Ada kejadian lucu yang terus berulang setiap siang di perempatan Kantor Pos. Pas lampu merah ko akan liat pengendara bergerombol tunggui pergantian lampu lalu lintas di bawah naungan beringin yang jaraknya 30 meter dari titik lampu. Sementara di dekat perempatan, kendaraan lebih sedikit.
Masalahnya klasik: panas. Tiada pohon di sekitar lampu lalu lintas di jalur Sudirman. Kenapa? Bupati Ansar su babat di tahun 2015 
Kalo ko melintas dari Waioti menuju pusat kota di jam pulang sekolah, ko akan liat anak-anak SMA Bhaktyarsa berjalan pulang di trotoar yang berlawanan arah. Karena menuju pusat kota, pepohonan hanya tersisa di sisi utara jalan. Sisi selatannya? Ansar su babat di tahun 2015.
Mati ee, babat smua nii 
Kapan terakhir kali penanaman pohon di trotoar? Lebih dari 20 tahun lalu. Nimba diantara angsono di sepajang jalur kota, mereka ditanam lewat program Bupati Paulus Moa, antara tahun 1998 - 2003.
Angsono yang sisa sedikit di sepanjang trotoar kota Maumere tu ditanam di jaman Bupati Conterius. Hampir 30 tahun lalu.
Rumah-rumah di Maumere cukup sejuk salah satunya berkat Dan Woda Palle. 40 tahun lalu, Bupati Woda Palle bagikan 2 pohon mangga untuk setiap rumah warga. Itu kenapa kalo ko lewat di rumah-rumah tua dalam kota, biasanya ada mangga 2 pohon. Kemudian orang mulai berbagi bibit mangga dari keluarga ke keluarga lainnya.
Setelah itu apa? Sa tida rekam ada yang dilakukan oleh Bupati lainnya. Baik itu untuk jalur umum maupun di rumah-rumah warga.
Okelah, jika renovasi taman tsunami dan penanaman tabebuya di sekelilingnya bisa diterima sebagai apologinya Ansar, kita bisa anggap ia lakukan sesuatu. Mengganti puluhan pohon yang ditebang dengan puluhan pohon lainnya. 
Tapi praktis, pohon di RTH makin menyusut. Sa deng Andoo Joe Amando pernah tida ada kerja kami pi hitung jumlah pohon mulai dari Waioti sampe Gelora dan lingkar luar menuju Kristus Raja. Kalo ikuti jarak penanaman per 10 meter, itu jalur kekurangan 2000 pohon. Mo tir panas bemana!
Seumur-umur sa ikuti kampanye pilkada dan pileg Kabupaten Sikka, sa belum pernah dengar ada calon bupati/wakil rakyat yang omong tentang lingkungan hidup.
Ada tiga paslon yang ikut Pilbup Sikka 2018. Di Pileg 2019, 449 caleg bertarung untuk 35 kursi. Dari mereka semua tiada satu pun yang merasa repot untuk singgung bemana dep pikiran dan aksi untuk hutan, air tanah, atau DAS. Bahkan tida ada yang omong tentang RTH, ruang terbuka hijau di kota yang menyangkut hutan kota, taman dan pohon pelindung jalan.
Sa dalam hati, ini orang-orang jalan pake tutup mata ka bemana? Kota ada panas begini ju mereka tetap selo ni.
Jika masyarakat mau peduli, kita bisa tuntut itu calon-calon pejabat buat sesuatu. Sa bayangkan kalo 2019 tu publik tuntut masing-masing caleg cukup tanam saja 10 pohon di pinggir jalan, hari ini kita sudah punya 4 ribuan pohon.
Jang biarkan ini situasi terus berulang. Sebelum itu orang-orang jadi pejabat, kita minta mereka punya kontribusi publik. Kalo tanam musim hujan mendatang, 3 tahun ke depan suhu udara kota bakal turun.
Selain itu kita ju bikin aksi kecil sendiri. Kita bisa tanam pohon di rumah masing-masing. Mulai kasi sejuk kota dari pekarangan dan jalanan depan rumah.***
Komentar
Posting Komentar