sejatinya diciptakan untuk memudahkan urusan hidup.
Sejak berkembangnya kapitalisme yang ditandai dengan revolusi industri pertama, tampaknya pendidikan formal di banyak negara, apakah ia negara kaya atau negara berkembang--dirancang untuk menghasilkan kelas pekerja.
Dari sekolah dasar sampai universitas, lebih banyak pelajaran tentang bagaimana menjadi pekerja yang baik. Dengan sekolah tinggi, Anda bakal jadi profesional. Sekolah rendah, Anda bakal jadi pekerja kasar. Keduanya sama-sama pekerja atau buruh, hanya sengaja dipisahkan biar buruh di kelompok yang pertama merasa berada di kelas lebih tinggi.
Karena uang menjadi tujuan hidup, orang tua mendoktrin anak-anak mereka supaya, "sekolah tinggi-tinggi, biar bisa dapat kerja yang bagus, dapat uang banyak. Biar tidak menjadi susah seperti kami". Lalu anak-anak jika ditanya cita-citanya apa, mereka menjawab dengan template yang sudah didikte sistem: Mau jadi dokter! Jadi guru! Jadi pilot! Jadi polisi! Jadi politisi!
Sangat sedikit sekolah yang mengajarkan bagaimana menjadi pembelajar kehidupan yang baik. Salah satunya menjadi pembelajar yang baik tentang hakikat uang dan mengelola keuangan. Pada akhirnya sangat sedikit orang yang beruntung itu bisa mendapat kesempatan untuk mengerti dengan betul apa itu uang, mana itu kebutuhan, dan apa itu tujuan hidup. Kelompok kecil yang mendapat pendidikan bagus ini berakhir menjadi pemilik modal.
Sementara untuk kebanyakan orang, dengan menamatkan sekolah formal mereka hanya mampu menguasai keterampilan untuk menjadi pekerja. Sebab sistem pendidikan yang mereka dapatkan telah dirancang agar peserta didiknya cukup punya satu tujuan hidup: bekerja. Mereka tidak diajarkan untung mengerti apa itu uang: biar hidup mereka dikendalikan ketakutan akan uang. Mereka tidak dilatih menentukan kebutuhan: biar hanya punya satu saja kesempatan berpikir merayakan hidup: belanja.
Kelompok kecil pertama menjadi produsen, kelompok yang lebih besar menjadi konsumen. Dengan demikian sistem pendidikan ini telah dengan baik membantu memenuhi tujuan kapitalisme: (isi sendiri).
Sistem pendidikan tampaknya didesain cukup seperti itu. Coba perhatikan, dalam 150 tahun terakhir teknologi sudah berubah sangat signifikan. Bentuk dan fungsi awal motor sepeda pesawat sudah berubah jauh dibanding yang hari ini kita kenal. Tapi pendidikan, dari awal industrialisasi ketika rakyat jelata macam kita diperbolehkan bangsawan untuk sekolah sampai dengan zaman sekarang, modelnya tetap sama. Kurikulumnya itu-itu saja. Yang berubah paling pernak-perniknya saja.
Bahkan ketika sekarang kita Merdeka Belajar pun kita tetap diarahkan untuk belajar menjadi pekerja. Sebab tujuan sistemnya adalah, "Kerja, Kerja, Kerja".
Anda boleh merdeka belajar teknik ini dan itu sembari dipermudah magang di perusahaan ini dan itu. Biar setelah tamat bisa bekerja di perusahaan ini dan itu.
Kesempatan Anda memang meningkat namun balik lagi: model pendidikan Anda sebatas menghasilkan pekerja untuk para founder startup/konglomerat yang mendapatkan model kurikulum pendidikan berbeda.
Masa iya, hidup hari ini yang sudah masuk era robotik, kita masih kerja kerja kerja? Dalam angan-angan utopis kita bisa bilang: otomatisasi saja dunia ini biar manusia bisa bebas!
Pada kenyataannya, kita tidak bisa mengubah sistem. Yang bisa kita ubah adalah diri kita sendiri.
Apa yang bisa dilakukan?
Penting untuk belajar berpikir bebas. Belajar jadi manusia bebas. Termasuk bebas dari ketakutan dan ketamakan akan uang. Penting untuk belajar mengenal diri, belajar mengelola hasrat dan gairah, dan memahami tujuan hidup.
Waktu kita masih muda dan kuat, dan sedang berada di tangga karir dan penghasilan yang bagus, hal-hal di atas tampaknya kesia-siaan--pandangan yang juga dianut kebanyakan generasi pekerja yang sekarang menjelang pensiun atau sudah pensiun.
Namun sebaiknya sempatkanlah berpikir untuk belajar tentang hidup. Termasuk mengelola keuangan. Biar bisa terbebas dari jerat Balapan Tikus yaitu hidup dengan menggali lubang lebih dalam untuk menutup lubang masalah sebelumnya. Belajarlah tentang mengelola keuangan sehingga kita tidak berakhir seperti kebanyakan calon pensiunan dan pensiunan yang hari-hari ini bingung bagaimana menjalani hidup setelah tidak lagi bekerja.
Mereka terlambat belajar keuangan sehingga akhirnya menghabiskan uang pensiunan untuk berjudi menjadi caleg yang peluang menangnya di bawah 10%. Mereka membuka buka bisnis yang pada kebanyakan kasus berakhir gagal, sebab terlambat belajar.
Sejarah peradaban manusia sebelum kapitalisme memang tidak melulu manis seperti penjelasan di atas. Itu adalah penjelasan yang disederhanakan untuk memudahkan penyampaian gagasan. Tapi hidup telah menunjukkan bahwa dengan pikiran bebas memungkinan manusia melakukan yang terbaik dalam hidupnya.
Sempatkanlah belajar terus menerus. Belajar untuk menjadi manusia bebas. Belajar dari mengamati, merasa, mendengar, menonton dan membaca.
Salah satu bacaan bagus yaitu Robert Kiyosaki pu buku, Rich Dad Poor Dad mengajarkan tentang uang dan pengelolaan keuangan. Dengan mengendalikan keuangan, kita bisa terbebas dari jerat ketakutan dan ketamakan pada uang dan bisa fokus mencapai tujuan hidup yang lebih besar.***
Komentar
Posting Komentar