Mengenal Nama-Nama Jalan di Maumere
Sebuah Panduan Untuk Warga Maumere Sendiri
![]() |
| Kota Maumere, Fores. (Foto: Maumere TV) |
Akuilah, meski pun kau orang asli Maumere; Bapa-Mama
dari Hapengkabor, Natarweru Magepanda, Boganatar dan sekitarnya, misalnya; atau
pun kau pendatang yang su tinggal
lama di dalam kota Maumere, sesungguhnya tidak banyak nama jalan yang ko hafal.
Sebenarnya ini bukan kop kesalahan ju. Ini
semua terjadi karna kita di Momere ni
terbiasa omong nama tempat. Bukan nama jalan. Waioti, Pensip, Wolbi, Gardena,
atau Kabor misalnya, tentu ko tau.
Coba sekarang tanyakan di dalam lubuk hatimu yang paling dalam; tahukah kamu,
di mana itu Jalan Pati Rangga? Bingung to? Sa ju untung baik ini
malam lewat di situ. Makanya sa tau
:D
Saking disepelehkannya nama jalan di Maumere, beberapa
tempat yang papan nama jalannya rubuh/hilang tidak diperbaiki pemerintah
daerah. Hingga hari ini. Jangan heran apabila pangkalan data Google
Map menuliskan nama tempat untuk menerangkan suatu kawasan di Maumere.
Akibatnya cakupan wilayah suatu lokasi menjadi luas. Sebagian wilayah dalam peta
Google Maumere malah belum diberi keterangan apa pun.
Mengenal
Nama-Nama Jalan di Maumere
Sebelum kita mulai, saya perjelas beberapa hal:
Pertama, kita tidak butuh peta.
Alasannya, karena kita semua orang Maumere.
Kedua, mengingat luasnya wilayah Kota Maumere,
saya akan menjabarkan nama-nama jalan di wilayah timur Pertokoan Maumere hingga
Waioti. Sisanya kalian bisa belajar di Google Map.
Ketiga,
saya gunakan Studio Maumere TV
sebagai titik tolak penelusuran ini.
Sebenarnya kita bisa gunakan landmark lain yang lebih
umum. Misalnya Gelora Samador. Tapi, mengingat belum banyak diantara kamu yang
tau, Maumere sudah punya tv online (meskipun sudah meninggalkan tidak kurang 60
jejak digital dalam bentuk news, feature and documentaries sepanjang
19 bulan terakhir), sa memilih gunakan Maiwali29, studio Maumere TV sebagai penanda.
Keempat,
Maiwali29 letaknya di Jalan Don Thomas Maumere, No. 29. Oiya, lupa. Karena kamu
belum familiar dengan nama-nama jalan di Maumere (dan karena itu artikel ini
ditulis), gampangnya, dep lokasi di
Kota Baru. 30 meter sebelah utara Roxy. Persisnya, di depan studio Radio Suara
Sikka.
Okeh, mari kita mulai.
![]() |
| Kompleks sisi utara Lapangan Kota Baru. Selama ini dikenal sebagai Kampung Sabu atau juga Gardena—merujuk pada nama hotel—dengan nama jalan, Jalan Patty Rangga. |
Dari Maiwali29 ke arah Waioti, ada empat jalur jalan
yang biasa kita gunakan. Pertama,
‘jalan bawah’. Orang Maumere menyebut ‘jalan bawah’ merujuk kepada
jalur yang membentang dari Pelabuhan-Toko Nita-Kampung Beru-Wairotang hingga
patung ‘Teka Iku’. ‘Jalan bawah’ nama resminya adalah Jalan Sultan Hasanudin.
Kedua,
jalur depan Toko Go,lewat Sina Meluk menuju Kesokuit. Nama jalur itu Jalan Sutomo. Dari Jalan Sutomo, kita
bisa berbelok ke selatan menuju SMAS Bhaktyarsa, untuk kemudian belok kiri dan
terus ke Waioti. Bila memilih berbelok ke utara, kita akan bersinggungan dengan
Jalan Sultan Hasanudin (depan bengkel
Armesti, Wairotang).
Ketiga,
dari Maiwali29, kita bisa ke selatan, ketemu ‘lampu merah’ Kantor Pos, belok
kiri dan terus arah Waioti. Ada dua hal yang perlu saya luruskan di sini.
