Langsung ke konten utama

Fragmen Baru Kakao Nusantara

Teks: Herman Yoseph Ferdy Foto: Valentino Luis

Kokoh menjejak ranking 3 negara penghasil kakao terbesar di dunia dalam 3 dekade terakhir tak membuat Indonesia berpuas diri. Sejak 2014, Pemerintah telah menanam patok baru; penghasil kakao terbesar pada 2020.



WAJAR bila Mohammad Nasir, Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi RI menyanjung Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia. Laik pula sang menteri menganjur 67 Science Techno Park di Indonesia mencontoh lembaga yang berkedudukan di Jember ini. Sejak berdiri tahun 1911, Puslit Koka telah menghasilkan inovasi lebih dari 100 klon kakao dan sedikitnya 400 klon kopi. Dua sektor perkebunan tersebut diketahui menyumbang devisa besar bagi negara dari sektor non migas.

Prestasi riset terbaru adalah menghasilkan Monasa dan Hanasa. Keduanya adalah klon kakao unggulan yang dapat memacu produktivitas hingga 4,8 ton/hektar. Ini kabar baik. Efek berantai akan menguntungkan banyak pihak. Saat ini produksi kakao nasional berkisar 400-600 kg per hektar.

Kakao terutama dihasilkan dari perkebunan rakyat. 1,7 juta petani menyandarkan hidupnya dari kakao. Bila saat ini setiap 1 hektar lahan kakao petani memperoleh 14 juta/tahun, angka itu akan melonjak berlipat ganda. Kesejahteraan petani meningkat beriring dengan naiknya daya beli masyarakat. Bagi produsen kakao olahan, bertambahnya pasokan bahan mentah berarti lebih banyak produksi.



Narasi Kakao Indonesia



Theobroma cacao, begitu nama lengkapnya. Tumbuhan perennial dalam rupa pohon ini menjejak nusantara pada tahun 1560. Tanaman asli Mezoamerika ini dibawa oleh para penjajah Spanyol. Pulau Sulawesi menjadi portal masuknya “minuman para dewa” tersebut di Indonesia.

Sebelum abad ke 19, produksi kakao nasional berkisar puluhan ribu ton. Pada tahun 1912, di kebun Djati Roenggo Jember, dibuatlah seleksi klon. Muncul klon istimewa; kakao mulia. Kakao jenis ini sangat diminati pecinta cokelat lintas negara. Sampai-sampai julukan crème de la crème disematkan untuknya.

Selanjutnya dilakukan pengembangan kakao jenis lindak di awal tahun 1980-an. Inilah babak yang mengukuhkan Indonesia sebagai produsen kakao terbesar ketiga di dunia. Seturut data Dewan Kakao Indonesia, pada tahun 2015 produksi biji kakao Indonesia mencapai 657 ribu ton.

Negeri ini memiliki potensi untuk memacu produktifitas kakao hingga 1,2 juta ton per tahun. Sebab pengelolaan pada perkebunan rakyat belum lagi maksimal. Pada tahun 2008 Pemerintah melakukan identifikasi lapangan. Hasilnya, tak kurang 450 ribu hektar tanaman ini tergolong tua, rusak, tidak produktif dan kurang perawatan. Tanaman-tanaman tersebut juga terserang hama dan penyakit.

Pemahaman perlu diberikan kepada petani. Penyuluhan menjadi kunci. Karenanya, sejak tahun 2009 Pemerintah meluncurkan program Gerakan Nasional Kakao. Petani didorong melakukan peremajaan, rehabilitasi dan intensifikasi pada kebun kakao. 

Berbagai pihak mengambil peran untuk menyokong upaya Pemerintah. Puslitkoka Indonesia mencetuskan program pendampingan petani. Lembaga ini mendekatkan penelitinya dengan petani di 100 kabupaten sentra produksi kakao. Petani bisa bertanya langsung mengenai masalah dan solusinya.


Di Flores, NTT sejak tahun 2006 LSM Swisscontact mendorong petani memperbaiki pola tanam. Petani kakao dibimbing melakukan pertanian organik serta dikenalkan dengan sistem pemasaran bersama hasil-hasil pertanian. Dengannya, petani memiliki posisi tawar dalam menentukan harga.

Selain Flores, Swisscontact juga melakukan pendampingan petani kakao di 6 provinsi lain yaitu Aceh, Sumatera Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Barat dan Sulawesi Tengah. Hingga November 2015, lebih dari 57 ribu petani kakao telah mendapatkan pelatihan tersebut.

Program ini juga berhasil mencetak 5.450 petani profesional yang menghasilkan produksi kakao sebanyak 1.000 kilogram biji kering/hektar/tahun.


Sekelumit Rintangan



Ada istilah khusus di kalangan pelaku usaha kakao, “produktivitas tanaman kakao bisa tinggi tergantung dari jejak kaki atau sepatu petani di sekitar tanaman itu”. Artinya, kakao perlu perawatan khusus.

