Langsung ke konten utama




 Mengexplore Sikka Dari "Laboratorium" Pasar Alok

 

 

Selepas Festival Adventure Indonesia 2014 di Lamalera, Kabupaten Lembata pada 24 – 29 September lalu, beberapa orang traveler yang ikut dalam festival itu menyempatkan untuk mengunjungi Kota Maumere, Kabupaten Sikka. Dua diantaranya adalah Bang DJ dan Mbak Adjie. Kata mereka, “ingin explore (Kabupaten) Sikka”, selanjutnya mereka akan ke Kota Ende dan kembali ke kota tempat mereka tinggal.

Moffers Photography mendapat kehormatan menjadi tuan rumah untuk para sahabat traverler ini. Komunitas pecinta foto Maumere ini mengusulkan beberapa spot untuk mereka kunjungi pada Selasa (30/9/14); Gereja Tua dan rumah raja Sikka “Lepo Gete” di Kampung Sikka, dan Pantai Koka, Kecamatan Paga.

Tak dinyana Selasa pagi sebelum berangkat ke Kampung Sikka, Mbak adjie dan Bang DJ ingin terlebih dahulu ingin pergi ke pasar. Rupanya mereka berdua tertarik untuk menyaksikan interaksi masyarakat lokal, dan pasar adalah “laboratorium” yang tepat. Tentu sebagai tuan rumah yang baik, beberapa anggota Moffers yang ikut sebagai guide dadakan dengan senang hati mengantar mereka kesana. Pilihan pasar jatuh ke Pasar Alok, pasar Kabupaten Sikka.



Mbak Adjie memotret babi
Selama di Pasar Alok, Bang DJ dan Mbak Adjie dengan antusias malang melintang ke penjuru pasar; memotret kuda – kuda yang diikat serampangan, para penjual dan pembeli yang sebagian menatap mereka dengan heran, sebagian lainnya menunjukkan pandangan menelisik mungkin bertanya – tanya siapa mereka dan untuk apa memotret, sebagian lainnya tersenyum ke arah mereka dan kamera, berharap untuk dipotret (sepertinya).

Tak ketinggalan mereka memotret hewan – hewan lainnya seperti babi dan anjing yang diikat ke dua kaki dan tangan di belakang punggung, tak berdaya dan digeletakkan begitu saja di tanah, beratapkan terik mentari.

Saat mereka dengan sangat tertarik memotret dan menanyakan harga hewan, saya justru menunjukkan ketertarikan yang besar kepada alasan apa mereka ingin melakukan ini. Bagi saya yang lahir dan besar di Maumere, ini hal yang lumrah dan tidak ada yang istimewa. Mbak Adjie menjawab saya dengan, “di Jakarta tidak ada pasar babi”.

Bang DJ memotret sampah

Bang DJ mengamati apa yang terjadi disini?

Transaksi sarung Mbak Adjie dan Bang DJ
Ya! Manusia dimana saja ternyata punya beberapa sifat yang sama, setidaknya satu sifat ini sama; keingintahuan terhadap hal baru. Benar, bagi Mbak adjie yang tinggal di Jakarta atau Bang DJ yang tinggal di Jogja, pasar lokal dengan dagangan seperti yang mereka amati di Pasar Alok Maumere tidak mereka jumpai di kota mereka. Itulah sumber ketertarikan dan keingintahuan mereka; hal – hal ini tidak menjadi pola hidup orang – orang di tempat mereka berasal.

Seperti halnya para treveler ini yang menemukan dan mempelajari hal baru, saya juga menemukan dan mempelajari hal baru selama 2 jam menemani pelancongan mereka di Pasar Alok. Mengamati Bang DJ memotret sampah bertumpuk dan berserakan di sekeliling bak sampah yang kosong, saya mempelajari bahwa Bang DJ sedang merekam kebiasaan orang – orang Maumere yang suka buang sampah sembarangan, bahkan di sekitar tempat sampah.

Mbak Adjie dan ibu penjual sarung
Mengamati Mbak Adjie memotret babi – babi hidup yang didagangkan dibawah terik mentari dengan kaki dan tangan terikat di belakang punggung, tergeletak berjejeran di tanah saya belajar bahwa orang Maumere (Kabupaten Sikka) belum cukup manusiawi memperlakukan hewan ternak yang boleh jadi mereka telah rawat bertahun – tahun sebelum di jual di pasar. Sempat terpikir, semoga para hewan dagangan ini tidak memandang perilaku para penjual dan pembeli terhadap mereka sebagai perilaku yang “hewani”.

Namun saya juga belajar hal baik lainnya tentang kota ini saat Mbak Adjie dan Bang DJ berbelanja kain tenun dan berinterkasi dengan penjualnya, seorang ibu usia paruh baya berbaju merah pupus dan bersarungkan utan (kain tenun untuk perempuan). Ada wajah ramah dan senyum sumringah yang wanita itu tunjukkan selama dua traveler ini berbelanja. Ya, warga kota ini masih punya sisi ramah. Yang saya tahu, seberapa banyak juga seberapa besar orang di Kota Debu ini yang ramah dan berperilaku ramah terhadap alam dan seisinya.


Buat Bang DJ Mbak Adjie, terima kasih untuk kesempatan bersua.
Sampai ketemu saat kita kembali berjumpa!

_pelancong


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Merenda Masa Depan Generasi Prestasi

Laporan Liputan SMATER Science And English Competition 2016 Antar SMP Se-NT Teks & Foto: HYF Mendung menggelayut di langit Kota Maumere beriring dengan rintik hujan lepas pukul 10.00 WITA, Jumat 18 Maret lalu. Aura kelabu itu kontras dengan suasana di bawah tenda halaman tengah SMATER Maumere. Riuh tepuk tangan ratusan siswa dan guru menggemakan semangat. Hari itu adalah pembukaan “Science And English Competition 2016 Antar SMP se-NTT”.    Seragam aneka warna para siswa SMP dari berbagai daerah di NTT berbaur di bawah tenda di halaman tengah Sekolah Menengah Atas Swasta Katolik Frater (SMATER) Maumere. Putih-Biru dan Safari. Ada juga Batik. Sejak awal panitia telah menyusun aneka piala di sebuah podium di samping panggung utama. Seolah menunjukan kepada setiap kontestan untuk berlomba memenangkan dan membawa pulang sebanyak-banyaknya. Perlombaan ini juga memperebutkan total hadiah Rp 45.000.000,-. Selepas seremoni pembukaan, keriuhan itu usai dan suasana pe...

Endi Paji, Kesetiaan Merawat Sejarah

Sepanjang tiga dekade terakhir, Endi Paji (52 tahun) telah mendedikasikan hidupnya untuk mengelola museum Ledalero. Profesinya dikenal sebagai kurator. "Tulis saja saya staf. Kurator itu ada sekolahnya", tutur Om Endi. ***** Museum Ledalero, 17 km selatan Kota Maumere, NTT menyimpan berbagai benda bersejarah dari pulau Flores. Oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Sikka, museum ini ditetapkan sebagai salah satu destinasi pariwisata Sikka.
"Membaca tidak cukup dengan membayangkan. Membaca hingga dapat mencecap (rasa di dalam tulisan)". Begitu kata teman saya pada satu malam di bulan Februari lalu. Saya tidak cukup paham bagaimana sensasi membaca seperti itu, hingga kemudian saya mengecap manisnya artikel ini :)   Di Bawah Bayang-bayang Gunung Ramelau Terima kasih Om Matheos Messakh. Tulisan yang baik sekali.