Mengexplore Sikka Dari "Laboratorium" Pasar Alok
Moffers Photography mendapat kehormatan menjadi tuan rumah untuk para sahabat traverler ini. Komunitas pecinta foto Maumere ini mengusulkan beberapa spot untuk mereka kunjungi pada Selasa (30/9/14); Gereja Tua dan rumah raja Sikka “Lepo Gete” di Kampung Sikka, dan Pantai Koka, Kecamatan Paga.
Tak dinyana Selasa pagi sebelum berangkat ke Kampung Sikka, Mbak adjie dan Bang DJ ingin terlebih dahulu ingin pergi ke pasar. Rupanya mereka berdua tertarik untuk menyaksikan interaksi masyarakat lokal, dan pasar adalah “laboratorium” yang tepat. Tentu sebagai tuan rumah yang baik, beberapa anggota Moffers yang ikut sebagai guide dadakan dengan senang hati mengantar mereka kesana. Pilihan pasar jatuh ke Pasar Alok, pasar Kabupaten Sikka.
| Mbak Adjie memotret babi |
Tak ketinggalan mereka memotret hewan – hewan lainnya seperti babi dan anjing yang diikat ke dua kaki dan tangan di belakang punggung, tak berdaya dan digeletakkan begitu saja di tanah, beratapkan terik mentari.
Saat mereka dengan sangat tertarik memotret dan menanyakan harga hewan, saya justru menunjukkan ketertarikan yang besar kepada alasan apa mereka ingin melakukan ini. Bagi saya yang lahir dan besar di Maumere, ini hal yang lumrah dan tidak ada yang istimewa. Mbak Adjie menjawab saya dengan, “di Jakarta tidak ada pasar babi”.
| Bang DJ memotret sampah |
| Bang DJ mengamati apa yang terjadi disini? |
| Transaksi sarung Mbak Adjie dan Bang DJ |
Seperti halnya para treveler ini yang menemukan dan mempelajari hal baru, saya juga menemukan dan mempelajari hal baru selama 2 jam menemani pelancongan mereka di Pasar Alok. Mengamati Bang DJ memotret sampah bertumpuk dan berserakan di sekeliling bak sampah yang kosong, saya mempelajari bahwa Bang DJ sedang merekam kebiasaan orang – orang Maumere yang suka buang sampah sembarangan, bahkan di sekitar tempat sampah.
| Mbak Adjie dan ibu penjual sarung |
Namun saya juga belajar hal baik lainnya tentang kota ini saat Mbak Adjie dan Bang DJ berbelanja kain tenun dan berinterkasi dengan penjualnya, seorang ibu usia paruh baya berbaju merah pupus dan bersarungkan utan (kain tenun untuk perempuan). Ada wajah ramah dan senyum sumringah yang wanita itu tunjukkan selama dua traveler ini berbelanja. Ya, warga kota ini masih punya sisi ramah. Yang saya tahu, seberapa banyak juga seberapa besar orang di Kota Debu ini yang ramah dan berperilaku ramah terhadap alam dan seisinya.
Buat Bang DJ Mbak Adjie, terima kasih untuk kesempatan bersua.
Sampai ketemu saat kita kembali berjumpa!
_pelancong
Komentar
Posting Komentar