Langsung ke konten utama

Peramu Nusantara dari Maluku Utara

Teks:Herman Yoseph Ferdy Foto: Valentino Luis

 

Bagi sebagian orang Indonesia, cengkeh tidak lebih dari sekedar bumbu dapur. Namun pernah ada masa di mana cengkeh-dan pala-adalah rempah-rempah yang bernilai setara emas. Ia menjadi dalil kedatangan bangsa asing ke Negeri Timur Jauh.


Bukan sekadar bumbu dapur, cengkeh meracik Nusantara.



Bicara tentang rempah Nusantara bertaut erat dengan sejarah dunia. Jejak rempah bumi pertiwi bisa ditelisik hingga ke masa para Firaun, sekitar 3000 tahun Sebelum Masehi. Pada masa itu pembalseman jenazah raja-raja Mesir menggunakan kapur barus sebagai pengawet dan cengkeh untuk bahan pemanas. Kapur barus atau kamper adalah tanaman endemik dari Barus, kota kecamatan di Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. Sementara cengkeh tanaman asli Kepulauan Maluku.

Pada abad kedua SM, para kaisar Dinasti Han di Cina memberi titah bagi tamu-tamunya untuk menguyah cengkeh. Di masa itu cengkeh digunakan sebagai pengharum mulut. Cengkeh, pala, dan merica pun tetap menjadi komoditas mewah di zaman kekaisaran Romawi.

Bagaimana cengkeh dikenal secara luas bahkan sejak zaman dunia lama? Di sini para pedagang Cina, Arab, dan Hindustan memainkan peranannya. Melalui Jalan Sutera yang legendaris dan juga lewat jalur laut dari Malaka, cengkeh dan komoditas lainnya seperti cendana Timor diperdagangkan. Sebuah teori mengaitkan kata “cengkeh” berasal dari bahasa Cina, “zeng qi a”.

Petualangan cengkeh sebagai barang mewah terus berlanjut hingga abad pertengahan. Penduduk Eropa di abad ke 15 hingga abad ke 18 menggunakan cengkeh dan pala sebagai bahan utama pengawet daging sapi dan domba. Berkat cengkeh, bahan makanan dapat bertahan sepanjang musim dingin.



Pada saat itu harga 1 kilogram cengkeh sama dengan 7 gram emas. Cengkeh pun menjadi penanda status sosial di daratan Eropa yang tak ditumbuhi rempah. Mencampur rempah-rempah pada masakan adalah tanda penghormatan terhadap tamu. Selain manfaat-manfaat tersebut, beragam rempah berkhasiat sebagai obat dan parfum.

Rempah pula yang menjadi alasan kedatangan bangsa Eropa ke Hindia Timur, negeri yang sekarang dikenal sebagai Indonesia. Kejayaan rempah melahirkan penjelajahan-penjelajahan terkenal pada abad pertengahan. Karena rempah, pada tahun 1498 Vasco da Gama berlayar dari Portugis ke Samudera Hindia melalui Tanjung Harapan yang memutari Afrika.

Rempah jua lah yang membuat Columbus bertualang mencari Negeri Timur Jauh. Namun malang baginya, ia malah tersasar dan menemukan benua Amerika. Columbus yang menyangka telah tiba menamai penduduk asli dari tanah yang baru ditemukan itu sebagai Indian.

Penjelajah asing pertama yang datang dari Eropa adalah Franscisco Serrao. Kapal pelaut Portugis itu pertama kali melepas sauh di kepulauan Maluku pada tahun 1512. Ternate, Tidore, Moti, dan Makian, empat daerah asal cengkeh pun di kuasai Portugis.

Selanjutnya datang Spanyol menyusul kemudian Belanda. Ketiga bangsa ini memperebutkan Maluku. Bangsa Belanda pada akhirnya keluar sebagai pemenang. Ini sekaligus menandai periode panjang penjajahan di Nusantara.

Afo, Cengkeh Tertua di Dunia


Belanda mengawali masa monopoli terhadap cengkeh dunia dengan membumihanguskan cengkeh di daerah asalnya, Maloko Kie Raha, Empat Pulau Gunung Maluku. Penanaman cengkeh pun dikonsentrasikan di daerah Ambon dan sekitarnya untuk membatasi akses keluar cengkeh secara ketat.

