Mahasiswa Yang Linglung?
Cerita Kecil Tentang Mahasiswa Masa Kini
Mahasiswa Yang Linglung?
Cerita Kecil Tentang Mahasiswa Masa Kini
Bandar Udara Frans Seda Maumere, NTT, Selasa 13 Oktober 2015 - Saya tengah bersama seorang sahabat, Karaeng 'Ara' Corebima ketika percakapan ini berlangsung. Sambil menunggu jadwal check in untuk penerbangannya, pria paruh baya ini mengutarakan pada saya tentang pertemuannya dengan seorang mahasiswa salah satu universitas di Kota Maumere.
Cerita Ara, "saya kemarin ketemu dengan satu mahasiswa, adik tingkat pada program studi yang sama dengan kamu, Ilmu Komunikasi. Saya tanya dia, 'apa alasan kamu mengambil jurusan itu dan nanti setelah lulus mau jadi apa?' Kemudian saya katakan ke dia, 'banyak orang jadi wartawan dengan belajar otodidak. Banyak juga yang menguasai Teknologi Informasi dan Komunikasi yang juga otodidak. Tidak perlu sekolah khusus untuk bidang ini'. Anak itu kebingungan. 'Tidak tau', hanya itu jawaban dia", pungkas Ara.
![]() |
| Ilustrasi (Sumber: rizza.blog.ugm.ac.id) |
Bandar udara terbesar di Flores ini cukup ramai saat ini. Bangku-bangku terminal separuhnya penuh diduduki calon penumpang dan pengantar. Kami duduk di pojok kiri terminal bandara yang baru dipugar setahun lalu itu. Tampilan bandara sekarang lebih cantik dari pada dulu. Lapang dan bersih.
Seorang satpam--pria yang nampaknya berusia belum 30 tahun, berperawakan sedang--terluhat berjaga di depan gerbang keberangkatan. Dia memasang ekspresi datar, termasuk ketika seorang penumpang WNA melempar seulas senyum saat berpapasan dengannya di depan gerbang tersebut.
Di koridor lainnya dari bandara itu, sopir-sopir airport mengaso di lantai terminal. Mereka tengah menunggu para penumpang tujuan Maumere yang akan tiba tidak lama lagi. Mereka tampak bercengkerama, situasi yang mana berbanding terbalik bila kerumunan penumpang telah keluar dari pintu kedatangan; saling berebut penumpang memasang dengan muka tegang. Ya, orang-orang yang sama yang saat ini sedang bercerita akrab itu.
Kepada Ara saya memberikan pandangan saya bahwa banyak mahasiswa bingung menentukan jurusan ketika masuk dunia kampus. Tidak jarang saya mendapat cerita dari teman-teman mahasiswa yang asal memilih jurusan. Mereka mengambil jurusan kesehatan atau pendidikan guru, contohnya, ya karena mengikut saran orang tua atau kerena saat ini kebutuhan negara akan tenaga kesehatan dan guru begitu tinggi. Akibatnya terjadi penumpukan jumlah pelamar guru dan kesehatan, tidak seimbang dengan jumlah lowongan yang dibuka. Apalagi di NTT ini PNS adalah pekerjaan primadona.
Hemat saya, semestinya semenjak SMP kelas 3, peserta didik sudah dipersiapkan oleh orang tua dan sekolah untuk mengetahui pekerjaan mana yang sesuai dengan kemampuan akademik dan/atau minat-bakat mereka. Peserta didik perlu diarahkan untuk mengetahui ingin menjadi apa mereka nanti. Dengan begitu, saat memasuki pendidikan menengah atas, peserta didik dapat menentukan pilihan dengan sadar; masuk Sekolah Menengah Kejuruan atau Menengah Umum? Memilih jurusan IPA, IPS, atau Bahasa?
| Bandara Frans Seda Maumere (Foto: HYF) |
Ada jeda setelah saya selesai bicara. Ara hendak menanggapi saat kemudian dari speaker yang digantung pada langit-langit terminal menggema suara perempuan dari Bagian Informasi; dia mengumumkan pembukaan jadwal check in untuk penumpang untuk tujuan Kupang.
Ara lalu berdiri, begitu juga saya. Kami menyusur terminal itu sejauh 2 meter sambil mengucap salam perpisahan lalu mengambil jalan menyimpang; Ara menuju gerbang keberangkatan, saya menuju areal parkir untuk selanjutnya kembali ke rumah.
_pelancong
_pelancong

Komentar
Posting Komentar