Langsung ke konten utama

Yang Muda Yang Beternak

#Inspirasi

Beberapa orang mengajukan pertanyaan kepada saya, "Akel dimana? Di facebook su tida pernah muncul lagi". Memang berapa bulan terakhir Akel dan joke-jokenya yang segar seolah menghilang dari beranda facebook banyak orang.



Akel di halaman belakangan rumah

Demi menjawab pertanyaan netizen, sore-sore jam 5 (jangan sambil nyanyi o.. Ini bukan lagunya Nyong Franco), saya berkunjung ke rumah pemilik akun facebook @achelldha. Motor ada di depan rumah. Pemiliknya tidak kelihatan.

Tuan rumah ternyata sedang di belakang rumah. Duduk merokok di atas kursi malas sembari menjulurkan kedua tungkai kakinya yang panjang. Tehnya tinggal separuh gelas ketika saya bergabung. Ia tengah memperhatikan dua ekor anak ayam yang melangkah tak bertenaga.

Halaman belakang 10x13 meter itu riuh dengan suara ayam. "Ayam kecil-kecil banyak ngeri...", saya membuka pembicaraan.

"Ada nama semua tu. Hanya muka sama semua jadi kita tidak bisa bedakan", begitu Akel. Jenaka seperti biasa.

Ada tiga kandang ayam disana. Ukurannya sama hanya formasi ruangannya yang berbeda. Kandang pertama punya 5 bilik, sementara kedua dan tiga hanya punya 3.

Saat ini tersisa 3 ekor induk dengan 20an ekor anak ayam yang menghuni bilik-bilik bambu itu. Serangan penyakit baru-baru ini membunuh 3 ekor ayam bangkok. Belasan telurnya juga tidak selesai dikerami. Ditinggal mati sang induk.

Di sisi lain halaman ada petak kecil. Hanya dua jenis tanaman disana; ubi dan pepaya.

"Pepaya apa ko tanam? Buah tida ada potongan."

"Itu untuk makanan babi. Kalo untuk konsumsi sih saya beli", terang Akel.

Memang ada kandang babi di pojok timur halaman. Empat ekor babi banpres yang besar-besar mengisi kandang bersekat 4 itu.

Kemudian Akel menambahkan, "sa rencana nanti tanam pepaya Jepang". Enaak...

Rupanya kesibukan beternak dan berkebun yang membuat Akel hilang dari keriuhan media sosial. Bermula dari satu induk ayam tahun lalu, lalu bertelur, selanjutnya tak terasa, generasi pertama sudah menunaikan tujuan kehidupannya: jadi santapan yang lezat. Memang, ayam-ayam itu bukan untuk dijual. Hanya untuk memenuhi kebutuhan gizi keluarga. Dan sekali dua kali jadi lepeng*.

●●●

Akel bilang, sejak Januari tahun ini ia tidak lagi intens dengan facebook. Hiruk pikuk di halaman belakang lebih menyenangkan. Kala pagi dan sore, pintu-pintu kandang dibuka. Puluhan unggas itu menerima jatah makan dari sang pemilik. Sekaligus mendapat asupan mentari.

Misel, 3 tahun, anak pertama Akel tengah menangkap ayam
Hal lain yang membuat lelaki Aquarius ini betah juga karena mendapat dukungan penuh dari istri dan anak. Misel turun langsung membantu memasukan ayam dikandang. Sementara Tata, sang istri, memberi dukungan pelayanan kesehatan.

Saat ini 2 ekor anak ayam yang tampak malas-malasan tadi sedang menjalani masa pengobatan. Akel punya ramuan; rebusan daun pepaya dicampur irisan bawang. Kasiatnya belum teruji. Sepenuhnyaa improvisasi. Ia memutuskan tidak mengisolasi 2 ayam penyakit tersebut. "Di dalam kandang mereka ngantuk. Tida ada aktivitas to. Ayam biar sakit tetap butuh kesibukan. Biar tida stress", kilahnya.

Disinggung mengenai rencana ke depan, pria yang telah 11 tahun menjadi PNS ini menerawang. Jawaban bisa kita duga, "jalanani apa adanya".

●●●

Matahari sudah terbenam. Blue hour dengan corak awan putih abu-abu menguar di kubah langit ketika Akel memasukan anak ayam terakhir di kandang. Sore yang menyenangkan dari rumah ujung lorong Berdikari.


Selamat berdiri di atas kaki sendiri, sodara-sodara!


*lepeng (bahasa daerah Sikka): panganan sebagai teman minum arak tradisional


Catatan: Ini reportase yang dibuat bukan untuk tujuan publikasi jurnalistik sebenarnya. Lebih sebagai candaan antarteman. Tapi berhubung sa belum pernah tulis hal-hal lucu disini, jadi sa aplot. :D



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Merenda Masa Depan Generasi Prestasi

Laporan Liputan SMATER Science And English Competition 2016 Antar SMP Se-NT Teks & Foto: HYF Mendung menggelayut di langit Kota Maumere beriring dengan rintik hujan lepas pukul 10.00 WITA, Jumat 18 Maret lalu. Aura kelabu itu kontras dengan suasana di bawah tenda halaman tengah SMATER Maumere. Riuh tepuk tangan ratusan siswa dan guru menggemakan semangat. Hari itu adalah pembukaan “Science And English Competition 2016 Antar SMP se-NTT”.    Seragam aneka warna para siswa SMP dari berbagai daerah di NTT berbaur di bawah tenda di halaman tengah Sekolah Menengah Atas Swasta Katolik Frater (SMATER) Maumere. Putih-Biru dan Safari. Ada juga Batik. Sejak awal panitia telah menyusun aneka piala di sebuah podium di samping panggung utama. Seolah menunjukan kepada setiap kontestan untuk berlomba memenangkan dan membawa pulang sebanyak-banyaknya. Perlombaan ini juga memperebutkan total hadiah Rp 45.000.000,-. Selepas seremoni pembukaan, keriuhan itu usai dan suasana pe...

Endi Paji, Kesetiaan Merawat Sejarah

Sepanjang tiga dekade terakhir, Endi Paji (52 tahun) telah mendedikasikan hidupnya untuk mengelola museum Ledalero. Profesinya dikenal sebagai kurator. "Tulis saja saya staf. Kurator itu ada sekolahnya", tutur Om Endi. ***** Museum Ledalero, 17 km selatan Kota Maumere, NTT menyimpan berbagai benda bersejarah dari pulau Flores. Oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Sikka, museum ini ditetapkan sebagai salah satu destinasi pariwisata Sikka.
"Membaca tidak cukup dengan membayangkan. Membaca hingga dapat mencecap (rasa di dalam tulisan)". Begitu kata teman saya pada satu malam di bulan Februari lalu. Saya tidak cukup paham bagaimana sensasi membaca seperti itu, hingga kemudian saya mengecap manisnya artikel ini :)   Di Bawah Bayang-bayang Gunung Ramelau Terima kasih Om Matheos Messakh. Tulisan yang baik sekali.