Langsung ke konten utama

Pesta Sambut Baru Orang Sikka, Dulu Dan Sekarang

Sumber Foto: www.inimaumere.com



“Setelah keluar misa, mereka yang sambut baru bersama bapa-mama atau orang yang mendampingi, ikut rumah anak sambut baru yang paling ujung kampung, makan rame-rame dari rumah anak sambut baru yang pertama sampai terakhir. Orang siapkan makanan seadanya. Lalu seluruh anak yang sambut baru, termasuk yang rumahnya sudah dikunjugi, berpindah ke rumah lainnya, diiringi oleh musik suling. Gong waning tidak ada. Tidak ada undangan. Poi te ita e orit (hanya kita di dalam rumah)”


Begitulah penjelasan yang saya dapatkan dari Maria Kristina ihwal pesta sambut baru di Maumere sekitar tahun 1960an. Wanita paruh baya ini adalah seorang ibu rumah tangga. Lahir dan besar di Desa He’o, Kecamatan Hewokloang, dia kemudian hijrah ke Kota Maumere untuk  belajar di Sekolah Menengah Kesejahteraan Keluarga Maumere. Ibu dari enam putera-puteri ini sempat mengajar di SMP Renha Rosari Kewapante sebelum kemudian memutuskan berhenti. Saat ini Ibu Kristina tinggal di Kota Maumere.

Hanya hari itu. Ya, hanya hari itu acara makan bersama di rumah anak-anak peserta komuni pertama dirayakan. Tidak ada pesta tunda sebagaimana umum terjadi di Kabupaten Sikka dewasa ini. Makanan disiapkan seadanya. Keluarga-keluarga anak-anak itu umumnya menghidangkan daging ayam. Sementara keluarga yang cukup mapan menyembelih seekor babi berukuran sedang. “Kue-kue tidak ada. Hanya pisang setengah tua, digoreng tanpa minyak. Pakian di bura-bura, ele ganu ba’i murin no rompi”, Bapak Minggus Dominikus menimpali cerita istrinya, Ibu Kristina, dengan bahasa campuran Indonesia dan bahasa Sikka. Maksudnya, anak-anak penerima komuni suci pertama menggunakan pakaian putih-putih ke gereja, tidak seperti saat ini, anak lelaki menggunakan setelan jas.


Cerita lainnya tentang pesta sambut baru pada dekade enam puluhan saya dapatkan dari penuturan ibu saya. Hajatan sambut baru di masa beliau masih anak-anak diselenggarakan di gereja seusai misa. Bersama pastor dan umat yang hadir mereka makan bersama. Makanan biasanya dibawa oleh anak-anak peserta komuni pertama. Saya tanyakan kepada bapak, apakah pada masa awal pesta sambut baru sudah mulai dengan mengundang kerabat dan handai taulan, saat masyarakat Sikka sudah mulai mengenal sound system, bagaimana pesta biasanya berlangsung, bapak katakan, “dulu laki dan perempuan dilarang menari bersama, pasangan yang kedapatan dilempar dengan batu”.

Sejak tahun 1970an, sudah mulai berkembang kebiasaan mengundang Ina, ‘Wine, Lu’ur, Dolor, Pu Lame; keluarga besar dan kerabat. Kebiasaan itu terus berlangsung hingga saat ini. Sebagian kalangan masyarakat malah menganggap syukuran sambut baru dengan pesta sudah menjadi tradisi kontemporer masyarakat Sikka. 

Saya teringat dengan pesta sambut baru yang dibuat oleh orang tua untuk saya pada 11 November 2001 silam. Bapak mengisahkan, dia dan ibu saya semula tidak berniat membuat sebuah acara dan mengundang banyak orang. Mereka lebih suka menyisihkan uang untuk menambah tabungan saya. Memang di dalam keluarga semenjak kelahiran saya dan dua adik saya, orang tua membuka tabungan untuk masing-masing kami. “Tabungan untuk pendidikan”, bapak pernah berkata begitu dalam suatu kesempatan.

Namun toh akhirnya pesta dihelat karena desakan keluarga, “ini anak pertama” begitu dalih kakak tertua bapak. Maka terjadilah; undangan disebarkan. Keluarga menyambangi kediaman kami sejak hari Rabu itu, empat hari sebelum saya menerima komuni. Mereka datang membawa sarung, moke (arak Sikka), pisang dan hewan; ayam dan babi. Piring, dandang, periuk dan segala perlekapan masak mulai disewa. Begitu pula kursi dan terpal (waktu itu belum berkembang bisnis penyewaan tenda dan kursi seperti sekarang). Rumah tampak hiruk pikuk. Speaker disusun tiga tingkat. Sound system menggetar rumah kami yang berdinding anyaman bambu sejak hari Sabtu, sehari sebelum saya menerima komuni.
Pada hari pesta dilangsungkan, saya sendiri terlelap di kamar sekira jam 08.00 malam sebelum menjabat tangan semua undangan, sebelum menyaksikan orang-orang ramai menari. Wajar, tubuh sepuluh tahun saya saat itu amat kelelahan. Sejak Sabtu, saya kembali melatih doa-doa yang akan saya ucapkan sebelum menerima komuni. Tentu saja sembari mengatasi kecemasan salah mengucap. Hari Minggu di gereja saya mengikuti perayaan ekaristi sekitar tiga jam. Di rumah, orang-orang sudah menanti. Menjabat tangan keluarga-keluarga yang sudah berkumpul lalu duduk manis di depan kursi menanti kedatangan teman-teman bapak dan mama yang diundang hadir selepas jam 11.00 siang.