Amat penting untuk membudidayakan kakao secara intensif dengan perlakuan dan perhatian khusus. Pemupukan berkala menjadi ritual wajib. Di musim kemarau, kakao butuh tanaman pelindung agar tidak kering. Kala musim hujan, gulma tanaman mesti disiangi.

Namun, yang dilakukan sebagian besar petani kakao sekarang adalah membiarkan tanamannya tumbuh sendiri. Tidak dirawat dengan baik. Imbasnya, sebagian besar lahan produktivitasnya hanya sekira 500 kilogram/hektar. Padahal, potensi hasil kakao bisa dipacu 2 ton/hektar. Bahkan, pada beberapa petani yang berpikiran maju, hasil kebunnya bisa mencapai 3 ton/hektar.

Saat ini, dengan luas lahan 1,5 juta-1,7 juta hektar, produksi kakao nasional diantara 400-600 ribu ton per tahun. Padahal, hanya dengan meningkatkan setengahnya, produksi akan mencapai 1,5 juta ton.


Kabar Gembira


Meskipun banyak petani kakao yang berkebun subsisten, sebagian lainnya telah bertani cerdas. Mereka mengolah lahan, memberikan pupuk, melakukan perawatan tanaman berkelanjutan. Pasalnya harga kakao terus membaik dari tahun ke tahun. Hal ini tak lepas dari regulasi yang dikeluarkan Pemerintah pada 2010 silam. Peraturan tersebut menekan ekspor dengan penerapan bea keluar 10%.

Ekses dari peraturan ini sungguh menggembirakan. Pasca pemberlakuannya, tren ekspor biji kakao mengalami penurunan. Sementara itu tren ekspor produk kakao olahan meningkat. Sejak 2010 lebih banyak investor asing menanamkan modal di Indonesia.

Beberapa perusahaan besar mulai membangun pabrik, seperti PT Asia Cocoa Malaysia, Barry Callebaut Comextra Swiss, dan Jebe Koko Malaysia. Ada lagi PT Cargill Cocoa dan Chocolate Jos De Loor yang membangun pabriknya di Gresik, Jawa Timur di tahun 2014. Total investasi di indusri ini lebih dari 4,5 triliun rupiah. Pabrik tersebut tersebar di pulau Sumatera, Jawa dan Sulawesi.


Kakao Premium



Seperti halnya kopi, kakao memiliki specialty-nya sendiri. Kakao premium Indonesia saat ini tengah digandrungi pecinta cokelat lintas negara. 


Kakao Polman
Biji kakao dari Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat ini salah satu yang terbaik di Indonesia. Ukuran biji terbaik Polman kurang dari 90 biji per 100 gram. Beberapa kebun petani penghasil telah bersertifikat kakao berkelanjutan. Hasil pengujian oleh sebuah perusahaan pengolahan cokelat di Amerika menunjukkan jika kakao Polman memiliki cita rasa yang unik saat diolah menjadi cokelat.

Kakao Luwu Utara
Salah satu kelebihan kakao dari daerah Sulawesi Selatan ini adalah ukuran bijinya cukup besar. Sekitar 70 sd 90 biji per 100 gram.  Hasil tersebut diperoleh dari kakao jenis MCC 02 yang merupakan klon unggul yang banyak ditanam di Luwu Utara. 

Kakao Tabanan
Kabupaten Tabanan, Bali ternyata tidak hanya terkenal dengan pura Tanah Lot juga sawah bertingkat Jatiluwih. Meskipun untuk ukuran biji tidak seistimewa kakao dari Sulawesi, yakni sekitar 100 per 100 gram, namun kakao Tabanan umumnya dipasarkan dalam bentuk fermentasi. Beberapa diantaranya dihasilkan dari kebun yang telah memiliki sertifikat organik.

Kakao Ende
Kakao jenis ini memiliki ukuran biji paling besar, bisa mencapai 60 biji per 100 gram. Juga dipasarkan dalam bentuk fermentasi. Dari hasil uji coba rasa, kakao dari tanah kelahiran Pancasila ini memiliki aroma seperti alkohol.
Geliat Brand Cokelat Lokal Khas Indonesia
Kita patut bangga dengan perusahaan kakao dalam negeri. Sejumlah nama mulai dikenal luas. Mereka menawarkan cita rasa coklat yang unik. Berikut beberapa diantaranya;

GuSant - Blitar
Bila berkunjung ke Blitar, Anda bisa mampir ke area wisata Kampung Coklat. Di sini tersedia fasilitas pembelajaran budidaya dan olahan cokelat dengan suasana santai dan menyenangkan. Produk khasnya tentu saja cokelat lokal asal Blitar bernama GuSant. Terdapat pilihan cokelat original, dark, dan milk. Ada pula varian rasa apel dan jeruk. 

