Apakah jamak bagi kamu menyaksikan seseorang menyela dirinya sendiri ketika ia tengah mempertontonkan kemegahan dirinya di hadapan dunia? Baru-baru ini saya menemukan salah satu diantara kelompok kecil itu. Usianya sudah 79 tahun ketika itu.
Natalie Trayling adalah oma pelancong pertama yang saya jumpai di YouTube. Pertemuan dengan Natalie adalah berkah akhir tahun. 2018 telah begitu lancang membawa saya ke berbagai petualangan. Sebagaimana irama hidup, separuh perjalanan begitu menggembirakan, lainnya tampak menjemukan. Atau malah menjengkelkan. Maka ketika saya bersinggungan jalan dengan Natalie, saya menyongsong sang pianis dengan segenap sukacita!
![]() |
| Natalie Traylin © Matthew Traylin (YouTube) |
Natalie sejauh yang bisa dilacak di YouTube tidak pernah memainkan komposisi yang populer. Ia memainkan musiknya sendiri. Musiknya adalah catatan perjalanan hidupnya. Nada yang beliau mainkan adalah kisah dan permenungan atasnya.
Natalie bermain dua kali seminggu di selasar sebuah toko di Melbourne. Ia sudah melakukannya bertahun-tahun. Kerena di pinggir jalan, tentu saja banyak orang yang sudah mendengarkan musiknya. Sebagian orang yang mendengarkan lagu-lagunya menanggapi dengan kekaguman. Sebagian lainnya berlalu begitu saja. Mungkin karena sering melewati jalur itu, penampilan Natalie menjadi biasa saja.
Bagi Natalie sendiri, karena bukan sebuah pertunjukan, maka bebas saja bagi beliau untuk menyela permainannya. Tidak ada kecemasan pada raut wajah Natalie bahwa penyimpangan itu mengurangi keindahan. Balik lagi, musiknya adalah catatan perjalanan hidupnya. Nada yang ia mainkan adalah kisah dan permenungan atasnya.
Natalie terus mencipta, memainkan, menggubah, menampilkan lagi. Mencipta. Begitu terus menerus. Tidak ada yang istimewa. Semua mengalir begitu saja. Selayaknya hidup. Piano adalah kendaraan Natalie berkelana.
Saya kagum dengan usaha Natalie memurnikan dirinya di tengah-tengah keriuhan dunia. Bagaimana orang bisa khusyuk berkontemplasi di pinggir jalan? Di pinggir jalan sodara-sodara!
Sepanjang usianya, Natalie telah dihadang beragam masalah. Di masa muda, sang suami meninggalkannya. Dua anak perempuannya meninggal. Pernah menjadi tunawisma. Tetapi Natalie tidak menarik diri dari dunia. Perempuan tua ini bahkan tetap bermain meski rematik telah menjalar di sekujur tubuhnya.
Natalie hidup dan menjalani kehidupan. Merasakan gerak alam, terhubung dengan manusia. Apa pun yang terjadi, hidup tetap dia jalani.
"Matty, today is the last day of winter", kata Natalie kepada putranya, suatu hari di koridor sebuah rumah sakit. Natalie sedang dalam perawatan. Penyakitnya kambuh. Tapi jemarinya tetap menari di atas tuts piano.
"Hari ini adalah hari terakhir musim dingin". Esok adalah hari baru.
Seperti musim yang berlalu, demikian juga masalah. "This too shall pass, ini pun akan berlalu". Sebuah ungkapan dari abad pertengahan ini mungkin yang menjadi suluh dalam peziarahan Natalie. Hadapi, jalani, nikmati.
Selamat menyambut Natal, Natalie. Semoga senantiasa sehat, senantiasa tabah menjejak waktu dan peristiwa. Semoga ada kesempatan bersua di 2019. Terima kasih sudah berbagi.
Salam ke Melbourne!
_pelancong

Komentar
Posting Komentar