Pengantar: tulisan ini sebelumnya pernah dipubikasikan di blog ini dengan judul "Yang Muda Yang Berternak". Seperti yang sudah saya tuliskan pada catatan akhir, ia ditulis sebagai bahan lelucon antarteman.
Namun untuk suatu alasan yang saya tidak tahu apa, sahabat saya pikir bagus untuk diterbitkan pada koran mereka. Untuk itu, 'dengan terpaksa', saya memperbaiki dan menambahkan beberapa bagian pada tubuh tulisan. Dengan maksud memenuhi prasayarat jurnalistik.
Semoga ini menjadi konsumsi publik yang berguna (meski saya sendiri tidak yakin) ;)
![]() |
| Koran Dwi Mingguan Ekora NTT edisi 1 - 15 Juli 2017 |
Kehidupan daring memang penting. Tapi...
Beberapa orang mengajukan pertanyaan kepada saya, "Akel dimana? Di facebook sudah tidak pernah muncul lagi". Memang berapa bulan terakhir Akel dan joke-jokenya yang segar seolah menghilang dari Beranda banyak orang.
Demi menjawab pertanyaan warganet, suatu sore jam 5, saya berkunjung ke rumah pemilik akun facebook @achelldha. Motor ada di garasi. Pemiliknya tidak kelihatan di teras.
Tuan rumah ternyata sedang di halaman belakang. Duduk merokok di atas kursi malas sembari menjulurkan kedua tungkai kakinya yang panjang. Tehnya tinggal separuh gelas ketika saya bergabung. Ia tengah memperhatikan dua ekor anak ayam yang melangkah tak bertenaga.
Pekarangan 10x13 meter itu riuh dengan suara ayam. "Banyak sekali anak ayam..", saya membuka pembicaraan.
"Semua punya nama. Hanya muka sama semua, jadi kita tidak bisa bedakan", begitu Akel. Jenaka seperti biasa.
Ada tiga kandang ayam di sana. Ukurannya sama, hanya formasi ruangannya yang berbeda. Kandang pertama punya 5 kabin, sementara kedua dan tiga hanya punya 3.
Saat ini tersisa 3 ekor induk dengan 20an ekor anak yang menghuni bilik-bilik bambu itu. Serangan penyakit baru-baru ini membunuh 3 ekor ayam bangkok. Belasan telurnya juga tidak selesai dikerami. Ditinggal mati sang induk.
Di sisi lain halaman ada petak kecil. Hanya dua jenis tanaman di sana; ubi dan pepaya.
"Itu untuk makanan babi", terang Akel.
Memang ada kandang babi di pojok timur. Empat ekor babi banpres besar-besar mengisi kandang bersekat 4 itu.
Kemudian Akel menambahkan, "saya ingin juga mencoba budidaya pepaya Jepang".
Rupanya, kesibukan beternak dan berkebun yang membuat Akel menghilang dari keriuhan media sosial. Bermula dari satu induk ayam tahun lalu, lalu bertelur, selanjutnya tak terasa, generasi pertama sudah menunaikan tujuan kehidupannya: jadi santapan yang lezat. Unggas-ungas itu bukan untuk dijual. "Hanya untuk memenuhi kebutuhan gizi keluarga. Dan sekali dua kali jadi lepeng", tandasnya.
Akel mengakui, sejak Januari tahun ini ia tidak lagi intens dengan facebook. "Hiruk pikuk di halaman belakang lebih menyenangkan", katanya.
Kala pagi dan sore, pintu-pintu kandang dibuka. Puluhan unggas itu menerima jatah makan dari sang pemilik. Sekaligus mendapat asupan mentari.
Hal lain yang membuat lelaki Aquarius ini betah juga karena mendapat dukungan penuh dari istri dan anak. Misel turun langsung membantu memasukan ayam ke kandang. Meski alih-alih membantu, putranya yang belum genap 3 tahun lebih tepat disebut bermain dengan ternak tersebut. Sementara Tata, istrinya, memberi dukungan pelayanan kesehatan. Sehari-hari, Tata bekerja sebagai tenaga kesehatan di rumah sakit pemerintah.
Saat ini 2 ekor anak ayam yang tampak malas-malasan tadi sedang menjalani masa pengobatan. Akel punya ramuan; rebusan daun pepaya dicampur irisan bawang. Kasiatnya belum teruji. Sepenuhnya improvisasi.