Poin a)
mengenai ‘lampu merah’. Kita orang Maumere harus biasakan diri sebut itu
'lampu merah' sebagai ‘lampu lalu lintas’. Menyebut ‘lampu merah’ untuk ‘lampu
lalu lintas’ adalah salah satu bentuk ketidakadilan. Kita telah menganulir
peran dua lampu lainnya dalam mengurai arus kendaraan. Tanpa lampu hijau dan
lampu kuning, jelas kita akan seharian terpanggang terik matahari Maumere yang
panasnya makin menjadi-jadi setelah pohon-pohon sepanjang jalan dipangkas rata
dengan tanah.
Poin b) mengenai nama jalan. Mulai dari depan Gelora
Samador membentang Jalan Ahmad Yani.
Jalan ini melewati beberapa tempat; Mapolres Sikka-Kantor Bupati-SMAS
Bhaktiyarsa-Barata. Ujung jalan ini nantinya bersinggungan dengan Jalan Sultan Hasanudin di depan patung
‘Teka Iku’. Simpul itu sekaligus menjadi pangkal Jalan Jend. Sudirman. Nama
yang terakhir ini melintasi Makodim Sikka-Hotel Permata Sari-Pom Bensin
Bolawolon dan berakhir di Terminal Lokaria.
![]() |
| Bekas Kantor Departemen Penerangan Kabupaten Sikka. Sekarang menjadi Kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil. |
Keempat, lewat
jalan lingkar luar.
Dari Maiwali29 menuju ke jalan lingkar luar, kita
akan melewati ‘Penarangan’ dan ‘Lorena’. Mulai hari ini, biasakan lidah
mengucap Jalan Soekarno-Hatta. Kantor
Dinas Penerangan yang jadi pabrik propaganda media rezim Soeharto itu sudah
lama tutup. Lokasinya sekarang ditempati Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil.
Lagi pula, saya kira menyebut Jalan
Soekarno-Hatta lebih ramah di kuping dan hemat energi, ketimbang
‘Disdukcapil’.
Saya kasi ilustrasinya mengapa ‘lebih ramah di kuping
dan hemat energi’ dalam percakapan antara Nong Konjak dan Nona Penumpang
berikut:
Dulu
Nong : Mau
ke mana,Nona?
Nona :
Penarangan, kaka.
Nong : Mari
su, naik.
Sekarang
(mengganti ‘Penarangan’ dengan ‘Jalan Soekarno-Hatta’)
Nong : Mau
ke mana, Nona?
Nona : Jalan
Soekarno-Hatta, kaka.
Nong : Mari
su, naik.
Sekarang
(mengganti ‘Penarangan’ dengan ‘Disdukcapil’)
Nong : Mau
ke mana, Nona?
Nona :
Disdukcapil, kaka.
Nong : Apa
tu?
Nona : Dinas
Kependudukan dan Catatan Sipil.
Nong : Di
mana tu?
Nona : Di
Jalan Soekarno-Hatta, kaka.
Nong : Hmm..
Nona ni. Tadi bilang satu kali baik.
(Percakapan dihentikan di sini sebelum keduanya bakulai.)
Sudah jelas to?
Beberapa
Tempat Familiar dan Jalan yang Melintasinya
Pertokoan Maumere
Toko Bogadharma menuju Toko Nita adalah Jalan Raja Centis. Sementara dari Toko
Batu Gajah menuju Hotel Benggoan 1 adalah Jalan
Moa Toda.
Sinde Kabor-Kota Uneng : Jalan Don Juang.
Varanus-Gelora Samador-PLN-Misir-Madawat-Nangalimang
: Jalan Gajah Mada.
Gereja St. Yoseph : Jalan Mgr. Sugiyopranoto.
Kantor Agama-Rumah Sakit-STM : Jalan Wairklau.
El Tari : Tambahkan ‘jalan’ di depannya.
Studio Maumere TV : Jalan Maiwali, No. 29.
Gramedia-Unipa-Obor Mas : Jalan Kesehatan.
Jalan Brai: sudah
benar.
Pensip : Jalan
Adisucipto.
Biggong Tedang Kopi-Pantai Paris-Kaisar Salon : Jalan Nairoa.
Tempat-tempat
Tanpa Nama Jalan
Memang, sebagian wilayah, bahkan di dalam kota--di
Kabupaten Sikka, belum punya nama jalan. Sebenarnya ini hal yang positif.
Artinya, nama kita-kita yang lahir setelah Teka-Iku, Frans Seda, dan Laurens
Say, punya berpeluang besar dimarkah sebagai nama jalan.
Prasayaratnya: kurangi wacana, tingkatkan karya,
berkontribusi membangun Nian Tana. Tentu saja.
19, 30-31Juli 2018
_pelancong




Komentar
Posting Komentar