Menghabiskan akhir pekan dengan berenang di lautan biru, atau sekedar bermalas-malasan di atas hamparan pasir adalah kegiatan yang biasa bagi umumnya masyarakat Flores. Namun weekend sambil bersantai di atas perahu di tengah danau yang tenang, barbeque ikan air tawar, hmm...itu kemewahan!
| Danau Bowu. Pinggir danau ini dipagari alang-alang dan barisan pohon kelapa |
Perjalanan ini
bermula saat sebuah pesan singkat masuk di jam 11.36 WITA. Minggu, siang
kemarin saya tidak punya rencana kemana-mana sebenarnya. Jadi sejak bangun pagi
saya lantas melanjutkannya dengan relaksasi tulang punggung; baring-baring di
atas tempat tidur. Hahahah.... Isi pesan itu pendek saja; “Jalan-jalan ko?”
“Kemana?” tanya
saya. “Jalan-jalan rewong poi” balas
si pengirim pesan. Dua kata terakhir itu kosakata bahasa daerah Sikka yang
kira-kira berarti ‘sembarang saja’. Dalam konteks percakapan ini berarti
jalan-jalan tanpa tujuan. Selanjutnya dapat ditebak, seusai membalas “oke”,
saya melompat dari tempat tidur, menyambar handuk di jemuran dan mandi.
Danau Bowu, Kabupaten Ende
Danau Bowu
berada di semenanjung utara Kabupaten Ende tepatnya di Desa Tou Timur,
Kecamatan Kota Baru. Desa ini berbatasan langsung dengan Kabupaten Sikka dan
menjadi gerbang utara menuju. Kabupaten Ende.Bila dihitung dari kota Maumere, Kabupaten
Sikka, jarak ke danau ini sekira 42 km. Berkendara 50km/jam hanya membutuhkan
waktu tempuh 1 jam untuk tiba di danau ini. Begitu tiba di Desa Tou Timur, kami
lalu menyisir 500 m ke arah pantai untuk
tiba di danau.
| Belut-belut yang ditangkap keluarga Nyong dari danau Bowu |
Siswa sekolah dasar ini jago berenang. Sehari-hari dia biasanya bermain di danau yang letaknya tidak jauh dari perumahan mereka. Sementara sang ayah adalah nelayan. Ayah Nyong memasang pukat di danau. Hasil tangkapan dijual oleh ibunya di sepanjang jalur jalan trans Flores.
| Ini ikan hasil tangkapan anak-anak desa Tou Timur |
Warga desa
Tou Timur ramah terhadap pengunjung. Seperti om Hipar. Pria yang suka tersenyum
lebar saat bercerita ini membawakan untuk kami satu sisir pisang. “Untuk teman
makan belut” katanya. Ibunya Nyong (saya lupa menanyakan nama ibu baik hati
ini) malah ‘memerintahkan’ Nyong untuk menemani kami ke danau sekaligus
membantu membuatkan api dan memanggang belut.
| Nyong menyiapkan pemanggang dari ranting pohon reo |
Namun karena deras hujan dan tak dapat keluar rumah, sang tetangga lalu mengikat sepotong kayu yang berbara api pada ekor anjing. Melihat anjing yang membawa kayu dengan bara api, seorang tetangga lainnya menertawakan kejadian itu.
Peristiwa selanjutnya hujan justru semakin lebat mengakibatkan seluruh wilayah digenangi air menutup seluruh pekampungan sehingga menjadi danau. “Dulu warga masih melihat tiang-tiang bekas rumah penduduk kampung yang tenggelam. Namun sekarang sudah hilang. Warga yang meninggal dalam bencana itu dikubur di persawahan sana. Kami masih membakar lilin di makam mereka pada waktu-waktu tertentu” tutur Om Hipar sambil menunjuk areal persawahan di sisi timur danau.
| Belut panggang |
Kami menikmati belut panggang dan pisang bakar sambil menyaksikan orang-orang memancing di tepi danau. Orang-orang yang memancing itu berasal dari desa tetangga. Seperti penuturan om Hipar tadi, danau ini terbuka bagi siapa saja yang ingin memancing. Anak-anak terlihat bersemangat mengayuh perahu di tengah danau. Sesekali mereka melompat dari atas perahu dan berenang. Di kejauhan alang-alang dan barisan pohon kelapa melambai tertiup angin. Wah, sempurna..
| Primus dan Ius berperahu mengantar saya berperahu di danau |
| Seorang bersantai di tengah danau |
Sudah 5 jam kami lewatkan di tepi danau ini. Mentari sudah menggelayut manja di punggung bukit dan cakrawala bersemu jingga. Sebentar lagi langit akan menyibak tirai malam. Pelancongan kami di danau Bowu harus kami akhiri.
Komentar
Posting Komentar