Langsung ke konten utama

Kemerdekaan Itu Optimisme

Geliat Wisata dalam Festival Tari Etnik di Hewokloang


Bagi warga Sikka, ada warna berbeda dalam perayaan 17 Agustus tahun ini. Bila di Kota Maumere Hari Kemerdekaan diperingati dengan monoton lewat lomba Gerak Jalan seperti tahun-tahun sebelumnya, di pelosok kabupaten perayaan tampak lebih semarak.




Kecamatan Kangae di timur Kota Maumere menggelar The Voice Kangae. Kompetisi menyanyi yang diadaptasi dari The Voice Indonesia digelar untuk menjaring penyanyi-penyanyi berbakat dari wilayah Kangae. Kontes ini berlangsung tiga malam sejak tanggal 9 hingga 11 Agustus.

Sementara itu di pulau Koja Doi, warga merayakannya dengan pentas musik akustik. Acara ini terbilang unik mengingat ia diinsiasi oleh perangkat pemerintah dari wilayah lain. Lurah Friets Agustinus dari Nangameting memboyong Dewata Nangameting Acoustic—group musik milik kelurahan—mementaskan musik untuk warga Lebantour di Koja Doi dan desa-desa lain di sekitar Teluk Maumere.

Lain lagi di Kecamatan Hewokloang. Pemerintah setempat menggelar festival tari tradisional. Seluruh desa di wilayah itu unjuk kebolehan lewat tarian etnik mereka. Saya beruntung bisa berada di sana. Sepanjang malam di hari Rabu, 10 Agustus lalu, alun-alun kantor camat yang biasanya tenang berubah semarak. Hentakan kaki dan ringkikan para penari bersahutan di atas panggung. 

Acara terjadwal dimulai jam 7 malam. Namun sejak jam 5 geliatnya mulai nampak. Warga Desa Heopuat yang pertama tiba. Desa mereka memang letaknya lebih dekat dengan kantor camat dibanding 6 desa lain. Rupanya mereka tidak sabar untuk segera memulai acara. Enam pria menabuh gong dan gendang. Sementara tiga perempuan mulai menari. Mereka memainkan irama Todu yang pertama. Todu, musik berirama rancak dengan segera membuat suasana hidup. 

Jelang jam 6 sore makin banyak warga desa di halaman kecamatan. Meramaikan suasana, mungkin juga sebagai pemanasan sebelum tampil, warga lainnya juga ikut beraksi. Tabuhan gong dan waning (gendang) terdengar dari beberapa penjuru. Keriuhan berpindah dari 1 sudut, ke sudut lainnya. Mereka bermain bergantian, saling mengisi. Ada irama Todu, Leke, Blebak juga Bladu Babat.

Wilhelmus Levi, Camat Hewokloang menaruh perhatian terhadap budaya lokal. Selama setahun masa tugasnya, ia melihat Hewokloang memiliki keragaman tarian. Ada potensi pariwisata budaya dari wilayah ini. “Sejak lama saya mengenal Sanggar Bliran Sina. Ketika berkunjung ke desa-desa ternyata hampir semua desa punya sanggar. Masing-masing punya kekhasan. Saya berpikir, kenapa kita tidak promosikan saja?”

Untuk diketahui, Sanggar Bliran Sina (SBS) adalah sanggar yang berlokasi di Watublapi, Desa Kajowair. Selain sebagai sanggar musik, SBS juga membuat tenun ikat dengan bahan-bahan alami. Mereka menjadi salah tujuan wisatawan ke Kabupaten Sikka. SBS juga pernah tampil di berbagai ajang internasional.


Dalam acara ini, Bliran Sina mendapat kehormatan sebagai bintang tamu. Mereka didapuk sebagai pembuka acara. Sanggar yang dirintis sejak tahun 1983 ini tampil atraktif seperti biasa. Saya suka dengan ‘drum set’ yang mereka pakai. Waning Ina (gendang besar) difungsikan menjadi bass drum, waning dodor (gendang kecil) sebagai snare dan botol bir untuk cymbal.

 

Tradisi, Alih Generasi


Dua penari. Lelaki dan perempuan belia. Gadis kecil melenggak lenggok dengan gemulai. Memutarkan iku di tangan kiri dan kanannya ke udara. Lelaki di sebelahnya menari dengan gagah. Banyak diantara penonton yang bersorak kala menyaksikan gerak tubuh kedua penari.

Mereka adalah adalah murid Sekolah Dasar Inpres Damarbima. Beberapa siswa—penari dan pemusik--yang berkesenian di Pondok Budaya Damarbima tampil setelah Bliran Sina. Saya melihat pertukaran generasi di sana. Warga Hewokloang rupanya mempersiapkan regenarasi. Ini seolah penegasan bahwa budaya tetap lestari, kekal abadi. Pentas seperti ini yang memastikan regenerasi berlanjut, seperti kata Camat Levi.

Sanggar Tawatana dari Desa Heopuat mendapat giliran ketiga. Mereka membawa tarian Rekong Manunggo. Tari ini menggambarkan proses menggarap kebun dan mengiris tuak. Dalam bahasa Sikka, ia disebut dengan u'a uma kare tua. Esensi tarian ini adalah memohon kesuburan. Gerimis perlahan turun mengiring tarian. " Uran golo di kletik"—bahkan turun gerimis, begitu kata MC Sil. Alam seolah merestui permohonan para penari. Hujan rintik-rintik terus turun hingga akhir acara.

