Langsung ke konten utama

Pengembangan Hybrid Engineering di Pantai Paris, Kabupaten Sikka:

Bekerja Dengan Alam, Menyelamatkan Ekosistem Kawasan Pesisir Pantai 





Pesisir utara wilayah Kabupaten Sikka pada dalam dua dasawarsa terakhir--selepas bencana tsunami 12 Desember 1992--menghadapi peningkatan abrasi. Dampak dari pada abrasi ini seperti dapat disaksikan adalah berkurangnya daratan dan meningkatnya resiko bencana terutama bagi penduduk di kawasan pesisir pantai.

 

Kawasan pengembangan hybrid engineering di Pantai Paris-Lokaria, Kabupaten Sikka di dalam area sekitar 600 m2


Dahulu ramah hembusan angin melambaikan nyiur di sepanjang kawasan ini seperti disyairkan oleh Daniel Woda Palle, Bupati Sikka Tahun 1977-1988 dalam lagu "Maumere Manise". Sekarang tak berlaku lagi. Angin adalah momok yang menakutkan.
Angin topan yang biasa terjadi pada bulan Februari - Maret di wilayah pantai utara seringkali memicu gelombang pasang yang kemudian menghantam pantai dan mengakibatkan erosi dan abrasi. Berikut rangkuman berita terkait gelombang pasang dan abrasi di Sikka dari Surat Kabar Harian (SKH) Pos Kupang;

Pada 7 Mei 2010, Pos Kupang menurunkan judul berita “Abrasi Ancam Kota Uneng Maumere”. Sebelumnya pada 22 April 2010 media ini menerbitkan berita terkait ancaman abrasi terhadap pemukiman warga di Kecamatan Talibura. Awal Februari 2014, gelombang pasang menghantam Kelurahan Waioti, yang mengakibatkan 48 rumah warga tergenang air laut. Delapan diantaranya rusak berat (Pos Kupang, 3 Februari 2014). Menjelang penghujung tahun 2014 Pos Kupang melaporkan, area hutan mangrove di Kecamatan Magepanda semakin gundul (PK, 3/10/2014).
Pemerintah Kabupaten Sikka memang tidak membiarkan keadaan ini begitu saja. Pada tahun 2011 dimulai pembangunan tembok penahan gelombang di pantai utara, dimulai dari pelabuhan Lorens Say hingga kelurahan Waioti. Namun tembok ini justru memperparah terjangan gelombang laut pada wilayah lain yang tidak dibangun penahan gelombang seperti di daerah Kampung garam yang berbatasan dengan pelabuhan dan daerah sekitar terminal Lokaria yang bersebelahan dengan Kelurahan Waioti.

Tidak banyak warga dari kabupaten berpenduduk 300 ribu jiwa ini yang tergerak untuk menyelamatkan pantai mereka. Figur yang cukup lekat dalam ingatan masyarakat Sikka adalah Babah Akong dan kelompok tani Sabar Subur yang sejak 1993 sudah menanam mangrove pada kawasan seluas 130 hektar di sepanjang pesisir pantai di Kecamatan Magepanda, Kabupaten Sikka hingga sebagian kawasan pantai utara Kabupaten Ende.

Susilowati Koopman dan keluarga adalah segilintir dari antara warga Sikka yang tidak dapat tinggal diam terhadap masalah abrasi pantai di Sikka .
Warga Lokaria pegiat lingkungan ini kebetulan berdomisili di pesisir pantai utara Kabupaten Sikka di kawasan yang lebih dikenal masyarakat Sikka sebagai “Pantai Paris”. Menyaksikan halaman rumah mereka hilang meter demi meter dalam 15 tahun terakhir, perempuan yang mencetuskan Bank Sampah Flores ini memutuskan untuk bertindak dengan ‘memagari’ sendiri kawasan pantai di sekitar rumah.

Bersama Herman Koopman sang suami, pasangan ini tengah mengembangkan teknologi hybrid engineering di “Pantai Paris” Lokaria. Enam bulan terakhir berbekal sedikit pengetahuan, dengan biaya sendiri mereka mengembangkan teknologi ini; mereka ‘menimbun’ lumpur dan menanam bakau (mangrove).

Apa sebetulnya hybrid engineering? Sedikit penjelasan tentang Hybrid engineering dirangkum dari brosur “Membangun Bersama Alam Untuk Ketahanan Pesisir, Memulihkan Pantai Tropis Berlumpur” pada situs www.wetlands.org sebagai berikut;

Menanam bakau (Foto: Herman Koopman)
Hybrid engineering merupakan konsep inovatif yang berusaha untuk bekerja dengan alam, bukan melawannya. Konsep ini berusaha untuk menggabungkan ilmu teknik sipil (engineering) dan proses alam dan sumber daya, menghasilkan solusi dinamis yang lebih mampu beradaptasi dengan perubahan keadaan untuk menghentikan proses erosi dan mengembalikan garis pantai yang stabil.