Namun di lereng Gunung Gamalama, Ternate, satu pokok cengkeh berhasil selamat. Itulah cengkeh Afo. Penamaan Afo memiliki makna “tua” dalam bahasa setempat. Literatur yang lain menyebut kata “Afo” merujuk pada nama keluarga Alfalat, yang berhasil menyelamatkan sebuah pohon cengkeh pada masa pemusnahan itu.

Cengkeh Afo telah hidup selama tiga generasi. Afo pertama, yang lolos dari pemusnahan, hidup selama 416 tahun. Pada 2013, Afo generasi kedua menyusul inangnya setelah berhasil mencapai usia 200 tahun. Bila berkunjung ke Ternate, tepatnya di Kelurahan Tongole sekitar 6 km pusat kota, wisatawan masih dapat menjumpai generasi ketiga dari cengkeh ini.

Manfaat Cengkeh


Di balik kegunaannya sebagai bumbu masakan, cengkeh sejak lama dikenal berkhasiat sebagai obat sakit gigi, menyehatkan jantung, penghangat tubuh, mengatasi pilek, dan menghilangkan bau mulut.

Di daerah asalnya, masyarakat menggunakan cengkeh untuk mengembalikan vitalitas tubuh. Penduduk di pulau Haruku, Maluku, mempunyai tradisi menggunakan uap panas dari rebusan daun cengkeh dan pala untuk mengembalikan keperkasaan perempuan selepas bersalin. Cara ini juga dipakai untuk menyembuhkan malaria.

Cengkeh juga bermanfaat sebagai anti jamur. Di Negeri Kanguru, minyak cengkeh diakui sebagai pencegah timbulnya jamur di permukaan kulit dan perkakas dapur. Minyak cengkeh diburu kala musim hujan tiba. Pembelian pada periode ini biasanya meningkat. Pada Februari 2014 misalnya, toko-toko di Kota Darwin bahkan kehabisan persediaan minyak cengkeh akibat tingginya permintaan masyarakat.

Budidaya Cengkeh di Indonesia


Dari Maluku cengkeh menyebar ke seluruh Nusantara. Saat ini setidaknya 500 ribu hektar lahan di 29 provinsi ditanami cengkeh. Rerata produksi Syzgium aromaticum di Indonesia adalah 110 ribu ton per tahun. Sebetulnya cengkeh bukanlah tanaman yang manja. Tanpa dirawat pun cengkeh tetap tumbuh dan berbunga. Tapi untuk menunjang hasil produksi maksimal, cengkeh tetap perlu perawatan.

Masyarakat Jazirah Leihitu mengenal barbagai jenis cengkeh seperti cengkeh Putih. Jenis cengkeh ini dulu paling diminati para petani cengkeh untuk ditanam dilahan-lahan perkebunan mereka. Kemudian jenis Zanzibar, cengkeh Bogor, cengkeh Raja, dan jenis cengkeh Hutan. Saat ini masyarakat di berbagai daerah di Indonesia lebih memilih menanam varietas cengkeh Bogor. Jenis ini dapat tumbuh dimana saja dan paling cepat membuahkan hasil.

Cengkeh memberi hasil terbaik saat berusia di atas 15 tahun. Tanaman ini berbuah antara dua hingga tiga tahun sekali. Musim panen cengkeh biasanya berkisar dari bulan September sampai November.

Saat tak ada panenan cengkeh, harga di pasaran akan meroket. Karenanya para petani cengkeh biasa menahan sebagian hasil produksinya. Mereka baru melepas cengkeh miliknya pada saat harga di pasaran mencapai posisi tertinggi.

Harga cengkeh mengalami pasang naik dan surut. Saat tak lagi menjadi primadona Eropa pasca ditemukannya kulkas, harga cengkeh merosot dratis. Belakangan ini cengkeh terselamatkan berkat penemuan rokok kretek di akhir abad ke 19.

Petani cengkeh di Indonesia patut berterima kasih pada Haji Djamhari. Pada akhir tahun 1880-an, pria asal Kudus yang menderita asma ini menemukan kegunaan baru cengkeh sebagai ramuan utama rokok. Suatu waktu ia mencampurkan rajangan cengkeh pada tembakaunya. Penyakitnya perlahan sembuh setelah menghisap rokok ini. Dari Haji Djamhari lahirlah salah satu mahakarya Indonesia: rokok kretek.