Ia memutuskan tidak mengisolasi 2 ayam penyakit tersebut. "Di dalam kandang mereka ngantuk. Tida ada aktivitas to. Ayam biar sakit tetap butuh kesibukan. Biar tidak stress", kilahnya.
Awal Juni kemarin, Akel dan keluarga kecilnya memulai usaha retail beras produksi Magepanda, Kabupaten Sikka. Bagi pria yang telah 11 tahun menjadi PNS ini, kesibukannya yang sekarang lebih membahagiakan batin ketimbang wara-wiri di facebook.
Ia membuat saya teringat dengan Alfons Hilari, tetangga kami yang lain. Lelaki 40 tahun ini senang menjelajah dan menggemari fotografi travel. Laiknya Akel, pada semester pertama 2017 ini kami juga tidak lagi menemukan foto-foto Alfons di facebook.
Magister Hukum itu bukannya jenuh melancong. Bukan juga kekurangan materi untuk status efbi. Ia hanya sedang menikmati petualangan berbeda; mengurus kebun jati dan mahoni. Bersama anak dan istri, Alfons mengelola lahan pribadi lebih dua hektar di perbukitan tenggara Kab. Sikka. Tentu 20 tahun lagi, putranya yang belum genap sebulan menyambut Komuni Suci tak perlu cemas dengan biaya pendidikan doktoral. Ke luar negeri, sekali pun.
Akhir-akhir ini republik goncang dengan berbagai kisruh. Kita dapat menyebut banyak contoh. Media sosial mengambil peran besar untuk mengompori. Sebagian diantara kita adalah sumbu-sumbunya. Beberapa olahragawan jempol tersebut malah bersumbu pendek. Pada akhirnya harus menerima undangan bertanding. Bukan di lapangan hijau tapi di meja hijau.
Bagi saya, Akel dan Alfons adalah anomali yang bisa jadi inspirasi. Sebagai orang tua masa kini, mereka hidup diantara realita dan dunia dalam jaringan (daring). Meski begitu, keduanya terampil menempatkan mana yang perlu: bisnis dahulu, on line kala ada waktu.
##
Matahari sudah terbenam. Blue hour dengan corak awan putih abu-abu menguar di kubah langit ketika Akel memasukan anak ayam terakhir di kandang. Sore yang menyenangkan dari rumah ujung lorong Berdikari.
Jangan lupa berdiri di atas kaki sendiri!
*lepeng (bahasa daerah Sikka): panganan sebagai teman minum arak tradisional
Beberapa orang mengajukan pertanyaan kepada saya, "Akel dimana? Di facebook sudah tidak pernah muncul lagi". Memang berapa bulan terakhir Akel dan joke-jokenya yang segar seolah menghilang dari Beranda banyak orang.
Demi menjawab pertanyaan warganet, suatu sore jam 5, saya berkunjung ke rumah pemilik akun facebook @achelldha. Motor ada di garasi. Pemiliknya tidak kelihatan di teras.
Tuan rumah ternyata sedang di halaman belakang. Duduk merokok di atas kursi malas sembari menjulurkan kedua tungkai kakinya yang panjang. Tehnya tinggal separuh gelas ketika saya bergabung. Ia tengah memperhatikan dua ekor anak ayam yang melangkah tak bertenaga.
Pekarangan 10x13 meter itu riuh dengan suara ayam. "Banyak sekali anak ayam..", saya membuka pembicaraan.
"Semua punya nama. Hanya muka sama semua, jadi kita tidak bisa bedakan", begitu Akel. Jenaka seperti biasa.
Ada tiga kandang ayam di sana. Ukurannya sama, hanya formasi ruangannya yang berbeda. Kandang pertama punya 5 kabin, sementara kedua dan tiga hanya punya 3.
Saat ini tersisa 3 ekor induk dengan 20an ekor anak yang menghuni bilik-bilik bambu itu. Serangan penyakit baru-baru ini membunuh 3 ekor ayam bangkok. Belasan telurnya juga tidak selesai dikerami. Ditinggal mati sang induk.
Di sisi lain halaman ada petak kecil. Hanya dua jenis tanaman di sana; ubi dan pepaya.
"Itu untuk makanan babi", terang Akel.