Struktur seperti ini bisa bertambah kuat seiring waktu, karena pohon mangrove tumbuh dan tiram menetap di atas satu sama lain. Selain itu, struktur hybrid dapat memberikan berbagai jasa lingkungan di samping untuk perlindungan pantai, seperti sumber pangan dan regulasi iklim. Rekayasa Hybrid menggabungkan struktur permeable (untuk memecah gelombang dan menangkap lebih banyak sedimen) dengan teknik rekayasa seperti agitasi pengerukan, yang meningkatkan jumlah sedimen tersuspensi dalam air.
Tumpukan batu untuk mengurangi pukulan gelombang

Struktur permeabel terbuat dari bahan-bahan lokal seperti bambu, ranting atau semak belukar lain dapat ditempatkan di depan garis pantai. Struktur ini dapat dilalui air laut, tidak memantulkan gelombang melainkan memecahnya. Sehingga, gelombang akan berkurang ketinggian dan energinya sebelum mencapai garis pantai. Struktur permeabel juga dapat memungkinkan lumpur untuk melewatinya, dan meningkatkan jumlah sedimen terperangkap pada atau dekat pantai. 

Setelah proses erosi berhenti dan garis pantai mulai mengalami akresi, restorasi mangrove dapat berlangsung. Bibit mangrove tidak lagi hanyut oleh arus dan sabuk hijau mangrove baru dapat berperan mematahkan gelombang dan menangkap sedimen lebih banyak di jangka panjang. 
Teknik ini telah berhasil diterapkan di rawa-rawa pantai di Belanda selama berabad-abad. Teknik hybrid engineering saat ini semakin banyak diterapkan di seluruh dunia pada wilayah pesisir yang rentan, untuk menggantikan struktur keras dengan cara dan biaya yang efektif. 

*****

Satu-dua pokok bakau yang dibudidaya keluarga Koopman berhasil tumbuh. Ada juga yang mati, namun mereka tidak berhenti. Seperti kata Susi, "Ini bukan tentang uang (yang dikeluarkan, red). Ini tentang menyelamatkan lingkungan". Asa menyelamatkan pantai dan menjaga penghidupan terus terpatri. Mereka menyulam lagi bakau yang mati dengan bakau-bakau lain. Seperti kata Yustinus Dharma, Manajer Kampanye Pesisir dan Kelautan Walhi NTT, "gagal atau tidaknya usaha ini adalah urusan belakangan.Tapi apa yang kita lakukan berdampak". Yustinus mengunjungi Pantai Paris siang itu untuk mengapresiasi proyek keluarga Koopman.

*****

Setiap malam, suami-istri ini mengecek bakau-bakau itu. Siang hari, mereka juga mengedukasi masyarakat yang berkunjung ke pantai tentang pentingnya menjaga kelestarian ekosistem laut, seperti tidak mengambil terumbu karang dan membuang sampah di laut.

 

Semoga kelak nyiur dapat kembali melambai di sepanjang pesisir utara Kabupaten Sikka. Sekarang, angan ini adalah fatamorgana. Namun bilamana banyak banyak warga Sikka terlibat merehabilitasi kawasan pantai, hal ini bukan mustahil terwujud.


_pelancong








Komentar

Postingan populer dari blog ini

Merenda Masa Depan Generasi Prestasi

Laporan Liputan SMATER Science And English Competition 2016 Antar SMP Se-NT Teks & Foto: HYF Mendung menggelayut di langit Kota Maumere beriring dengan rintik hujan lepas pukul 10.00 WITA, Jumat 18 Maret lalu. Aura kelabu itu kontras dengan suasana di bawah tenda halaman tengah SMATER Maumere. Riuh tepuk tangan ratusan siswa dan guru menggemakan semangat. Hari itu adalah pembukaan “Science And English Competition 2016 Antar SMP se-NTT”.    Seragam aneka warna para siswa SMP dari berbagai daerah di NTT berbaur di bawah tenda di halaman tengah Sekolah Menengah Atas Swasta Katolik Frater (SMATER) Maumere. Putih-Biru dan Safari. Ada juga Batik. Sejak awal panitia telah menyusun aneka piala di sebuah podium di samping panggung utama. Seolah menunjukan kepada setiap kontestan untuk berlomba memenangkan dan membawa pulang sebanyak-banyaknya. Perlombaan ini juga memperebutkan total hadiah Rp 45.000.000,-. Selepas seremoni pembukaan, keriuhan itu usai dan suasana pe...

Endi Paji, Kesetiaan Merawat Sejarah

Sepanjang tiga dekade terakhir, Endi Paji (52 tahun) telah mendedikasikan hidupnya untuk mengelola museum Ledalero. Profesinya dikenal sebagai kurator. "Tulis saja saya staf. Kurator itu ada sekolahnya", tutur Om Endi. ***** Museum Ledalero, 17 km selatan Kota Maumere, NTT menyimpan berbagai benda bersejarah dari pulau Flores. Oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Sikka, museum ini ditetapkan sebagai salah satu destinasi pariwisata Sikka.
"Membaca tidak cukup dengan membayangkan. Membaca hingga dapat mencecap (rasa di dalam tulisan)". Begitu kata teman saya pada satu malam di bulan Februari lalu. Saya tidak cukup paham bagaimana sensasi membaca seperti itu, hingga kemudian saya mengecap manisnya artikel ini :)   Di Bawah Bayang-bayang Gunung Ramelau Terima kasih Om Matheos Messakh. Tulisan yang baik sekali.