Sejak tahun 1950-an cengkeh bergantung pada produksi rokok kretek. Industri ini memang membutuhkan cengkeh-dan tembakau-dalam jumlah besar. Tak kurang dari 90% produksi cengkeh nasional diserap untuk membuat kretek. Sisanya digunakan dalam industri kosmetik, kesehatan, dan tentu saja, bumbu dapur.

Beruntung saat ini harga cengkeh kualitas terbaik mencapai Rp 120 ribu/kilo. Para petani dapat bergembira. Tidak seperti tahun 2015 lalu kala harga cengkeh terjun bebas hingga Rp 65 ribu per kilogramnya. Perlu inovasi anak bangsa untuk menciptakan produk lain dari cengkeh sehingga harga cengkeh bisa stabil tiap tahunnya. Apalagi rokok makin menjadi musuh umat manusia dewasa ini. Suatu waktu boleh jadi kretek tinggal menjadi cerita masa lalu.

Peramu Nusantara dari Maluku Utara


Suatu ketika di tahun 1770, seorang Perancis berhasil menyelundupkan mutiara eksotis dari Maluku Utara ini keluar negeri. Cengkeh lalu dikembangkan di Zanzibar, Guyana, dan Brasilia. Periode itu menandai runtuhnya monopoli Belanda atas perdangan cengkeh dunia.

Meskipun begitu Belanda tetap bertahan di Nusantara. Kolonialime ini memicu gelombang perlawanan di berbagai daerah yang berujung pada proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945. Daerah bekas pendudukan Belanda menandai teritori Indonesia saat ini. Menelisik jejak sejarahnya, tak salah kalau menyebut cengkeh sebagai peramu Nusantara dari Maluku Utara.


**Artikel ini ditulis untuk Majalah Pesona Nusantara edisi September-Oktober 2016. Diterbitkan dengan judul Candang Cangkuk Cengkeh.

 




 





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Merenda Masa Depan Generasi Prestasi

Laporan Liputan SMATER Science And English Competition 2016 Antar SMP Se-NT Teks & Foto: HYF Mendung menggelayut di langit Kota Maumere beriring dengan rintik hujan lepas pukul 10.00 WITA, Jumat 18 Maret lalu. Aura kelabu itu kontras dengan suasana di bawah tenda halaman tengah SMATER Maumere. Riuh tepuk tangan ratusan siswa dan guru menggemakan semangat. Hari itu adalah pembukaan “Science And English Competition 2016 Antar SMP se-NTT”.    Seragam aneka warna para siswa SMP dari berbagai daerah di NTT berbaur di bawah tenda di halaman tengah Sekolah Menengah Atas Swasta Katolik Frater (SMATER) Maumere. Putih-Biru dan Safari. Ada juga Batik. Sejak awal panitia telah menyusun aneka piala di sebuah podium di samping panggung utama. Seolah menunjukan kepada setiap kontestan untuk berlomba memenangkan dan membawa pulang sebanyak-banyaknya. Perlombaan ini juga memperebutkan total hadiah Rp 45.000.000,-. Selepas seremoni pembukaan, keriuhan itu usai dan suasana pe...

Endi Paji, Kesetiaan Merawat Sejarah

Sepanjang tiga dekade terakhir, Endi Paji (52 tahun) telah mendedikasikan hidupnya untuk mengelola museum Ledalero. Profesinya dikenal sebagai kurator. "Tulis saja saya staf. Kurator itu ada sekolahnya", tutur Om Endi. ***** Museum Ledalero, 17 km selatan Kota Maumere, NTT menyimpan berbagai benda bersejarah dari pulau Flores. Oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Sikka, museum ini ditetapkan sebagai salah satu destinasi pariwisata Sikka.
"Membaca tidak cukup dengan membayangkan. Membaca hingga dapat mencecap (rasa di dalam tulisan)". Begitu kata teman saya pada satu malam di bulan Februari lalu. Saya tidak cukup paham bagaimana sensasi membaca seperti itu, hingga kemudian saya mengecap manisnya artikel ini :)   Di Bawah Bayang-bayang Gunung Ramelau Terima kasih Om Matheos Messakh. Tulisan yang baik sekali.