Sebagian besar tarian yang ditampilkan ketujuh sanggar berkisah tentang kehidupan dan alam. Mereka membawakannya seturut tradisi. Seperti tarian Togo Pare, dari Sanggar Wini Li’in Desa Hewokloang yang membuat penonton terkesiap di beberapa adegan. Tari ini berkisah tentang tradisi masyakat dahulu dalam mengolah hasil panen. Ketika padi selesai dipanen, warga berkumpul pada malam hari dan mulai menari. Mereka menari dalam lingkaran di atas tumpukan padi untuk memisah bulir dari jerami. Sangat jarang kita bisa menyaksikan Togo Pare dewasa ini.



Selepas senja, kehidupan serasa bergerak lebih lambat di Baowunut, ibu kota Kecamatan Hewokloang. Tapi tidak untuk malam itu. Di atas panggung beratapkan langit, penampilan para penari dan musisi menghidupkan suasana malam.


Festival Tahunan untuk Wisata


Walaupun hujan membuat banyak momen fotografis tidak bisa diabadikan, secara keseluruhan festival ini menarik. Saya melihat ada semangat di kalangan warga untuk maju lewat sektor pariwisata. Juga ada koalisi yang positif antara warga dengan pemerintah.

Kegiatan ini adalah rintisan, seperti kata Camat Levi. Saya berharap rencana pemerintah kecamatan untuk menjadikan ini festival tahunan bisa terwujud. Tak saja menangkap peluang ekonomi, festival ini sekaligus juga sebagai upaya untuk menurunkan tradisi dari generasi tua ke yang muda. Bukan hanya sebagai ritus, namun juga kearifannya.

Pada gelaran selanjutnya, pemerintah dan warga Hewokloang perlu mengundang keterlibatan fotografer dan wartawan lokal untuk mempromosikan acara ini. Juga bekerja sama dengan para pelaku pariwisata untuk menyesuaikan dengan jadwal tur dan masa puncak arus wisatawan.

Saya teringat refleksi seorang mahasiswa NTT yang mendapatkan beasiswa S2 di Amerika Serikat. Ia menulis tentang makna kemerdekaan di blognya pada 17 Agustus lalu. Bagi Nike Frans, yang tengah belajar Gizi Masyarakat di Kansas State University, kemerdekaan adalah optimisme. Untuk dia dan ribuan pelajar Indonesia lainnya di luar negeri, merdeka adalah belajar lebih giat untuk memberi kontribusi bagi Indonesia selepas kuliah. Bagi warga Kecamatan Hewokloang, perayaan Tujuh belasan tahun ini membawa semangat baru untuk merawat budaya mereka. Lewat tarian tarian tradisional, ada optimisme ia menjadi penyokong penghidupan di masa mendatang.

Saya sepaham. Apa artinya merdeka jika kita masih terpenjara dengan hambatan-hambatan dalam membangun diri dan wilayah kita?

**Feature ini dimuat di Majalah Warta Flobamora Edisi September 2016. Diterbitkan dengan judul Merayakan Kemerdekaan.






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Merenda Masa Depan Generasi Prestasi

Laporan Liputan SMATER Science And English Competition 2016 Antar SMP Se-NT Teks & Foto: HYF Mendung menggelayut di langit Kota Maumere beriring dengan rintik hujan lepas pukul 10.00 WITA, Jumat 18 Maret lalu. Aura kelabu itu kontras dengan suasana di bawah tenda halaman tengah SMATER Maumere. Riuh tepuk tangan ratusan siswa dan guru menggemakan semangat. Hari itu adalah pembukaan “Science And English Competition 2016 Antar SMP se-NTT”.    Seragam aneka warna para siswa SMP dari berbagai daerah di NTT berbaur di bawah tenda di halaman tengah Sekolah Menengah Atas Swasta Katolik Frater (SMATER) Maumere. Putih-Biru dan Safari. Ada juga Batik. Sejak awal panitia telah menyusun aneka piala di sebuah podium di samping panggung utama. Seolah menunjukan kepada setiap kontestan untuk berlomba memenangkan dan membawa pulang sebanyak-banyaknya. Perlombaan ini juga memperebutkan total hadiah Rp 45.000.000,-. Selepas seremoni pembukaan, keriuhan itu usai dan suasana pe...

Endi Paji, Kesetiaan Merawat Sejarah

Sepanjang tiga dekade terakhir, Endi Paji (52 tahun) telah mendedikasikan hidupnya untuk mengelola museum Ledalero. Profesinya dikenal sebagai kurator. "Tulis saja saya staf. Kurator itu ada sekolahnya", tutur Om Endi. ***** Museum Ledalero, 17 km selatan Kota Maumere, NTT menyimpan berbagai benda bersejarah dari pulau Flores. Oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Sikka, museum ini ditetapkan sebagai salah satu destinasi pariwisata Sikka.
"Membaca tidak cukup dengan membayangkan. Membaca hingga dapat mencecap (rasa di dalam tulisan)". Begitu kata teman saya pada satu malam di bulan Februari lalu. Saya tidak cukup paham bagaimana sensasi membaca seperti itu, hingga kemudian saya mengecap manisnya artikel ini :)   Di Bawah Bayang-bayang Gunung Ramelau Terima kasih Om Matheos Messakh. Tulisan yang baik sekali.