Anak-anak sambut baru tidak lebih sebagai property pesta, seperti halnya tenda, kursi, dan perlengkapan masak. Anak yang merayakan sambut baru jamak ditemui kelelahan dan tertidur di kursi, di bawah dekorasi bertuliskan nama mereka, di belakang kotak amplop yang biasanya disediakan pada pesta seperti ini. Seperti yang saya amati Minggu 20 September 2015  ketika mengahadiri undangan sambut baru di Kecamatan Kewapante, Kabupaten Sikka. “Mereka tidak menikmati.  Itu acaranya orang tua, bukan anak-anak” begitu pendapat tetangga saya, seorang ibu muda yang tidak ingin namanya disebutkan dalam tulisan ini.

Sejauh pengamatan tetangga saya itu, pesta sambut baru menguras banyak tenaga. “Pekerja-pekerja di belakang yang menyiapkan hidangan, membereskan perlengkapan acara itu juga capai. Kita kerja, membuat sesuatu itu gampang tapi membereskan, itu yang susah; mengembalikan barang pinjaman. Bersih-bersih setelah pesta paling kurang itu dua hari kalau banyak tenaga. Kalau tidak, tiga-empat hari”.

Bagi wanita, area dapur adalah bidang kerja mereka dalam pembagian tugas kepanitiaan pesta. Tetangga saya ini kerap membantu masak dalam hajatan sambut baru yang digelar tetangga dan saudaranya. Dia berbagi cerita seputar biaya yang dikeluarkan tuan pesta di sektor dapur. Katanya, tukang masak biasanya dibayar. “Sudah jutaan sekarang. Sekitar 1 juta. Sekarang ada lagi, yang cuci piring juga dibayar. Paling kurang sekarang Rp 500,000,00 untuk tim sekitar 3 orang” tuturnya.

Akankah masyarakat Kabupaten Sikka di masa mendatang membuat pesta sambut baru kembali bersahaja seperti dulu atau lebih spektakuler dari saat ini? Pilihannya bergantung pada pola pikir segenap elemen masyarakat Sikka sendiri. 

(Penelusuran mengenai hajatan sambut baru di Kabupaten Sikka dilakukan penulis pada 22-24 September 2015. Narasumber yang ditemui penulis berdomisili di Kelurahan Waioti, Kecamatan Alok Timur, Kabupaten Sikka)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Merenda Masa Depan Generasi Prestasi

Laporan Liputan SMATER Science And English Competition 2016 Antar SMP Se-NT Teks & Foto: HYF Mendung menggelayut di langit Kota Maumere beriring dengan rintik hujan lepas pukul 10.00 WITA, Jumat 18 Maret lalu. Aura kelabu itu kontras dengan suasana di bawah tenda halaman tengah SMATER Maumere. Riuh tepuk tangan ratusan siswa dan guru menggemakan semangat. Hari itu adalah pembukaan “Science And English Competition 2016 Antar SMP se-NTT”.    Seragam aneka warna para siswa SMP dari berbagai daerah di NTT berbaur di bawah tenda di halaman tengah Sekolah Menengah Atas Swasta Katolik Frater (SMATER) Maumere. Putih-Biru dan Safari. Ada juga Batik. Sejak awal panitia telah menyusun aneka piala di sebuah podium di samping panggung utama. Seolah menunjukan kepada setiap kontestan untuk berlomba memenangkan dan membawa pulang sebanyak-banyaknya. Perlombaan ini juga memperebutkan total hadiah Rp 45.000.000,-. Selepas seremoni pembukaan, keriuhan itu usai dan suasana pe...

Endi Paji, Kesetiaan Merawat Sejarah

Sepanjang tiga dekade terakhir, Endi Paji (52 tahun) telah mendedikasikan hidupnya untuk mengelola museum Ledalero. Profesinya dikenal sebagai kurator. "Tulis saja saya staf. Kurator itu ada sekolahnya", tutur Om Endi. ***** Museum Ledalero, 17 km selatan Kota Maumere, NTT menyimpan berbagai benda bersejarah dari pulau Flores. Oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Sikka, museum ini ditetapkan sebagai salah satu destinasi pariwisata Sikka.
"Membaca tidak cukup dengan membayangkan. Membaca hingga dapat mencecap (rasa di dalam tulisan)". Begitu kata teman saya pada satu malam di bulan Februari lalu. Saya tidak cukup paham bagaimana sensasi membaca seperti itu, hingga kemudian saya mengecap manisnya artikel ini :)   Di Bawah Bayang-bayang Gunung Ramelau Terima kasih Om Matheos Messakh. Tulisan yang baik sekali.