Memang ada kandang babi di pojok timur. Empat ekor babi banpres besar-besar mengisi kandang bersekat 4 itu.
Kemudian Akel menambahkan, "saya ingin juga mencoba budidaya pepaya Jepang".
Rupanya, kesibukan beternak dan berkebun yang membuat Akel menghilang dari keriuhan media sosial. Bermula dari satu induk ayam tahun lalu, lalu bertelur, selanjutnya tak terasa, generasi pertama sudah menunaikan tujuan kehidupannya: jadi santapan yang lezat. Unggas-ungas itu bukan untuk dijual. "Hanya untuk memenuhi kebutuhan gizi keluarga. Dan sekali dua kali jadi lepeng", tandasnya.
Akel mengakui, sejak Januari tahun ini ia tidak lagi intens dengan facebook. "Hiruk pikuk di halaman belakang lebih menyenangkan", katanya.
Kala pagi dan sore, pintu-pintu kandang dibuka. Puluhan unggas itu menerima jatah makan dari sang pemilik. Sekaligus mendapat asupan mentari.
Hal lain yang membuat lelaki Aquarius ini betah juga karena mendapat dukungan penuh dari istri dan anak. Misel turun langsung membantu memasukan ayam ke kandang. Meski alih-alih membantu, putranya yang belum genap 3 tahun lebih tepat disebut bermain dengan ternak tersebut. Sementara Tata, istrinya, memberi dukungan pelayanan kesehatan. Sehari-hari, Tata bekerja sebagai tenaga kesehatan di rumah sakit pemerintah.
Saat ini 2 ekor anak ayam yang tampak malas-malasan tadi sedang menjalani masa pengobatan. Akel punya ramuan; rebusan daun pepaya dicampur irisan bawang. Kasiatnya belum teruji. Sepenuhnya improvisasi.
Ia memutuskan tidak mengisolasi 2 ayam penyakit tersebut. "Di dalam kandang mereka ngantuk. Tida ada aktivitas to. Ayam biar sakit tetap butuh kesibukan. Biar tidak stress", kilahnya.
Awal Juni kemarin, Akel dan keluarga kecilnya memulai usaha retail beras produksi Magepanda, Kabupaten Sikka. Bagi pria yang telah 11 tahun menjadi PNS ini, kesibukannya yang sekarang lebih membahagiakan batin ketimbang wara-wiri di facebook.
Ia membuat saya teringat dengan Alfons Hilari, tetangga kami yang lain. Lelaki 40 tahun ini senang menjelajah dan menggemari fotografi travel. Laiknya Akel, pada semester pertama 2017 ini kami juga tidak lagi menemukan foto-foto Alfons di facebook.
Magister Hukum itu bukannya jenuh melancong. Bukan juga kekurangan materi untuk status efbi. Ia hanya sedang menikmati petualangan berbeda; mengurus kebun jati dan mahoni. Bersama anak dan istri, Alfons mengelola lahan pribadi lebih dua hektar di perbukitan tenggara Kab. Sikka. Tentu 20 tahun lagi, putranya yang belum genap sebulan menyambut Komuni Suci tak perlu cemas dengan biaya pendidikan doktoral. Ke luar negeri, sekali pun.
Akhir-akhir ini republik goncang dengan berbagai kisruh. Kita dapat menyebut banyak contoh. Media sosial mengambil peran besar untuk mengompori. Sebagian diantara kita adalah sumbu-sumbunya. Beberapa olahragawan jempol tersebut malah bersumbu pendek. Pada akhirnya harus menerima undangan bertanding. Bukan di lapangan hijau tapi di meja hijau.
Bagi saya, Akel dan Alfons adalah anomali yang bisa jadi inspirasi. Sebagai orang tua masa kini, mereka hidup diantara realita dan dunia dalam jaringan (daring). Meski begitu, keduanya terampil menempatkan mana yang perlu: bisnis dahulu, on line kala ada waktu.
##
Matahari sudah terbenam. Blue hour dengan corak awan putih abu-abu menguar di kubah langit ketika Akel memasukan anak ayam terakhir di kandang. Sore yang menyenangkan dari rumah ujung lorong Berdikari.
Jangan lupa berdiri di atas kaki sendiri!
*lepeng (bahasa daerah Sikka): panganan sebagai teman minum arak tradisional

Komentar
Posting Komentar