Langsung ke konten utama

Awas Dong Dengar - Alfred Gare ft Pax Group: Selamat Datang Musim Pesta 2018

Maumere sudah memasuki musim pesta tahun 2018. Buat kau yang belum tau, mulainya musim pesta di Maumere tu ditandai dengan dengan rilisnya lagu baru. 




Tahun 2018, indikasi itu datang dari Alfred Gare ft Pax Group lewat single "Awas Dong Dengar". Buat saya, yang menarik dari lagu ini, selain bikin sa tida sabar untuk maju-mundur di lantai pesta--adalah liriknya.



Dalam catatan saya, "Awas Dong Dengar" hanya menambah daftar panjang bukti-bukti fisik yang menunjukkan MAUMERE INI KOTA KESENANGAN*. Bayangkan, lirik yang isinya petuah-petuah menjalani pernikahan tetap bisa bikin orang bangun dan menari mati punya dalam pesta-pesta (yang tidak ada habisnya) di Maumere hari-hari ini.

Sa belum pernah liat orang yang begitu dengar ini lagu seketika merasa perlu duduk manis di kursinya, menyimak.

Kalau Au masi ingat, sa pernah bilang, "lirik lagu 'Bahagia Abadi' tu kalo ko kasi musik disko dangdut, orang Maumere bangun menari". Tidak diragukan, orang bangun menari...

●●●

Kalau mau bawa ini tulisan agak serius, sa mau bilang orang Maumere pu gaya hidup ini aset. Potensial jadi jualan pariwisata. Kalau saya avonturir yang memutuskan berkelana ke Flores--karena terpikat dengan keindahannya begitu membaca artikel Reinard L. Meo dan Elvan De Porres dalam suatu majalah wisata di pesawat--pada suatu waktu dalam lintasan perjalanan saya, rencana perjalanan saya seperti ini:

Mengunjungi Komodo, diving di Labuan Bajo ➡ belajar budaya di Waerebo ➡ memotret Lingko Cara/Lingko Lodok di Manggarai ➡ mendaki di Inerie dan Ebulobo ➡ tamasya ke Kellimutu ➡ belajar tenun di Lepo Lorun.

Adalah suatu kewajaran bagi saya yang kelelahan setelah bertualang dua pekan, sebelum pulang ke kampung halaman, saya merenggangkan badan. Santai di pantai bisa jadi opsi, dengan moke satu atau atau dua sloki.

Bisa juga, saya pi kolong orang pu pesta. Sudah bukan cerita baru, guide bawa turis masuk pesta. Dan mereka senang bukan main, baik turis maupun tuan pestanya. Tidak peduli ko penggemar berat blues atau jazz, dengar lagu-lagu Maumere su pasti bikin ko menari sampai pagi.

Maumere tu Kota Seribu Kuwu. Moke ketemu lagu-lagu Alfred Gare, itu yang orang bilang, "geke gole, soka raka ree".


See?


Catatan: 
*Tentang "Maumere; Kota Kesenangan" akan saya bikinkan tulisan tersendiri. Ingatkan saya untuk itu.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Merenda Masa Depan Generasi Prestasi

Laporan Liputan SMATER Science And English Competition 2016 Antar SMP Se-NT Teks & Foto: HYF Mendung menggelayut di langit Kota Maumere beriring dengan rintik hujan lepas pukul 10.00 WITA, Jumat 18 Maret lalu. Aura kelabu itu kontras dengan suasana di bawah tenda halaman tengah SMATER Maumere. Riuh tepuk tangan ratusan siswa dan guru menggemakan semangat. Hari itu adalah pembukaan “Science And English Competition 2016 Antar SMP se-NTT”.    Seragam aneka warna para siswa SMP dari berbagai daerah di NTT berbaur di bawah tenda di halaman tengah Sekolah Menengah Atas Swasta Katolik Frater (SMATER) Maumere. Putih-Biru dan Safari. Ada juga Batik. Sejak awal panitia telah menyusun aneka piala di sebuah podium di samping panggung utama. Seolah menunjukan kepada setiap kontestan untuk berlomba memenangkan dan membawa pulang sebanyak-banyaknya. Perlombaan ini juga memperebutkan total hadiah Rp 45.000.000,-. Selepas seremoni pembukaan, keriuhan itu usai dan suasana pe...

Endi Paji, Kesetiaan Merawat Sejarah

Sepanjang tiga dekade terakhir, Endi Paji (52 tahun) telah mendedikasikan hidupnya untuk mengelola museum Ledalero. Profesinya dikenal sebagai kurator. "Tulis saja saya staf. Kurator itu ada sekolahnya", tutur Om Endi. ***** Museum Ledalero, 17 km selatan Kota Maumere, NTT menyimpan berbagai benda bersejarah dari pulau Flores. Oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Sikka, museum ini ditetapkan sebagai salah satu destinasi pariwisata Sikka.
"Membaca tidak cukup dengan membayangkan. Membaca hingga dapat mencecap (rasa di dalam tulisan)". Begitu kata teman saya pada satu malam di bulan Februari lalu. Saya tidak cukup paham bagaimana sensasi membaca seperti itu, hingga kemudian saya mengecap manisnya artikel ini :)   Di Bawah Bayang-bayang Gunung Ramelau Terima kasih Om Matheos Messakh. Tulisan yang baik sekali.