Cokelat Inyong - Purwokerto
Cokelat Inyong diproduksi rumahan di Kota Purwokerto Banyumas. Dibuat dari dark chocolate lokal bercita rasa pahit lalu dipadukan dengan rasa lain seperti vanilla, almond, dan kayu manis. Cokelat Inyong menggunakan sosok Bawor, wayang khas Banyumas sebagai maskot kemasan. 

Cokelat Monggo - Jogjakarta
Menyebut deretan cokelat lokal tak bisa melewatkan cokelat asli Jogjakarta ini. Didirikan tahun 2003 oleh Thierry Deltourney asal Belgia, Cokelat Monggo kini sukses jadi oleh-oleh ikonik khas Kota Gudeg. Terdapat pilihan rasa unik seperti durian, mangga, kulit jeruk, cabai merah, pala, hingga jahe. 

Chocodot - Garut
Ada cokelat dodol rasa strawberry, sirsak, nangka, melon, jeruk, dan durian. Boleh pilih seturut suasan hati; "Anti Galau," "Cari Pacar," "Enteng Jodoh," "Bikin Kangen," atau "Tolak Miskin". Aneka cokelat ini diberi nama-nama unik seiring budaya pop yang sedang berkembang. Meski dikenal dengan cokelat berisi dodol, kini Chocodot punya varian cokelat lebih beragam seperti dark chocolate, cokelat susu, dan cokelat putih yang lembut. 

Pod Chocolate - Bali
Berada di desa Carangsari, Badung, Anda dapat menemukan Pod Chocolate Factory & Cafe. Disini Anda berkesempatan melihat proses pembuatan cokelat sekaligus mencicipinya. Untuk produk cokelatnya tersedia Pod Bites, Pod Rocks, dan Artisan Bars homemade berisi buah kering, kacang, dan cocoa nibs panggang yang fresh

Pipiltin Cocoa - Jakarta
Pipiltin Cocoa mengolah sendiri biji kakao yang didapat dari petani di Tabanan (Bali), Banyuwangi (Jawa Timur), dan Pidie Jaya (Aceh).  Produknya adalah chocolate bar, praline, choco disc, dan tubos yang berkualitas. Deretan chocolate bar, misalnya, menawarkan dark chocolate lokal. 


PADA tahun 2020, dunia diprediksi mengalami krisis. Bukan krisis keuangan, tetapi krisis cokelat! Langkah Pemerintah untuk menggenjot produktifitas tampaknya bak gayung bersambut. Munculnya perusahaan-perusahan coklat asli Indonesia pun menerbitkan mimpi lainnya; negeri penghasil cokelat!


*Artikel ini ditulis untuk Majalah Pesona Nusantara edisi Mei-Juni 2017. Diterbitkan dengan judul Fragmen Baru Kakao






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Merenda Masa Depan Generasi Prestasi

Laporan Liputan SMATER Science And English Competition 2016 Antar SMP Se-NT Teks & Foto: HYF Mendung menggelayut di langit Kota Maumere beriring dengan rintik hujan lepas pukul 10.00 WITA, Jumat 18 Maret lalu. Aura kelabu itu kontras dengan suasana di bawah tenda halaman tengah SMATER Maumere. Riuh tepuk tangan ratusan siswa dan guru menggemakan semangat. Hari itu adalah pembukaan “Science And English Competition 2016 Antar SMP se-NTT”.    Seragam aneka warna para siswa SMP dari berbagai daerah di NTT berbaur di bawah tenda di halaman tengah Sekolah Menengah Atas Swasta Katolik Frater (SMATER) Maumere. Putih-Biru dan Safari. Ada juga Batik. Sejak awal panitia telah menyusun aneka piala di sebuah podium di samping panggung utama. Seolah menunjukan kepada setiap kontestan untuk berlomba memenangkan dan membawa pulang sebanyak-banyaknya. Perlombaan ini juga memperebutkan total hadiah Rp 45.000.000,-. Selepas seremoni pembukaan, keriuhan itu usai dan suasana pe...

Endi Paji, Kesetiaan Merawat Sejarah

Sepanjang tiga dekade terakhir, Endi Paji (52 tahun) telah mendedikasikan hidupnya untuk mengelola museum Ledalero. Profesinya dikenal sebagai kurator. "Tulis saja saya staf. Kurator itu ada sekolahnya", tutur Om Endi. ***** Museum Ledalero, 17 km selatan Kota Maumere, NTT menyimpan berbagai benda bersejarah dari pulau Flores. Oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Sikka, museum ini ditetapkan sebagai salah satu destinasi pariwisata Sikka.
"Membaca tidak cukup dengan membayangkan. Membaca hingga dapat mencecap (rasa di dalam tulisan)". Begitu kata teman saya pada satu malam di bulan Februari lalu. Saya tidak cukup paham bagaimana sensasi membaca seperti itu, hingga kemudian saya mengecap manisnya artikel ini :)   Di Bawah Bayang-bayang Gunung Ramelau Terima kasih Om Matheos Messakh. Tulisan yang baik sekali.