![]() |
| Pakcoy Yos Laza (Foto: brnrdlzr) |
Matahari sudah condong ke ufuk barat ketika Bernard dan saya berkendara
menuju Napung Langir. Kami sepakat untuk melewati senja hari itu (18/5) di
kediaman Yos Lazar. Ada model pertanian baru, setidaknya untuk saya—yang hendak dipelajari. Pertanian perkotaan
atau urban farming, dengan media
hidrponik. Yos Lazar jadi satu-satunya orang di Kota Maumere yang saya ketahui
telah memulainya.
“Sabar, saya pindahkan selang”.
Ini pernyataan yang keluar dari bibir pria 53 tahun itu, ketika saya
mengajukan pertanyaan pertama. Ah, ya, pengawas guru itu tengah menggenangi
petak sayuran di halaman rumahnya. Inilah aktifitas beliau saban pagi dan senja.
Diskusi kami mengalir diantara kesibukannya merawat sayuran di lahan 10 x 20 meter.
Di depan rumah.
Bertani bukan hal baru untuk Yos Lazar. Sejak masa remaja di Tana
Tereket, Kabupaten Lembata, bapak tiga putera itu sudah bertani. Bahkan,
setamat SMP, Yos nyaris berhenti sekolah untuk menjadi petani. Untunglah,
fisiknya yang kecil untuk ukuran remaja seusianya menghalangi jalan pintas yang
hendak dia ambil. Berkebun mengandalkan peralatan tradisional di punggung bukit
terjal desa Baopana, Lembata memang tidak menguntungkan orang-orang
berperawakan kecil.
Kembali ke rumah putih di Napung Langir.
Di sisi timur beranda rumahnya, Yos Lazar punya empat bedeng
terong. Juga ada beberapa deret anakan jeruk dalam polibek. Sementara di sisi
barat, ada kerangka baja dengan instalasi pipa paralon bertingkat. Dalam
lubang-lubang pipa itulah Yos bertani pakcoy. 125 pohon pakcoy baru saja
dipanen beberapa hari lalu.
“Saya jual Rp 3.000 per pohon. Banyak orang komentar terlalu murah. Itu sayuran langka
di Maumere”. Pakcoy memang susah
tumbuh bila ditanam langsung di tanah. Karenanya sangat jarang menjumpai
sayuran ini di los sayuran pasar-pasar rakyat di Maumere. Demikian, Yos tak
perlu repot memasarkan hasil panen. Orang-orang datang berbelanja di rumah.
Bertani di media
hidroponik menurut Yos membawa beberapa keuntungan. Pertama, mengatasi kelangkaan
air. Sumber air bersih warga Kota Maumere mengandalkan pasokan air dari
Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Sikka. Sayangnya, jumlah pelanggan
berbanding terbalik dengan ketersediaan air. Di daerah tempat tinggal Yos cukup
beruntung. Meski kucuran air dari keran hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan
dasar rumah tangga, mereka mendapatkan pasokan air 2 jam per hari. Rutin. Tak
seperti nasib warga di beberapa tempat lain di Sikka yang malah terpaksa
membeli air tengki.
Yos memang punya
lahan kosong yang cukup lapang. Namun, menurutnya, hidroponik menambah sisi
estetik lanskap depan rumahnya. Ini alasan kedua, sekaligus yang utama pria
paruh baya ini bertani hidroponik. Saya setuju. Ketika pertama kali tiba,
pandangan saya langsung terkunci pada sayur di atas kerangka baja itu. Menurut
Yos, bukan saya saja yang terpukau. Kebanyakan tamu-tamunya begitu.
Bagaimana dengan
modal membangun konstruksi media tanam?
Yos mengakui,
biayanya memang cukup mahal. Ia perlu merogoh kocek sebesar empat juta rupiah. Namun
ia menuturkan, belanja modal ini hanya sekali. Bibit sayur yang kisaran
harganya 30 ribuan/bungkus pun baru habis terpakai setelah 10 kali masa tanam. Apalagi
sayuran yang dia pilih adalah sayuran kelas premium untuk ukuran Maumere. Dalam
setahun, ia memperkirakan sudah kembali modal.
Lagi pula, bertani
membantunya mengalihkan pikiran dari beban pekerjaan pokoknya. “Saya lupa semua
pekerjaan di kantor begitu mengurus tanaman-tanaman ini”. Ini adalah pendapatan
yang tak dapat diukur dengan uang. Pria ini juga menjadi lebih betah di rumah.
Tanaman-tanaman itu bagai kidung kerinduan yang selalu memanggilnya pulang.
“Sore hari saya bisa sampai 2-3 jam di depan tanaman. (Kalau di luar rumah) ada
kerinduan untuk segera pulang”.
●●●
Saya kira, Yos
adalah tipe petani cum wirausaha
sosial. Ia sangat suka mendorong orang-orang bertani. Tidak hanya berbagi ilmu,
Yos berbagi bibit. “Saya semai 100 pohon tomat, 30 puluh saya bagikan ke
orang-orang. Begitu juga jeruk. Saya bagi ke tetangga sekitar”, kata Yos
sembari tertawa. Saya menemukan kejujuran dan ketulusan di matanya.
Berangkat dari
hobi, hidroponik membawa Yos ke dalam petualangan baru. Dia mulai menggeluti
dunia bisnis konstruksi media tanam hidroponik. Sudah sepuluh orang yang
memintanya membuatkan kerangka baja. Saya pikir, angka ini akan terus bertumbuh.
Posisi Yos sebagai pemain awal hidroponik di Maumere akan menguntungkan bagi
bisnisnya.
‘Ketika kamu
tekun, keberuntungan akan mendekati kamu’, nasihat seorang teman.
Mari bertani!
Catatan: artikel ini pernah diterbitkan untuk Horizon Dipantara. Videonya bisa ditonton disini


Komentar
Posting Komentar