Langsung ke konten utama



Floresweg Geopeno, Titik Tengah Pulau Flores dan Mitos Perempuan Cantik dan Lelaki Gagah 

 

KM 17 Kabupaten Ende saban tahun mengganggu perlintasan trans Pulau Flores dengan longsornya dinding tebing. Pengguna jalan dipaksa menunggu dalam antrian panjang sementara pekerja konstruksi membereskan tumpahan material longsoran sekira 200 meter di jalanan.



Namun, bagi Anda yang pernah melintas disepanjang jalur ini, pernahkah Anda memperhatikan di bibir jalan yang berbatas jurang terdapat sepasang batu besar seukuran lingkar tangan sepuluh orang dewasa? Pada salah satu batu dibuatkan prasasti yang menggurat kata "Floresweg Geopeno" bertanggal 31 Agustus 1925. Seorang teman saya menutur prasasti itu dibuat oleh pemerintah kolonial Belanda pada saat pengerjaan jalur jalan ini untuk menandai titik tengah Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur.

Batu raksasa di bahu jalan KM 17 Kabupaten Ende. Pada satu sisi batu terdapat prasasti "Floresweg Geopeno". Konon batu ini adalah salah satu dari dua batu yang menandai titik tengah Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur

Masih menurut sahabat saya itu, konon di lokasi ini para pelintas yang lewat di atas jam 6 malam menjumpai seorang wanita yang dikatakan rupawan. Wanita itu merupakan jelmaan dari salah satu batu besar itu. Oleh masyarakat sekitar, batu itu dikenal dengan nama "Watu Gamba". Romualdus Pius dalam tulisannya yang dimuat di kupang.tribunnews.com edisi 15 April 2015 menyebut batu besar satunya bernama "Rewa Nganggo" yang pernah terlihat sebagai sosok pria tampan dan ganteng. Mereka berdua kerap ditemui berpasangan saat malam. Isi tulisan tersebut mengulas hal yang tidak berbeda dari penuturan teman saya.

Minggu 29 Maret 2015 lalu rasa penasaran saya atas cerita teman membuat saya berhenti sejenak di depan batu raksasa ini. Sembari memperhatikan secara seksama bongkah batu kokoh di hadapan saya berusaha menyisir sebanyak mungkin informasi yang dapat saya temukan. Tidak banyak yang saya dapat selain prasasti di tengah batu besar itu. Tidak ada ulasan yang menyinggung banyak tentang alasan mengapa lokasi ini disebut titik tengah pulau Flores seperti posisi lintang dan bujur tempat ini. Nama pembuat prasasti juga tidak dicantumkan.

Batu itu menumpang pinggir jalan yang tidak seberapa lebar. Sisi terluar batu menapak pinggit tebing. Mungkin pada longsoran tahun mendatang, material yang jatuh dapat menggser batu ini ke bawah jurang sedalam ratusan meter di sampingnya.


Saya teringat akan penggalan lain dari cerita teman saya; satu batu besar serupa yang satunya bisa saya temukan di atas tebing di depan batu berprasasti. Kata dia, batu itu pernah jatuh saat longsornya tebing, tapi kemudian batu itu naik lagi ke tempat semula. Saya berusaha mengamati tebing sekitarnya,namun tidak menemukan batu pasangannya. Rupanya saya harus puas dengan informasi yang minim ini. Saya menyempatkan untuk untuk berpikir tentang bagaimana orang tua dulu membelah dinding tebing dan membuat jalan. Tentu ini pekerjaan yang berat di masa itu mengingat alat-alat konstruksi tidak sebanyak saat sekarang.


Pada akhirnya saya pikir, pemerintah setempat berkewajiban menjaga dan memberi informasi memadai mengingat prasasti semacam ini adalah warisan sejarah. Hal semacam batu besar ini selain menyimpan mitos juga menyimpan sejarah tentang hal-hal lain yang bersangkut dengannya. Dalam kisah batu besar Floresweg Geopeno ini, selain menyimpan kisah tentang sosok wanita dan pria rupawan, batu ini juga menjadi saksi jerih payah orang tua-orang tua dulu mengerjakan jalan Tras Flores yang masih kita nikmati hingga sekarang. Hendaknya, jerih payah mereka selalu dijaga dan diabadikan walau dalam satu dua paragraf prasasti.



_pelancong


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Merenda Masa Depan Generasi Prestasi

Laporan Liputan SMATER Science And English Competition 2016 Antar SMP Se-NT Teks & Foto: HYF Mendung menggelayut di langit Kota Maumere beriring dengan rintik hujan lepas pukul 10.00 WITA, Jumat 18 Maret lalu. Aura kelabu itu kontras dengan suasana di bawah tenda halaman tengah SMATER Maumere. Riuh tepuk tangan ratusan siswa dan guru menggemakan semangat. Hari itu adalah pembukaan “Science And English Competition 2016 Antar SMP se-NTT”.    Seragam aneka warna para siswa SMP dari berbagai daerah di NTT berbaur di bawah tenda di halaman tengah Sekolah Menengah Atas Swasta Katolik Frater (SMATER) Maumere. Putih-Biru dan Safari. Ada juga Batik. Sejak awal panitia telah menyusun aneka piala di sebuah podium di samping panggung utama. Seolah menunjukan kepada setiap kontestan untuk berlomba memenangkan dan membawa pulang sebanyak-banyaknya. Perlombaan ini juga memperebutkan total hadiah Rp 45.000.000,-. Selepas seremoni pembukaan, keriuhan itu usai dan suasana pe...

Endi Paji, Kesetiaan Merawat Sejarah

Sepanjang tiga dekade terakhir, Endi Paji (52 tahun) telah mendedikasikan hidupnya untuk mengelola museum Ledalero. Profesinya dikenal sebagai kurator. "Tulis saja saya staf. Kurator itu ada sekolahnya", tutur Om Endi. ***** Museum Ledalero, 17 km selatan Kota Maumere, NTT menyimpan berbagai benda bersejarah dari pulau Flores. Oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Sikka, museum ini ditetapkan sebagai salah satu destinasi pariwisata Sikka.
"Membaca tidak cukup dengan membayangkan. Membaca hingga dapat mencecap (rasa di dalam tulisan)". Begitu kata teman saya pada satu malam di bulan Februari lalu. Saya tidak cukup paham bagaimana sensasi membaca seperti itu, hingga kemudian saya mengecap manisnya artikel ini :)   Di Bawah Bayang-bayang Gunung Ramelau Terima kasih Om Matheos Messakh. Tulisan yang baik sekali.